Ngene Rek Ceritane
Sampean tau liwat balai kota Surabaya tha? Nah, sebelahe persis iku omah dinese Wali Kota Suroboyo, Rek.
Kok iso digawe jejer ngono yo?
Cekak cingkrange ngene: tahun 1920-an, Pemerintah Kota Surabaya zaman semunu merencanakan pemindahan Balai Kota dari Kebonrojo ke Ketabang. Terus, omah dinas wali kota yang lawas nang kawasan Simpang dianggap wis gak layak untuk menunjang fungsi resmi seorang kepala pemerintahan kota.

Gambar Posisi Rumah Dinas Walikota di Ketabang terhadap Balaikota Kota Surabaya. Sumber : Citroen Works on Surabaya
Dalam rapat Dewan Kota pada 21 April 1920, anggota dewan P. Egas mengusulkan pembangunan rumah dinas baru seluas 3.000 meter persegi di Ketabang dengan anggaran sekitar 100.000 gulden. Menurutnya, rumah lama membutuhkan biaya perawatan yang semakin besar dan berdiri di atas lahan yang terlalu luas.
Usulan tersebut disetujui. Pada Agustus 1920, kantor arsitektur R.P.R. mengajukan rancangan awal yang mendapat persetujuan Wali Kota A. Meyroos.
Namun, rencana itu tidak berjalan mulus. Setahun kemudian, Wali Kota berganti. G.J. Dijkerman justru meminta pembangunan ditunda.
Situasi ekonomi yang sedang resesi menjadi salah satu pertimbangannya. Ia berpendapat rumah lama di Simpang masih dapat digunakan setelah direnovasi.
Pendapat tersebut memicu perdebatan di Dewan Kota. ‘Saur manuk’ kedadean temenan nang dewan. Sejumlah anggota, terutama Beukers dan Van Mook, mempertanyakan apakah biaya renovasi justru akan lebih besar daripada membangun rumah baru.
Perdebatan berlangsung hingga akhirnya, melalui keputusan yang diumumkan dalam Lembar Resmi Kotamadya No. 229 tanggal 25 Juli 1921, proyek pembangunan rumah dinas baru dibatalkan. Dewan Kota mengesahkannya pembatalan pada 26 Agustus 1921.
Citroen : Sentuhan Sang Maestro
Selama beberapa tahun berikutnya, perhatian pemerintah kota lebih banyak diarahkan pada proyek infrastruktur dan bangunan publik, seperti Balai Kota, Jembatan Gubeng, Pameran Tahunan, serta jalur rel Pasar Besar. Sejumlah proyek tersebut melibatkan arsitek W. L. A. Citroen.
Baru pada akhir 1928, Dijkerman kembali menugaskan Citroen untuk merancang rumah dinas wali kota di Ketabang. Rancangan selesai pada Januari 1929. Secara teknis, desain tersebut telah memenuhi persyaratan, tetapi anggarannya sekitar 50 persen lebih tinggi daripada batas yang ditentukan. Sebelum keputusan akhir diambil, Dijkerman jatuh sakit dan meninggal dunia.
Meski demikian, Citroen tetap diminta melanjutkan pekerjaan dengan penyesuaian sesuai kemampuan anggaran.
Dewan Kota akhirnya menyetujui rancangan tersebut pada 1929. Pembangunan fisiknya baru dilaksanakan setelah 1930, ketika kondisi ekonomi mulai membaik.
Arsitektur Tropis
Rumah dinas ini direncanakan berdiri di lahan seluas sekitar 3.340 meter persegi, berukuran 67 x 50 meter. Lokasinya berada di kawasan yang sama dengan Balai Kota, di sepanjang Ondomohenweg, tetapi dipisahkan oleh Sedepmalemweg atau sekarang Jalan Sedap Malam.
Karena posisinya berhadapan dengan taman di depan Balai Kota, akses utama rumah dinas diarahkan ke barat. Bangunan juga memiliki akses dari sisi jalan lainnya.

Gambar Rumah Dinas Walikota Surabaya Tahun 1930. Sumber: Citroen Works on Surabaya
Citroen merancang kompleks ini dengan tiga massa bangunan yang saling terhubung. Bangunan utama menjadi pusat penerimaan dan memiliki teras serta beranda luas. Massa di sisi utara digunakan untuk galeri, ruang makan, dan dapur, sedangkan bangunan lainnya diperuntukkan bagi tamu.
Atapnya menggunakan bentuk limasan dengan bubungan memanjang utara–selatan, mengingatkan pada karakter atap Balai Kota. Ketinggian langit-langit bangunan utama mencapai 5,5 meter, sementara bangunan pendukung sekitar 4 meter.
Rancangan tersebut memperlihatkan perhatian Citroen terhadap iklim tropis. Penempatan ruang, bukaan, serta beranda menjadi bagian dari upaya menciptakan sirkulasi udara dan kenyamanan penghuni.

Gambar Teras Barat Rumah Dinas Walikota Surabaya Tahun 1998. Sumber: Citroen Works on Surabaya
Crito pembangunan rumah dinas ini menunjukkan bahwa sebuah bangunan pemerintahan lahir dari proses panjang, bahkan harus menunggu hampir satu dekade sebelum benar-benar terwujud. Gak grusa grusu, gak angger mlaku, opo maneh terus mangkrak.
Nek ancen anggaran pas-pasan durung iso mbangun saiki, yo gak mekso. Gak pokoke kudu dibangun, kudu mlaku. Gak ngono, Rek.

Rumah Dinas Walikota Surabaya dibuat untuk lokasi salah satu scene dalam film Soera Ing Baja (2023). Sumber : Koleksi Yayan Indrayana
Sumber :
- A Study Of Architect Cosman Citroen And His Works On Surabaya – Joko Triwinarto Santoso
- Sejarah Perkembangan Rencana Kota Surabaya 1990 – Pemkot Surabaya
Woro-woro
Tulisan ini disusun berdasarkan catatan sejarah perencanaan dan pembangunan Rumah Dinas Wali Kota Surabaya. Beberapa detail kronologi, rancangan awal, dan proses pembangunan masih menarik untuk ditelusuri lebih lanjut melalui arsip Dewan Kota serta dokumen perancangan Citroen.
Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen. 😄