Soera ing Baja, Gemuruh Revolusi ‘45

Salah satu scene Soera ing Baja.

  • Tanggal Terbit : 10/11/2022
  • Kategori : Features

Film dokumenter Soera ing Baja, Gemuruh Revolusi ’45 tengah diproduksi secara kolaboratif oleh TVRI Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, Komunitas Begandring Soarabaia, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga.

Film ini diproduksi untuk memaknai keberanian Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berbalut dalam gemuruhnya revolusi.

Soera ing Baja sendiri adalah bentuk frasa (kumpulan kata) sifat, yang secara harfiah berarti berani. Soera ing Baja adalah berani, yang dalam ekspresi kekinian menjadi Surabaya Wani.

Soera ing Baja adalah berani (lokal: wani). Soera ing Baja sebetulnya sudah lama menjadi sesanti Kota Surabaya. Jika negara Indonesia memiliki sesanti Bhineka Tunggal Ika, Provinsi Jawa Timur memiliki sesanti Jer Basuki Mawa Bea, maka Surabaya memiliki sesanti Soera ing Baja.

Sayang, sesanti Soera ing Baja ini tertanggalkan dari lambang kota Surabaya yang bergambar ikan hiu dan buaya. Padahal nama Surabaya bukanlah Soera ing Baja dan juga bukan hiu dan buaya. Masing-masing adalah berdiri sendiri dan berasal dari sumber yang berbeda tetapi ketiganya saling mendukung dan melengkapi sehingga menjadi Tri Tunggal.

Surabaya adalah nama sebuah kota, yang bermula dari nama sebuah desa kecil di tepian sungai (naditira pradeca) yang bernama Curabhaya. Ini sesuai Prasasti Canggu yang dibuat Raja Hayam Wuruk (Majapahit) pada 1358 M.

Sementara Soera ing Baja adalah sifat manusia yang dimiliki oleh orang orang yang tinggal di Surabaya, mulai dari masih sebuah desa hingga sekarang menjadi kota. Diharapkan sifat berani ini masih menjadi sifat orang-orang Surabaya sampai masa mendatang.

Sekarang secara harfiah Soera ing Baja ini bertransformasi menjadi Wani. Maka sering kita mendengar pekik Surabaya Wani. Jadi, Kota Surabaya memiliki sifat Soera ing Baja atau berani atau wani.

Sedangkan ikan hiu dan buaya adalah lambang kota. Dipilihnya gambar hiu dan buaya, yang mulai ada sejak era kolonial, adalah karena alasan kondisi alam Surabaya yang terdiri dari perairan (laut) dan daratan (termasuk sungai sungainya).

Dua alam, laut dan darat ini, disimbolkan sengan penguasa laut berupa ikan hiu dan penguasa darat termasuk sungai-sungai yang mengalirinya berupa buaya. Buaya adalah binatang yang bisa hidup di darat dan di air (sungai).

Karenanya lambang Kota Surabaya adalah ikan hiu dan buaya dengan sifat Soera ing Baja alias berani. Jadi Surabaya adalah nama kota. Soera ing Baja adalah sifat berani. Hiu dan buaya adalah lambang Kota Surabaya.

Dengan demikian hiu dan buaya bukanlah (ikan) Sura dan (buaya) Baya. Tidak ada ikan yang bernama Sura.

Selama ini kita menggeneralisasi bahwa Surabaya adalah Soera ing Baja dan Hiu-Buaya (Sura-Baya). Akibatnya, tidak ada lagi sesanti yang tersematkan pada lambang Kota Surabaya.

Melalui film Soera ing Baja, Gemuruh Revolusi ’45 kita diingatkan pada sifat orang orang Surabaya yang berani menghadapi Sekutu demi mempertahankan kemerdekaan.

Film berdurasi 60 menit ini memang menggambarkan betapa mereka berani melawan tentara yang piawai dalam perang Dunia ke dua (PD II). Orang orang Surabaya tidak takut, tidak gentar, tidak takut mati. Mereka bersemboyan Merdeka atau Mati, Lebih baik mati daripada dijajah kembali, Lebih baik berkalang tanah daripada berputih mata (malu).

Ternyata orang orang Surabaya tidak dapat diremehkan begitu saja oleh tentara Sekutu yang telah berpengalaman dalam perang Dunia. Sekutu kaget dan bahkan takut karena merasa masuk dalam neraka. Surabaya bagai Inferno!!!

Semangat berani inilah yang ingin disampaikan melalui produk film ini. Menyadari betapa banyaknya fakta sejarah yang terhampar di Surabaya, yang tidak hanya berlatar kepahlawanan, tapi juga berlatar peradaban manusia mulai era klasik.

Kenyataan itu kemudian membuat Pemerintah Kota Surabaya bersama TVRI Jatim, Begandring Soerabaia dan FIB Unair berkomitmen menggali sejarah dan dikemas dalam bentuk film, yang kemudian digunakan sebagai bahan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat Surabaya, utamanya pelajaran pelajaran sekolah di Surabaya.

Film Soera ing Baja ini 100 persen diperankan oleh arek arek Surabaya dari bebagai komunitas sejarah serta wali kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang memerankan tokoh Presiden Indonesia pertama, Soekarno. Film ini menambah khasanah pendokumentasian dan kepustakaan sejarah kota Surabaya.

Menurut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bahwa film Soera ing Baja, Gemuruh Revolusi ’45 akan diputar di seluruh museum dan semua sekolah di Surabaya. (*)

 

Ditulis Oleh : Nanang Purwono

Terkait Features