Bikin Replika Prasasti Kancana, Hari Jadi Pagesangan Resmi 31 Oktober

Penulis: TP Wijoyo

Pembuatan replika Prasasti Kancana (Bungur Lor) menjadi simbol Hari Jadi Pagesangan, Surabaya, yang dirayakan setiap 31 Oktober. Penetapan hari jadi serta pembuatan replika tersebut tak lepas dari kerja sama apik antara Komunitas Begandring dengan pihak Kelurahan Pagesangan, sesepuh dan tokoh masyarakat, maupun warga setempat.

TP Wijoyo (tengah) foto memegang replika Prasasti Kancana berbahan dasar kuningan bersama Yudi Kurniawan (kiri), Lurah Pagesangan dan Ahmad Dliya Ulhaq (kanan), Ketua LPMK Pagesangan). Foto: TP Wijoyo

Setelah menggelar acara Jagong Budaya penetapan “Hari Jadi Pagesangan” yang diadakan di Pendopo Kelurahan Pagesangan pada 18 November 2023 lalu, warga dan tokoh masyarakat Pagesangan sepakat menggunakan “Prasasti Kancana” yang berangka tahun 782 saka (860 M) sebagai dasar sekaligus rujukan hari jadi Kampung Pagesangan.

Prasasti Kancana (Bungur Lor) merupakan sebuah “Tamra Prasasti” (prasasti lempeng tembaga) yang dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi (Raja Medang / Mataram Kuno) dan ditinulad pada masa Majapahit, masa pemerintahan raja Dyah Hayam Wuruk pada tahun 1295 saka (1373 M).

Prasasti Kancana pertama kali ditemukan di wilayah Gedangan, Sidoarjo pada masa kolonial Belanda. Kini, keberadaan Prasasti Kancana tersimpan di Museum Rijk Voor Volkenkunde Leiden, Belanda.

Adapun isi prasasti Kancana adalah penganugerahan status “sima” kepada Desa Bungur Lor. Di dalam prasasti tersebut menyebut “wanua tepi siring” atau desa sekitar yang diundang saat penganugerahan sima di Desa Bungur Lor.

Desa-desa sekitar yang diundang antara lain: Kuryyak, yang kini secara toponim menjadi Kureksari; Wagai, yang kini secara toponim menjadi Wage; Gesang, yang kini secara toponim menjadi Pagesangan; Pacekan, yang pada peta lama tahun 1915 masih ada, namun kini sudah hilang menjadi Lumumbang dan Ngagel Tirto; Wurungkud, yang kini secara toponim menjadi Rungkut. Dan beberapa toponim lainnya yang hingga kini masih dijumpai di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Baca Juga  Jalan Bubutan Saksi Bisu Sejarah Pergerakan Nasional di Surabaya

Bagian plat IX b, Prasasti Kancana menyebut “….i gesang buyut karwabanu winkas si sega lalab…”.

Yang diartikan tetua/tokoh dari Gesang yang ikut hadir sebagai saksi pada pemberian anugerah sima di Bungur Lor.

Temuan batu bata merah diduga kuno sebagai bukti fisik peradaban masa lalu di Pagesangan. Foto: TP Wijoyo

Berdasarkan rujukan Prasasti Kancana tersebut, Kelurahan Pagesangan melalui LPMK dan tokoh masyarakat membuat duplikat/replika dari Prasasti Kancana dari bahan kuningan.  Rencananya, duplikat/replika kuningan prasasti itu akan dipasang di Kantor Kelurahan Pagesangan, beserta temuan artefak bata-bata kuno berukuran besar yang ditemukan di area makam umum Pagesangan. Tujuannya tentu saja sebagai edukasi kepada warga perihal sejarah kawasan tersebut.

Dengan mengetahui riwayat kawasan tempat tinggal, rasa memiliki serta kebanggaan otomatis ikut tumbuh. Secara simbolis, hal ini juga menandakan potensi penelusuran sejarah di kampung-kampung di Surabaya sesungguhnya amat mungkin dilakukan, serta dapat dikemas dalam event kebudayaan yang bermakna.

Perlu diketahui bahwa eksistensi Pagesangan sebagai kampung kuno terekam dalam lima prasasti dengan berbeda masa, antara lain :

  1. Prasasti Kancana (860 M)
  2. Prasasti Kakurugan (1023 M)
  3. Prasasti Canggu (1358 M)
  4. Prasasti Selamandi (1394 M)
  5. Prasasti Patapan II (1418 M)

Berdasarkan lima prasasti di atas, bisa disimpulkan bahwa kawasan Pagesangan Surabaya yang dulu bernama “Gesang” sudah ada pada abad 9 hingga abad 15, yang terekam dalam Prasasti Kancana sebagai sumber tertua di antara prasasti lainnya (*).

 

*TP Wijoyo. Pegiat Sejarah di Komunitas Begandring Soerabaia, spesialisasi pada bidang sejarah era klasik.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Anthony Yulius
5 months ago

Sukses terus masku ( Pak Lurah )

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x