Koesno, Soera Ing Baja, dan Kisah Para Pereka Ulang

*) Oleh: Kukuh Yudha Karnanta

 Dua film dokudrama karya kolaborasi antara TVRI Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, Perkumpulan Begandring Soerabaia, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB Unair) yakni Koesno: Jati Diri Soekarno dan Soera Ing Baja: Gemuruh Revolusi 45 patut dicatat sebagai salah satu momen penting dalam perfilman Surabaya sepanjang 2022.

Film Koesno, misalnya, menembus nominasi Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2022. Meskipun belum berhasil mendapatkan Piala Citra, film yang disutradari Faizal Anwar itu menuai banyak apresiasi dan perhatian.

Bagaimana bisa film berbudget teramat minimalis itu bisa digarap secara kolosal dengan melibatkan kurang lebih seratus kru dan pemain, termasuk wali kota Surabaya?

 

 Pereka Ulang

Tidak dapat dipungkiri, sukses kedua film tersebut di atas tak lepas dari partisipasi komunitas-komunitas pereka ulang sejarah di Surabaya khususnya, dan Jawa Timur umumnya. Pereka ulang (reenactor) adalah sebutan bagi orang atau kelompok yang mereka-ulang (reenactment) peristiwa-peristiwa bersejarah melalui beragam kegiatan. Di antaranya pertunjukan/teatrikal, lengkap dengan narasi, properti, kostum, aksesoris, dan atribut-atribut yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya (Gonzalez, Calvo, dan Solana, 2022).

Pereka ulang dan aktivitas reenactment dipahami sebagai perayaan terhadap narasi-narasi kecil yang kerap bersifat sangat lokal dan politis. Lokal, dalam arti bersumber dari satu konteks spasial dan kultural tertentu. Politis, dalam arti para pereka ulang dapat “menggoyang” kontrol terhadap penulisan/penafsiran dominan atas suatu peristiwa sejarah (Agnew, Lamb, Tomann, 2020).

Meksi pun beberapa peristiwa sejarah yang direka ulang boleh jadi kisah yang umum diketahui publik, tidak berarti tidak ada sudut pandang baru dari aksi mereka.

Film Koesno: Jati Diri Soekarno, misalnya, bertujuan mengikis mispersepsi/kerancuan tentang kota tempat lahir Bung Karno. Berdasarkan hasil riset praproduksi yang dilakukan terhadap 200 responden yang berdomisili di Surabaya, didapatkan hasil sekitar tiga puluh persen masih menganggap Bung Karno lahir bukan di Surabaya. Sebagian responden beranggapan Sukarno tidak memiliki keterkaitan erat dengan Surabaya.

Padahal, sebaliknya, hampir fase-fase penting hidup Sukarno dilakukan atau terkait erat dengan Surabaya. Misalnya, riwayat organisasi pergerakan pertama yang dia ikuti, momen membentuk pandangan politik pertama kalinya dari rumah HOS Tjokroaminoto, kongres pertama Partai Nasional Indonesia, pernikahan pertama kali Soekarno saat masih bersekolah di HBS Surabaya, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Berani Edukatif, Rekreatif dan bahkan Advokatif Demi Surabaya. 

Dengan mereka ulang kehidupan Soekarno sejak awal Juni 1901, film Koesno  teramat sadar mengambil posisi hendak meneguhkan narasi jejak hidup Sang Proklamator itu dengan kota kelahirannya, yakni Surabaya.

Demikian juga dengan film Soera Ing Baja. Mitos mengenai bambu runcing sebagai senjata yang populer digunakan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan, misalnya, teramat kuat mengakar dalam persepsi masyarakat. Menghadapi ribuan tentara sekutu yang notabene pemenang Perang Dunia II dengan dilengkapi persenjataan modern, bambu runcing barangkali berfungsi sebagai metafor atau simbol keberanian, mungkin juga kesederhanaan dan kenekadan yang menyala-nyala dari Arek Suroboyo.

Tentu hal itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, juga tidak sepenuhnya benar. Berbagai memoar, arsip, serta kajian-kajian telah menunjukkan betapa pada Agustus-Desember 1945, terjadi pengorganisasian massa yang massif, rapi, dengan persenjataan yang juga mumpuni.

Strategi penguasaan dan penggunaan media pada saat itu, yakni radio, telegram, telepon, juga penting diungkapkan. Termasuk juga peran para perempuan-pejuang serta penyuplai logistik makanan ke garis depan, dihadirkan dalam halaman muka narasi sejarah. Dengan mereka ulang secara kronologis perang 10 November 1945, film Soera Ing Baja mengusung misi menampilkan narasi-narasi yang sebelumnya hanya di tepian, menjadi hal yang dikedepankan.

Reka-ulang, dengan demikian, bukan sekadar atraksi semata. Reka-ulang adalah masa lalu dalam masa kini yang dibingkai berdasarkan penafsiran, perspektif, dan sikap tertentu.

 

Militansi

Dari ilustrasi dua dokudrama tersebut di atas, terbayang tingkat kerumitan, kesulitan, dan kebutuhan ongkos produksi. Membangun set latar Surabaya di awal tahun 1900-an dan 1945-an tentu bukan perkara remeh dan murah. Belum lagi properti-properti lawas di era itu, serta replika persenjataan standar film perang. Khususnya Soera Ing Baja, film tersebut memang hendak mereka ulang salah satu peristiwa perang revolusi yang monumental—menjadi dasar penetapan Hari Pahlawan di Indonesia.

Mahal? Sudah pasti. Namun, di sinilah dapat diketahui bahwa para pereka ulang menjadi nyawa dalam dua film dokudrama tersebut.

Komunitas-komunitas yang terlibat dalam produksi Soera Ing Baja, yakni, Begandring Soerabaia, Surabaya Combine Reenactor, Bangilers Reenactor, Modjokerto Reenactor, Djombangsche Reenactor, Bali Reenactor, Green Ranger, DRcreations Indonesia, dan Death Rail Hunter.

Baca Juga  Menanti Revitalisasi Makam Eropa Peneleh. 

Komunitas-komunitas pereka ulang tersebut telah sejak lama ada dan menempa diri dalam proses kreatif masing-masing, umumnya lewat diskusi dan aksi teatrikal. Militansi mereka luar biasa: di mana pun ada kesempatan melakukan reenactment, mereka datang lengkap dengan segala koleksi terbaik yang mereka punya, meski kerap kali honor yang diterima jauh dari kata layak. Sepertinya memang bukan materi yang mereka idamkan, tapi lebih kepada semacam katarsis melalui sugesti pada diri sendiri maupun pada audiens tentang narasi pertempuran dan tokoh yang mereka perankan.

Perpaduan antara ketertarikan pada kisah sejarah dengan sendirinya membentuk naluri peneliti dalam diri para pereka ulang. Mereka dapat teramat memahami detil jenis kain, baju, unit/senjata, dan beragam pernak-pernik yang mustahil diketahui oleh awam.

Semangatnya, sekali lagi, adalah selebrasi, glorifikasi, dan edukasi kisah-kisah perjuangan/pertempuran khususnya di kota tempat mereka tinggal, yang diyakini sebagai hal yang wajib diwarisi dan diteruskan. Maka, bagi para pereka ulang, boleh jadi produksi film Koesno dan Soera Ing Baja adalah media paling tepat untuk mengekspresikan hobi sekaligus wawasan sejarah versi mereka, sembari mengaktualisasikan narasi Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Pada akhirnya, pelajaran terpetik yang dapat disampaikan dari produksi film Koesno dan Soera Ing Baja adalah, pertama, terciptanya momentum bertemunya sineas, komunitas sejarah, pemerintah kota, akademisi, serta komunitas-komunitas pereka ulang, dalam nuansa kolaboratif dan produktif di Surabaya. Kolaborasi antara tiga elemen tersebut menghasilkan dua film yang diakui kualitasnya. Setidaknya film Koesno, yang masuk dalam nominasi film dokumenter terbaik FFI 2022.

Kedua, tema sejarah dan budaya kota menjadi opsi yang ampuh untuk menstimulus sinergi apik antara komunitas, pemerintah kota, media, dan akademisi. Tentu saja, hal tersebut bukan berarti film-film yang mengusung tema selain sejarah dan budaya tidak atau kurang kompetitif. Semua tema, genre, berikut komunitas-komunitas lain juga memiliki ruang dan peluang yang sama untuk berkembang dan dikembangkan. Namun, sekali lagi, setidaknya untuk tahun 2022 ini dapat dicatat sebagai tahun di mana tema sejarah dan kontribusi para pereka-ulang semakin tampak signifikan potensinya untuk terus dikembangkan di masa mendatang.

Ketiga, berkembangnya genre dokudrama sebagai salah satu alternatif bentuk film dokumenter yang, sejauh ini, dapat menjawab kebutuhan terhadap aktualisasi narasi sejarah dan kepahlawanan yang menjadi salah satu branding Surabaya.

Baca Juga  20 Mahasiswa FIB Unair Blusukan di Kampung Peneleh

 

Prediksi 2023

Bagaimana dengan prediksi di 2023? Belum lama ini, Rancangan Peraturan Daerah Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kepahlawanan telah tuntas di tataran paripurna DPRD. Raperda yang diinisiasi oleh DPRD Kota Surabaya itu akan masuk pada tahap pembahasan lebih lanjut di tahun ini. Artinya, terdapat konteks isu kebudayaan dan kepahlawanan yang signifikan, dan pada gilirannya akan berimplikasi pada kebutuhan terhadap produk film bertema sejarah, kepahlawanan, dan kebudayaan lokal, dalam hal ini lokalitas budaya Arek Surabaya.

Tema-tema lokalitas daerah memang kini laris dikemas dalam produk film, dan sineas-sineas Surabaya mulai melirik kekayaan narasi sejarah kepahlawanan dan budaya kota sebagai salah satu distingsi dengan karya-karya sineas daerah lain.

Di luar tema sejarah kepahlawanan dan komunitas pereka ulang di atas, Surabaya memiliki sosok Ainun Ridho, sutradara film layar lebar Jack (2019). Dalam perbincangan dengan arek asli Tembok Sayuran itu diketahui, di tahun 2023 ini dirinya sudah menyiapkan rilis dua film terbarunya yang sempat tertunda karena pandemi, yakni Kartolo Numpak Terang Bulan dan Anthology of Darkness.

Karya-karya Ainun Ridho menawarkan lokalitas Surabaya yang emik dalam arti memang dituturkan dari sudut pandangnya sebagai Arek Suroboyo. Produksinya pun hampir sepenuhnya melibatkan kru dan aktris lokal Surabaya, dengan menggandeng SMK Dr. Soetomo yang memang memiliki program/jurusan produksi film.

Tak heran bila dialog-dialog, pilihan kata, penokohan, pemilihan karakter, serta pandangan hidup dan lainnya, sangat Suroboyo nyel. Pun lokalitas itu tersampaikan secara mulus dengan kualitas sinematografi yang teramat mumpuni untuk standar industri layar lebar. Saya kira, publik Surabaya patut menantikan dan mengapresiasi dua film karya Ainun Ridho tersebut.

Pada akhirnya, di sepanjang 2022 ini, Koesno dan Soera Ing Baja telah memberikan kita pelajaran amat penting tentang bagaimana film, sejarah, budaya, kota, dan kolaborasi lintas institusi dapat diorkestrasi. Semoga di tahun 2023, simpul-simpul kolaborasi ini semakin rekat, produktif, dan terbuka bagi partisipasi publik seluas-luasnya.

Tahun baru perfilman Surabaya!

*) Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Peraih Kritik Film Terbaik Festival Film Indonesia 2021.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x