Oleh: Kuncarsono Prasetyo
Tahun 1944, kekuatan bawah tanah ini semakin menggurita. Hampir di setiap kampung memiliki sel dengan nama pemimpin lokal masing-masing. Situasi ini membuat Soekarni Kartodiwirjo, pemuda kiri dari Menteng Nomor 31, memerintahkan Soemarsono menyusup ke Surabaya.
Pada Agustus 1944, Soemarsono tiba di Surabaya saat usianya 22 tahun. Dia diarahkan menemui Djohan, tinggal di sekitar rumah Djohan di Peneleh, dan bekerja di BPM, lingkungan kerja sekaligus basis pengorganisasian yang sudah dirintis Djohan sejak lebih dari setahun lalu.

Potret Soemarsono. Sumber: Koleksi Kuncarsono
Hubungan antarnama itu saling silang. Djohan mengenal Soekarni sejak di Jakarta. Soekarni, pemuda Blitar ini, dikenal Soemarsono saat perjalanan kereta api dari Solo ke Jakarta pada 1942. Sementara Soekarni sendiri memiliki akar hubungan organisasi dengan pemuda Surabaya, Roeslan Abdoegani, sejak 1936 karena sama-sama aktif di Indonesia Moeda.
Maka, ketika Soemarsono tinggal di Plampitan, dia sekaligus dekat dengan rumah Roeslan juga di sebelah kampung yang ditempati Djohan di Peneleh.
Sebelum tiba di Surabaya, Soemarsono terlibat dalam Gerakan Indonesia (Gerindo) pimpinan Amir Sjarifoeddin. Pertemuan pertama Soemarsono dengan Amir terjadi pada 1941 di sebuah rapat Gerindo di Gedung Permufakatan, Gang Kenari, Jakarta; saat itu Soemarsono masih sekitar 20 tahun, sedangkan Amir berusia 34 tahun. Sementara hubungan politik Amir dan Sjahrir, meskipun memiliki kemiripan ideologi dan arah gerakan melihat Jepang, namun tidak pernah duduk di organisasi bersama.
Dari saling silang hubungan antartokoh inilah yang membuat keberadaan Soemarsono dalam jaringan Djohan dan sisa sel Amir menjadi menarik diikuti di periode selanjutnya.
Pada Agustus 1944, Soemarsono masuk ke Surabaya melalui jaringan bawah tanah yang telah dibangun Djohan Sjahroezah. Namun, secara diam-diam, pemuda berusia 22 tahun ini juga menghimpun kembali sel bawah tanah fase pertama yang dihancurkan Jepang pada 1943. Dari sinilah dua faksi kiri di Surabaya menemukan titik temu.
Soemarsono aktif mengorganisasi gerakan melalui kantor minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Societeitstraat, tempat Djohan, Sudjono, dan Soenarjo bekerja. Ia datang ke kilang minyak, bergaul dengan para buruh di mess Kampung Maspati, dan mengenal banyak orang.
Di luar lingkungan kantor minyak, Soemarsono menjalin kembali hubungan dengan jaringan yang lebih tua. Penangkapan Jepang pada 1942–1943 telah melumpuhkan orang-orang yang sebelumnya bergerak di bawah tanah di sekitar Amir Sjarifoeddin. Sebagian ditahan, sebagian dihukum mati, dan sebagian lainnya menghilang dari pertemuan terbuka. Salah seorang yang berhasil dihubungi Soemarsono adalah Widarta, pemuda Surabaya yang melarikan diri ke Pekalongan dan kemudian memimpin PKI ilegal dari kota tersebut.

Potret Amir Sjarifoeddin. Koleksi Kuncarsono
Melalui Widarta, Soemarsono mendapat tugas mengupayakan penerbitan kembali Menara Merah, koran agitasi bawah tanah yang terbit sejak 1939, tetapi berhenti pada 1942. Koran ini direncanakan terbit kembali sebagai sarana penyebaran propaganda.
Menyusup di Kantor Sendiri
Pukul 14.00, dua gulung besar kertas merang telah disiapkan untuk dibawa keluar dari kompleks kantor BPM. Soemarsono juga menyiapkan dua becak yang menunggu di seberang gedung. Satu gulung akan diangkut dengan becak pertama, sedangkan gulung lainnya dibawa dengan becak kedua. Kertas itu diperlukan untuk menerbitkan kembali Menara Merah, surat kabar bawah tanah yang hendak dihidupkan di tengah pendudukan Jepang.
Namun, mengambil kertas dari kantor tempatnya bekerja bukan perkara mudah. Penjaga bersenjata berjaga di pintu keluar. Sebelum menjalankan rencana itu, Soemarsono harus memastikan bahwa orang yang akan membantunya benar-benar bagian dari jaringan rahasia.
Petunjuk tersebut datang melalui Widarta. Soemarsono diminta menghubungi seorang anggota militer Jepang yang bertugas di BPM. Menurut ingatan Soemarsono, orang itu berpangkat sersan mayor.
Untuk mengenalinya, Widarta memberikan sepotong kertas kecil yang digulung menyerupai rokok. Tanda pada kertas itu baru terlihat setelah dicelupkan ke dalam air.
Soemarsono mengingat adanya tulisan yang berkaitan dengan Commite Centraal Partai Komunis Indonesia dan lambang palu-arit. Menurut keterangan yang diterimanya, orang Jepang tersebut memiliki tanda serupa yang merujuk pada kaum komunis Jepang.
Siang itu, seperti biasa, Soemarsono datang ke kantor BPM untuk bekerja. Di ruang kepala jaga yang sedang kosong, ia bertemu dengan sersan mayor tersebut. Keduanya mengeluarkan gulungan kecil masing-masing. Sebuah gelas berisi air digunakan untuk memeriksa tanda pengenal mereka. Setelah tanda itu cocok, Soemarsono menyampaikan maksudnya: mengambil kertas merang dari BPM.
Rencana pun dijalankan. Kedua gulung kertas dipindahkan ke dua becak yang kemudian bergerak menuju pintu keluar secara terpisah. Di sana, seorang penjaga Jepang berdiri dengan senjata berbayonet. Menurut ingatan Soemarsono, kertas itu tidak ditahan. Kedua becak berhasil melewati pintu kompleks BPM dengan membawa bahan yang diperlukan untuk menerbitkan Menara Merah.
Bagi Soemarsono, peristiwa itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan memperoleh kertas. Ia menafsirkannya sebagai petunjuk bahwa di dalam tubuh militer Jepang mungkin terdapat orang-orang komunis atau antifasis yang bersimpati pada perjuangan Indonesia. Ia mengaitkan peristiwa itu dengan solidaritas antifasis internasional, meskipun mengakui tidak memiliki bacaan yang menjelaskan keberadaan organisasi Jepang yang secara sistematis mendukung kemerdekaan Indonesia.
Membangun Jaringan Pemuda
Sekitar enam bulan setelah mendapat tugas di Surabaya, Soemarsono berhasil melipatgandakan jaringan pemuda yang sebelumnya dirintis Djohan. Memasuki 1945, ia mulai menjalin komunikasi dengan kelompok Roeslan Abdoelgani, tetangga rumahnya. Pada tahap ini, kelompok-kelompok pemuda Surabaya mulai memperlihatkan bentuk yang lebih jelas.
Saat itu, Roeslan berusia sekitar 30 tahun. Ia menjadi salah satu simpul penting dalam lingkungan pemuda Surabaya yang berakar pada Indonesia Muda sebelum pendudukan Jepang. Di lingkarannya terdapat Bambang Kaslan, Krissubanu, Kustur, Kusnadi, dan Murdianto, yang menjadi inti kelompok tersebut. Lingkaran Abdoelgani memiliki riwayat organisasi sendiri dan tidak identik dengan jaringan bawah tanah Djohan.
Pada Maret 1945, pertemuan lintas kelompok pemuda digelar secara diam-diam di rumah Krissubanu. Pertemuan itu berlangsung setelah para pemuda kiri dari Menteng Nomor 31, Jakarta, membawa kabar perkembangan perang ke Surabaya. Chaerul Saleh datang memimpin pertemuan tersebut. Ia sebenarnya kerap berkunjung ke Surabaya untuk menjadi mentor bagi sel Djohan di mess BPM, Kampung Maspati.
Kali ini, Saleh membawa agenda yang lebih konkret: menyatukan jaringan pemuda Surabaya agar mereka mulai menyiapkan langkah untuk merebut kekuasaan setelah Jepang kalah. Pertemuan di rumah Krissubanu itu dihadiri Djohan, Soemarsono, Roeslan Widjajasastra, M. Dimjati, Kusnadi, Margono, Susiswo, Bambang Kaslan, Asmanu, dan Krissubanu. Gabungan kelompok tersebut dikenal dengan nama Panitia Angkatan Muda.
Namun, Roeslan Abdoelgani tidak hadir. Ia tampaknya memilih menjaga jarak dari gerakan Angkatan Muda yang berkembang melalui jaringan Jakarta dan Bandung, serta lebih mengandalkan jaringan yang dibangunnya sendiri di Surabaya. Pada Januari 1945, ia sempat pergi ke Jakarta untuk menemui Mohammad Hatta, menyusul semakin banyaknya kelompok yang bergerak di bawah tanah di Surabaya.
Pertemuan itu tidak menghasilkan instruksi ataupun garis komando bagi gerakan di Surabaya. Roeslan kemudian bersikap hati-hati terhadap mereka karena mencurigai kecenderungan pro-Jepang dalam gerakan tersebut.

Potret Roeslan Abdulgani. Sumber: Wikipedia
Beberapa hari kemudian, setelah upaya Saleh mengundang Roeslan tidak berhasil, Soekarni, rekan Saleh, tiba di Surabaya. Ia menemui Roeslan di rumahnya di Plampitan. Di sini juga hadir Soemarsono, Krissubanu, Murdianto, Kustur, Abdul Aziz, M. Dimjati, Roeslan Widjajasastra, Kusnadi, Margono, dan Bambang Kaslan. Melalui pertemuan itu, Soekarni menjalin hubungan dengan para aktivis Surabaya sekaligus memperluas koordinasi gerakan pemuda yang telah tumbuh di berbagai kota.
Langkah tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi perubahan politik ketika kekuasaan Jepang mendekati akhir. Jaringan pemuda Surabaya perlu saling mengenal, membangun jalur komunikasi, dan menentukan langkah bersama.
Pengorganisasian pemuda yang dirintis sejak 1943 mulai menunjukkan hasil menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang. Djohan Sjahroezah dan Des Alwi sempat ditarik kembali ke Jakarta pada bulan-bulan menjelang proklamasi. Soemarsono mulai mengambil panggung pergerakan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, jaringan yang selama ini dibangun secara sembunyi-sembunyi mulai bergerak terbuka. Para pemuda menyebarkan berita kemerdekaan, menghimpun kekuatan, dan menggerakkan rakyat.
Insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September memperlihatkan kemampuan mobilisasi mereka.
Upaya menyatukan gerakan berlanjut dengan pembentukan Pemuda Republik Indonesia (PRI) di bawah pimpinan Soemarsono, setelah Roeslan Abdoelgani menolak pencalonan sebagai pemimpin organisasi pemuda yang lebih luas.
Perlawanan semakin menguat ketika pasukan Inggris mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tewasnya Bgan, pengalaman, dan pengorganisasian yang telah dibangun sejak masa pendudukan Jepang Brigadir Mallaby pada 30 Oktober dan ultimatum Inggris pada 9 November membawa ketegangan ke puncaknya.
Di tengah situasi yang semakin genting, Djohan Sjahroezah dan Des Alwi kembali ke Surabaya. Soemarsono, yang setahun sebelumnya datang untuk membantu membangun jaringan bawah tanah, kini tampil dengan pengaruh nyata sebagai pemimpin PRI, salah satu milisi bersenjata paling berpengaruh dalam Pertempuran Surabaya.
Perlawanan pemuda Surabaya tidak muncul tiba-tiba sebagai reaksi spontan. Kekuatan itu bertumpu pada jaringan, pengalaman, dan pengorganisasian yang telah dibangun sejak masa pendudukan Jepang. (bersambung)