Makam Bupati Surabaya Anggawangsa atau Onggowongso, Jangrana I di Botoputih

Makam Bupati Surabaya Anggawangsa atau Onggowongso, Jangrana I di Botoputih
Oleh : Topo Wijoyo
begandring.com -

Di Kompleks Pesarean Sentono Botoputih Surabaya terdapat makam salah satu tokoh yang dalam sejumlah sumber sejarah dikenal sebagai Bupati Surabaya, yakni Honggowongso atau Anggawangsa, yang bergelar Tumenggung Jangrana I.

Tokoh Jangrana I juga disebut dengan nama Jayengrana dalam sejumlah sumber. Riwayat mengenai dirinya memiliki beberapa versi, terutama mengenai asal-usul, hubungan keluarga, hingga waktu wafatnya.

Tulisan tentang Jangrana I ini dihimpun dari berbagai sumber sejarah yang memiliki keterangan berbeda.

Jangrana I dalam Catatan H.J. De Graaf

Dalam buku karya H.J. De Graaf, De Moord op Kapitein Francoise Tack, disebutkan bahwa Jangrana I sebelumnya bernama Onggowongso.

Setelah peristiwa Trunajaya pada 1680, Jangrana I disebut menjabat sebagai Bupati Surabaya. Ia juga disebut masih memiliki hubungan saudara dengan Tawang Alun, penguasa Blambangan.

Onggowongso kemudian diangkat oleh raja Mataram sebagai Bupati Surabaya dengan gelar Tumenggung Jangrana I.

Sementara itu, adiknya yang bernama Onggojoyo diangkat sebagai Bupati Pasuruan. Dalam sejumlah catatan Belanda, keduanya disebut sebagai orang Bali.

Versi ini memberikan gambaran mengenai posisi Jangrana I dalam struktur pemerintahan Mataram dan hubungannya dengan tokoh-tokoh penguasa di wilayah Jawa bagian timur.

Versi Kyai Ageng Brondong

Keterangan berbeda terdapat dalam catatan Pangeran Lanang Dangiran Kyai Ageng Brondong Kang Sumaré Ing Pasarehan Sentono Botoputih Suroboyo yang disusun R.P.A. Makmoer.

Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa Pangeran Lanang Dangiran atau Ki Ageng Brondong memiliki tujuh orang putra-putri. Salah satunya adalah Onggowongso atau Anggawangsa, yang memiliki nama kecil Gentini atau Wijokromo.

Onggowongso disebut diangkat oleh Susuhunan Amangkurat I, raja Mataram, menjadi Bupati Surabaya dengan gelar Ki Tumenggung Jangrana I.

Sebelum menjadi bupati, Onggowongso disebut telah menjadi panglima perang Mataram. Ia memimpin pasukan dalam peperangan melawan Trunajaya atau Panembahan Maduretno.

Dalam sumber tersebut juga diberitakan bahwa Jangrana I wafat dalam pertempuran dan kemudian dimakamkan di Sentono Botoputih Surabaya.

Gugur dalam Pertempuran Kediri

Riwayat mengenai wafatnya Jangrana I juga dikaitkan dengan laporan Domine François Valentijn, yang mengikuti peperangan di Kediri pada 1678.

Dalam laporan tersebut disebutkan keberanian seorang tokoh yang disebut sebagai Kyai Jangrono, Pangeran Surabaya. Ia digambarkan menerjang sungai dengan menunggang kuda sambil menggenggam pistol dan menghadapi tembakan musuh.

Berikut kutipan laporan tersebut:

“Een van de deppersten gedrug zich Kyai Jangrono, prins van Soerabaia, die met zijn ppard en het pistol in de hand vuist in de riveier sprong en togen al het schieten des vijands zeer verwoed in drong.”

Laporan berikutnya menyebutkan:

“Vijf dagen er na namen de onzen Kediri in het begin of omtrent he midden van Desember 1678 in welken storm die dappere prins van Soerabaia, in de Stadsspoort dood bleef enz.”

Dalam tulisan sumber, kedua kutipan tersebut diterjemahkan sebagai berikut:

“Satu-satunya pemberani (dalam peperangan itu), adalah Kyai Jangrono, Pangèran Soerabaia, yang dengan naik kuda serta menggenggam pistol, terjun dalam sungai tanpa menghiraukan berondongan senapan dari musuh dan dengan sigap, menyusup dalam barisan musuh.”

“Lima hari sesudah peristiwa itu pasukan kita dapat merebut Bèntèng Kědiri, kira-kira pada awal atau kira-kira pada pertengahan Desember 1678, dan dalam penyerbuan Kědiri itu, sang pahlawan Pangèran Soerabaia itu ditemui sudah gugur dalam Gapurå Bèntèng Kota”.

Keterangan tersebut menjadi salah satu sumber yang mengaitkan Jangrana I dengan peperangan di Kediri dan wafatnya di medan pertempuran.

Jangrana I dalam Babad Tanah Jawi

Sumber lain, Babad Tanah Jawi, juga menyebut Jangrana I sebagai putra Kyai Ageng Brondong.

Dalam sumber tersebut, ia disebut semula bernama Onggowongso dan digambarkan sebagai seorang pria yang gagah perkasa.

Onggowongso atau Jangrana I juga disebut pernah merebut kembali meriam keramat Nyai Setomiyang, yang hingga kini disebut masih disimpan di Surakarta.

Selain itu, Onggowongso pernah diperintahkan menumpas pemberontakan Wanakusuma.

Dalam perjalanan pulang dari Kartasura melalui Sidayu, ia disebut diiringi sekitar 300 prajurit. Melalui utusannya, ia memberitahukan kepada Resident Soerabaia bahwa kedatangannya di Surabaya agar disambut dengan tembakan meriam sebagai bentuk penghormatan.

Makam Jangrana I di Botoputih

Berbagai sumber tersebut menunjukkan adanya sejumlah versi mengenai sosok Jangrana I, mulai dari nama Onggowongso atau Anggawangsa, hubungan keluarganya dengan tokoh-tokoh tertentu, hingga riwayat pengangkatannya sebagai Bupati Surabaya.

Perbedaan sumber juga terlihat pada keterangan mengenai waktu dan tempat wafatnya. Karena itu, kisah Jangrana I perlu ditempatkan dalam konteks sumber sejarah yang digunakan dan tidak serta-merta disimpulkan hanya berdasarkan satu versi.

Terlepas dari perbedaan tersebut, keberadaan makam yang dikaitkan dengan Jangrana I di Kompleks Pesarean Sentono Botoputih menjadi salah satu bagian dari jejak sejarah Surabaya.

Kisah tentang Onggowongso atau Jangrana I sekaligus memperlihatkan bahwa kawasan Botoputih menyimpan cerita panjang mengenai tokoh-tokoh yang pernah berperan dalam perjalanan sejarah Surabaya dan Mataram.

Diambil dari berbagai sumber sejarah.

#BerceritaSurabaya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: