HUT Majapahit dan Sisa Peradaban di Surabaya

Kemeriahan HUT Majapahit di Bejijong. foto: begandring

  • Tanggal Terbit : 12/11/2022
  • Kategori : Features

729 tahun yang lalu atau pada 1293 M kerajaan Majapahit berdiri, yang secara resmi ditandai dengan penobatan Raden Wijaya, raja pertama pada 12 November 1293, berdasarkan penanggalan lokal, tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka.

Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur dan ada  mulai 1293 hingga 1527 M. Majapahit mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya dengan menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350–1389 M.

Pada periode ketahtaan sebelumnya, ketika Majapahit di bawah kekuasaan Sri Gitarja atau Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350 M), Majapahit telah berhasil menyatukan Nusantara melalui Sumpah Amukti Palapa oleh Maha Patih Gajah Mada pada 1334 M. Suksesor Hayam Wuruk semakin mempertegas wilayah Majapahit di Nusantara.

Di Jawa misalnya, Ia anjang sana ke berbagai tempat dan mencatat tempat tempat yang dianggap penting karena kontribusinya kepada kerajaan maupun kepada masyarakat. Catatan penting itu berbentuk prasasti yang bernama Prasasti Canggu (1358) karena prasasti itu diketemukan di desa Canggu, kabupaten Mojokerto.

Prasasti Canggu adalah piagam kerajaan yang dikeluarkan pada masa raja Hayam Wuruk. Prasasti Canggu ini berisi tentang peningkatan status desa-desa penyeberangan di seluruh Mandala Jawa (Bengawan Brantas dan Bengawan Wulayu atau Solo) dan aturan-aturan yang ditetapkan berkenaan dengan aktivitas penyeberangan yang dilakukan.

Adapun isi dari prasasti Canggu, sebagaimana dikutip dari literasi Wikipedia, adalah penggambaran bahwa Canggu merupakan nama suatu desa penyeberangan (naditira pradeca). Panji Marggabhaya disebutkan sebagai petugas penyeberangan atau lebih tepat disebut sebagai pengelola pelabuhan Canggu.

Berikut pertulisan pada prasasti Canggu:

“….. makādi mahādwija. I pingsornyājñā pāduka çri mahārāja. Kumonakěn ikanang anambangi sayawadwipamandala. Makādi pañji marggabhaya. Makasikasir ajaran rata. Sthatita. Munggwi canggu pagawayakna sang hyang ājñāhaji praçasti. Rājasanagaralañcana. Munggwe salah sikining tāmra. Riptopala. Kapangkwa denikang anāmbingi sayawadwipamandala..     ”

Terjemahan dari isi pertulisan itu  adalah bahwa Raja memerintahkan kepada para pegawai rendah, supaya segala orang disegenap mandala Pulau Jawa diseberangkan, terutama sekali kepada Panji Marggabhaya yang bertempat tinggal di Canggu. Ia harus melaksanakan pertulisan perintah Raja yang berbentuk piagam perunggu bertanda lencana Rajasanegara. Pertulisan ini tertanda tahun 1358.

Selain diberitakan dalam prasasti Canggu (1358), anjang sana Hayam  Wuruk ke Surabaya juga diberitakan dalam buku Negara Kertagama, dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir), yang ditulis Mpu Prapanca yang mengisahkan perjalanan pesiar Baginda Hayam Wuruk pada tahun 1365.

foto: begandring

 

Surabaya Tertulis Curabhaya

Nama Surabaya tercatat dalam prasasti Canggu yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan jika ditranskrip, tertulis “Curabhaya”.

Curabhaya adalah sebuah desa ditepian sungai (naditira pradeca) yang letaknya di posisi paling hilir di Bemgawan Brantas. Total ada sekitar 40-an naditira pradeca yang berdiri di tepian Bengawan Brantas dan Bemgawan Solo.

Di wilayah administrasi kota Surabaya sekarang, terdapat 3 nama naditira pradeca. Secara berurutan sesuai aliran sungai dari selatan (hulu) ke utara (hilir), tersebut i Gsang (=Pagesangan), i Bkul (=Bungkul) dan i Curabhaya (=Surabaya).

Penulisan nama Curabhaya (Surabaya) untuk kali pertama ditemukan pada prasasti Canggu (1358 M). Diketahui, letak Curabhaya berada di bagian sungai yang paling hilir (dekat muara). Posisinya di utara Bkul (Bungkul).

Jika sekarang kita tau dimanakah letak Bungkul: di kelurahan Darmo, Kec. Wonokromo, maka letak Curabhaya yang berada di aliran sungai bisa diidentifikasi.

GH Von Faber dalam buku “Er Werd Een Stad Geboren “ (1953) mengilustrasi kan letak Surabaya yang sudah mulai ada pada 1275. Letaknya di kawasan delta di antara dua sungai (Kalimas dan Pegirian), yang meliputi Pandean, Peneleh, Pengampon.

Berdasarkan satu satunya temuan benda arkeologi berupa sumur Jobong (2018) di kampung Pandean-Peneleh, maka temuan langka ini menjadi petunjuk telah adanya peradaban manusia di kawasan delta Sungai. Tidak hanya benda kuno berupa sumur Jobong, di sekitar dan di dalam sumur juga ditemukan fragmentasi tulang tulang manusia, binatang, gerabah terakota dan batu bata kuna.

Berdasarkan uji karbon pada fragmentasi tulang manusia yang dilakukan di Australian National University di kota Canberra, diketahui bahwa kematian tertua manusia Pandean adalah tahun 1430.

Menurut seorang Paleopatholog dan Paleoantroplog Universitas Airlangga, Delta Bayu Murti, S. Sos., M.A yang turut meneliti temuan arkeologi di Pandean bahwa jika sumur Jobong selain digunakan sebagai sumber air, tapi juga sebagai sarana ritual kematian, maka ketika tulang tulang manusia dari kematiannya pada 1430 diletakkan pada Sumur Jobong, logikanya Sumur Jobong sudah ada sebelum 1430.

Bayu menambahkan bahwa temuan sumur Jobong dan fragmentasi tulang tulang manusia telah menunjukkan bahwa sudah ada peradaban manusia di kawasan delta Pandean Peneleh di pertengahan abad 15 dan bahkan sebelum abad 15.

Selain itu catatan juru tulis Cheng Ho, Ma Huan, sebagaimana ditulis oleh M.C. Ricklefs dalam bukunya “Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries” yang dipublikasikan Eastbridge pada tahun 2006, mengatakan bahwa Ma Huan untuk pertama kali mengunjungi pesisir utara Pulau Jawa sekitar tahun 1413-1415 Masehi.

Ma Huan adalah anggota Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming, yang melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah. Ma Huan bersama Cheng Ho kembali mengunjungi Pulau Jawa pada tahun 1432 Masehi.

Di pulau Jawa, mereka mengunjungi Majapahit dengan rute pelabuhan Tuban, Gresik, Surabaya (jalur laut), kemudian dari Surabaya menuju Majalahit melalui jalur sungai (Surabaya-Canggu) dan jalur darat (Canggu-Trowulan sebagai ibukota Majapahit).

Ketika dari laut sebelum menuju Trowulan, mereka singgah di Surabaya, maka peta rute perjalanan ini menegaskan bahwa Surabaya berada di hilir sungai. Rute perjalanan (1432) yang menggambarkan posisi Surabaya ini relevan dengan isi prasasti Canggu (1358). Kemudian di tahun 1430 diidentifikasi ada kematian di kawasan Curabhaya.

Dari data historis baik yang berbentuk kepustakaan (literasi), prasasti dan arkeologi, maka letak Curabhaya berada di kawasan Delta antara Kalimas dan Pegirian. Desa tepian sungai (naditira pradeca) Curabhaya inilah yang menjadi cikal bakal kota Surabaya sekarang.

foto: begandring

 

Pelestarian Jejak Peradaban Matitim  

Dari kisah sejarah berdasarkan sumber sumber di atas (literasi, prasasti dan arjeologi), maka ada peradaban Majapahit yang masih diidentifikasi hingga sekarang. Yaitu peradaban Maritim berupa jasa tambangan (penyeberangan sungai) dan sumur Jobong sebagai bagian dari kebutuhan domestik manusia kala itu, baik sebagai sumber air maupun sebagai bagian dari ritual keagamaan maupun kematian.

Di sungai sungai di Surabaya, seperti Kalimas dan Kali Surabaya, masih ditemui jasa tambangan. Ada beberapa jasa tambangan di Kali Surabaya dan satu jasa tambangan di Kalimas. Jasa tambangan ini masih fungsional menyeberangkan warga dari satu tepian sungai ke twpian lainnya.

Tambangan di Surabaya seharusnya tidak dipandang sebagai sarana transportasi dan perhubungan belaka, tapi lebih dari itu sebagai bukti masih adanya peradaban maritim Majapahit di Surabaya. Tambangan bisa menjadi sarana edukasi sejarah yang kalau diperhatikan dan dikelola dengan baik bisa menjadi sarana dan obyek ilmu pengetahuannya, penelitian, kebudayaan dan pariwisata yang berujung pada ekonomi kreatif.

Misalnya di post tambangan bisa dibuat taman edukasi yang dilengkapi dengan sarana kuliner. Selanjutnya warga tidak hanya menyeberang, tapi bisa belajar dari keberadaan tambangan.

Pun demikian dengan teridentifikasi nya asal mula Surabaya yang selanjutnya kawasan tersebut bisa dikembangkan sebagai kampung wisata asal mula Surabaya. Dengan demikian sejarah kehadiran Majapahit di Surabaya dapat terus dirasakan sekarang dan mendatang. (*)

Ditulis Oleh : Nanang Purwono

Terkait Features