Prof. Dr Jan v/d Putten Dari Jerman Datang Ke ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ Surabaya Demi ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍Aksara Jawa.  

Begandring.com: Surabaya (16/9/23) – Aksara Jawa (kuna dan baru), peninggalan leluhur, di masanya sungguh luar biasa. Isinya banyak menyimpan nilai nilai mulia sebagai pegangan hidup manusia. Wujudnya tertuang pada kitab kitab dan ꧌ꦥꦿꦱꦱ꧀ꦠꦶ꧍ prasasti. Hingga kini, buktinya masih ada dan nyata. 

Potongan sebuah tabloid beraksara Jawa. Foto: Begandring.

Kini bukti bukti itu menjadi benda asing bagi masyarakat. Ada jarak, yang cukup lebar dan bahkan terlalu lebar, antara benda benda itu dengan segala isinya yang tersurat dengan masyarakat sekarang. Hanya orang orang tertentu saja yang masih akrab dengan peninggalan ꧌ꦊꦭꦸꦲꦸꦂ꧍ leluhur.

Aksara leluhur ini terbenam oleh ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦺꦴꦩꦮꦶ꧍ Aksara Romawi yang mulai berkembang dan dipakai pada abad 19. Di sekolah sekolah pada era kolonial mulai menggunakan aksara Romawi dan menggantikan Aksara leluhur, yang umum digunakan di sekolah maupun pengajaran pengajaran lokal sebelumnya. Demikian kata Professor Dr Jan van der Putten, Principal Investigator ‘DREAMSEA’, ahli Ilmu Indonesia and Malayu dalam jagongan budaya di tepian ꧌ꦱꦸꦔꦻꦏꦭꦶꦩꦱ꧀꧍ Sungai Kalimas pada Jumat malam, 15 September 2023.

Prof. Jan mendengarkan penjelasan A.H. Thony tentang upaya memperkenalkan kembali Aksara Jawa di Surabaya. Foto: nng/Begandring.

Singkatnya Professor Dr Jan van der Putten adalah ꧌ꦄꦃꦭꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ahli aksara Jawa dan Sunda dari Universität Hamburg, Jerman. Kedatangan Jan ke ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍Surabaya ini bertepatan dalam bulan aksara internasional yang diperingati pada 8 September 2022. Sebelumnya, di Surabaya dalam rangkaian ꧌ꦲꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦆꦤ꧀ꦠꦼꦂꦤꦾꦺꦴꦤꦭ꧀꧍ hari Aksara Internasional itu telah dibahas bersama perwakilan negara sahabat dari Jepang dan Jerman dalam upaya pemajuan Aksara, khususnya Jawa.

Dalam jagongan budaya sambil ꧌ꦔꦺꦴꦥꦶ꧍ ngopi pada Jumat, 16 September 2023, hadir tokoh penggerak budaya ꧌ꦄ\ ꦲꦺꦂꦩꦱ꧀ꦛꦺꦴꦤꦶ꧍ A. Hermas Thony dan tim Begandring yang terdiri dari Kukuh Yudha Karnanta dan ꧌ꦪꦪꦤ꧀ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦪꦤ꧍ Yayan Indrayana.

Baca Juga  Nobar Film Koesno Dihadiri Ratusan Warga Surabaya

Bagi Jan ꧌꧌ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ꧍ kota Surabaya adalah kota yang sangat multikultural dan indah. Sifat multikultural ini sudah ada sejak lama. Terbukti bahwa di era kolonial kota Surabaya sudah memiliki perkampungan etnis mulai dari Kampung Eropa, ꧌ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦥꦼꦕꦶꦤꦤ꧀ Kampung Pecinan, Kampung Melayu, Kampung Arab dan tentunya Kampung Bumi Putera. Karena keragaman yang menjadi keunikan inilah, Prof Jan datang ke Surabaya

Ngopi dan jagong budaya digemari Prof. Jan van der Putten. Foto: nng/Begandring.

Ketika di Surabaya didengar kabar tentang akan digunakannya ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ Aksara Jawa untuk penulisan nama nama kantor dan dinas di lingkungan pemerintah kota Surabaya. Jan sangat antusias. Baginya produk leluhur Jawa, yang selama ini menjadi subyek penelitian, kajian dan sebagai bahan ajar, adalah subyek yang tidak henti hentinya menarik perhatiannya.

꧌ꦣꦶꦗꦺꦂꦩꦤ꧀꧍ Di Jerman, Prof. Jan mengajarkan Aksara Jawa di Universität Hamburg. Menurutnya aksara Jawa, yang di era moderen hanya menjadi konten konten seminar dan diskusi, harus ada aktualisasi nya sebagai bentuk perlindungan oleh masyarakat nya sendiri.

Ketika pemerintah kota Surabaya akan menggunakan Aksara Jawa untuk menamai kantor dan dinas di lingkungannya, menurutnya ini terobosan yang luar biasa. Tentu kehadirannya, yang akan dapat dilihat mata dan dibaca secara umum di tengah tengah masyarakat, akan menjadi langkah kongkrit membumikan ꧌ꦥꦼꦤꦶꦁꦒꦭꦤ꧀ꦊꦭꦸꦲꦸꦂ꧍ peninggalan leluhur di buminya.

꧌ꦥꦿꦺꦴꦥ꦳꧀\ ꦪꦥ꧀꧍ Prof. Jan prihatin jika peninggalan leluhur Jawa ini terkubur oleh hadirnya budaya budaya asing. Kebijakan walikota Surabaya mengenai penggunaan ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ Aksara Jawa patut mendapat apresiasi. Kebijakan ini bagaikan pintu gerbang untuk melihat kekayaan lainnya di Surabaya dan bahkan di Jawa Timur.

Kolaborasi itu di bangun untuk menjadi sister city antara Surabaya dn Hamburg. Foto: Begandring.

Menurut Jan, ꧌ꦗꦮꦠꦶꦩꦸꦂ꧍Jawa Timur ini kaya akan hasil karya literasi berupa Aksara. Yaitu aksara Jawa Kuna atau yang umum disebut Bahasa Kawi.

Baca Juga  Reaktualisasi Nilai Kejuangan dari GNI

“Bahasa dan ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦏꦮꦶ꧍ Aksara Kawi itu bukti peradaban kerajaan Majapahit dan termasuk kerajaan kerajaan sebelumnya yang ada di Jawa Timur”, kata Jan yang sudah fasih berbicara ꧌ꦧꦲꦱꦆꦤ꧀ꦣꦺꦴꦤꦺꦱꦾ꧍ bahasa Indonesia.

Jika pemasyarakatan aksara Jawa (baru) sudah diawali dari Surabaya, maka daerah daerah lain di Jawa Timur seyogyanya bisa bergerak bersama seperti di Surabaya. Dari aksara Jawa, tentu setapak demi setapak akan memperkenalkan aksara Kawi yang menjadi aksara yang umum digunakan di Jawa Timur sampai era ꧌ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀꧍ Majapahit di abad 15.

Seiring dengan upaya sosialisasi aksara Kawi melalui pintu pemasyarakatan aksara Jawa di Surabaya, sudah saatnya ꧌ꦏꦺꦴꦩꦸꦤꦶꦠꦱ꧀꧍ komunitas pemerhati dan pelestari aksara Kawi bergandengan tangan menelurkan usulan kepada propinsi Jawa Timur untuk mengampu aksara Kawi.

Jabat erat dalam kata sepakat. Foto: Begandring

Prof Jan menegaskan agar aksara Kawi ini harus benar benar dijaga keberadaannya sehingga ꧌ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶꦩꦸꦣ꧍ generasi muda, generasi sekarang, tidak tercabut dari akarnya.

“Sayang sekali jika mereka tidak mengenal sejarah leluhurnya”, tambah Jan.

꧌ꦄ\ ꦲꦺꦂꦩꦱ꧀ꦛꦺꦴꦤꦶ꧍ A. Hermas Thony berharap hal yang sama bahwa ketika pemerintah kota Surabaya sudah mulai menggunakan aksara Jawa, berikutnya daerah daerah lain bisa mengikuti jejak ꧌ꦯꦸꦫꦨꦪ꧍Surabaya dalam hal pelestarian kekayaan budaya yang berbentuk Bahasa sebagai salah satu dari 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Republik Indonesia 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. (nng/aksara oleh IS). 

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x