Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 1): Djohan Sjaroezah Membangun Jaringan Bawah Tanah

Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 1): Djohan Sjaroezah Membangun Jaringan Bawah Tanah
begandring.com -

Oleh: Kuncarsono Prasetyo

Jepang menguasai Surabaya. Banyak aktivis ditangkap, gerakan politik ditekan, dan jaringan perlawanan tercerai-berai. Namun, gerakan bawah tanah tidak berhenti. Dari kantor minyak, rumah-rumah penduduk, dan pergaulan kaum muda, hubungan baru dirajut secara diam-diam. Inilah kisah jaringan bawah tanah Surabaya fase kedua menjelang perang revolusi November 1945.

Pada awal Januari 1943, seorang aktivis Jakarta bernama Djohan Sjahroezah datang ke Surabaya.

Ia datang secara klandestin, membawa pengalaman pergerakan, dan mulai membangun jaringan yang mempertemukan buruh minyak, aktivis politik, dan pemuda dalam perjuangan yang kelak mewarnai periode sejarah Surabaya pascakemerdekaan.

Profil Djohan Sjahroezah. Sumber: Kami Perkenalkan (Kementerian Penerangan, 1954)

Djohan tiba bersama istrinya, Violet Hanifah, putri Haji Agus Salim. Usia Djohan baru 30 tahun. Ia menyewa rumah di kawasan Peneleh, kampung yang 20 tahun sebelumnya ditinggali mertuanya. Dia membawa misi khusus: sendirian membangun jaringan bawah tanah antifasis Jepang di Surabaya.

Kedatangannya bersamaan dengan jaringan perlawanan bawah tanah Surabaya fase pertama yang baru saja dipukul habis. Jepang mengungkap sel Atmadji yang terhubung dengan Ketua PKI Ilegal Pamoedji, simpul Amir Sjarifuddin di Surabaya. Semuanya digulung, dipenjara, termasuk Amir. Bangunan sosial perlawanan di bawah tercerai-berai.

Djohan datang dari sel berbeda. Pemuda kelahiran Muara Enim ini bekerja di bawah pengaruh Soetan Sjharir, pamannya sekaligus patron kekuatan kiri lain di Jakarta selain Amir Sjarifuddin. Sebelum ‘bertugas’ di Surabaya, Djohan pernah terlibat dalam PNI Pendidikan, lingkaran pergerakan yang didirikan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Ia pernah mengorganisasi buruh minyak Shell di Tarakan dan sempat dipenjara karena aksinya tersebut.

Mulai dari Kantor Minyak

Ketika tiba pertama kali di Surabaya, Djohan mulai menjalin kontak dengan Soedjono, bekas anggota PNI Pendidikan yang menjadi pegawai personalia BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij). Daftar kontak rahasia yang dimilikinya sejak di Jakarta. Dari nama ini, Djohan berhasil masuk menjadi buruh minyak.

Kantor BPM berada di Societeitstraat. Djohan dan Soedjono memanfaatkan hubungan kerja serta pergaulan sehari-hari untuk menjalankan misi rahasinya: menggalang kader, sekolah politik, membuka sel sel persiapan perlawanan baru. Tujuannya adalah membangun jaringan antarkota untuk menggalang kekuatan pemuda dan buruh, menyebarkan informasi, serta mempersiapkan perjuangan kemerdekaan di bawah pendudukan Jepang.

Kantor Bataafsche Petroleum Maatschappij di Societeitstraat (sekarang jalan Veteran, Surabaya). Sumber: Colonial Architecture

Dari Soedjono, Djohan bisa meyakinkan Soenarjo, manajer sumur minyak Gunungsari, untuk menjadi bagian dari misi ini. Kemudian menggalang buruh lain yang tinggal di mess BPM Kampung Maspati, yaitu Roeslan Widjajasastra, EM Rambe, Mursiam. Mess ini juga dihuni M.L. Tobing, Dayino, Moenir, kader yang kelak membangun jaringan bawah tanah di kota asalnya, Yogyakarta, sementara M. Dimyati ke Solo. Kontak Djohan menjangkau pekerja sumur minyak di Krukah, Lidah, Wonosari, hingga Cepu. Pengalaman mengorganisasi buruh minyak di Tarakan membuatnya cepat mendapatkan pengaruh.

Pada awal 1944, Ketika gerakan bawah tanah yang dibangunnya semakin masif, Djohan memanggil Des Alwi. Remaja 17 tahun ini adalah anak angkat Hatta. Dia dibawa ke Jakarta oleh Hatta dan Sjahrir dari kampung halamannya, Banda Neira, pulau tempat Hatta dan Sjahrir diasingkan.

Mei 1944, Des tiba. Dia mendapat tugas khusus: membangun alat penerima sinyal radio dari luar negeri. Saat itu, misi bawah tanah se-Indonesia memang wajib memiliki kelompok rahasia yang bertugas menangkap informasi luar negeri dari radio. Ini juga dilakukan Sjahrir di Jakarta.

Sebab saat itu, mendengarkan radio ancaman hukuman mati. Sementara jaringan ini perlu momentum bergerak dari perkembangan informasi perang dari luar negeri. Kapan Jepang kalah, itulah saatnya melawan.

Demi pengetahuan pemancar radio ini, Des disekolahkan oleh Djohan di sekolah khusus radio Radio-Vakschool di Gang Pasar Genteng. Dari sini, Des dibantu Soenarjo, membangun penangkap sinyal radio ilegal di bukit Karangpilang, daerah dekat rumah Sudjono di Kedurus. Dari sini, informasi luar negeri dipasok Des ke jaringan Djohan di tengah kota Surabaya.

Rumah Sidik Kaspar di Kebangsren

Djohan tidak hanya mengelola jaringan buruh minyak untuk membangun sel perlawanan. Dia juga membangun kontak dengan orang-orang kampung melalui sebuah nama yang sudah ada dalam daftar kontak Djohan di Surabaya.

Namanya Sidik Kaspar. Lelaki 50 tahun ini juga anggota PNI Pendidikan. Rumah Sidik berada di Kebangsren Gang IV No. 11. Dari Sidik, sel lain bentukan Djohan makin masuk ke kampung-kampung lain. Rumah mungil milik Sidik di antara bekas makam Tionghoa itu belakangan berkembang menjadi markas pengorganisasian.

Orang-orang kampung lain silih berganti datang, saling mengenal, membicarakan ekonomi, belajar pendidikan politik, materialisme historis, kaum buruh, nasionalisme, antiimperialisme, dan cara menjalankan organisasi. Gathut Kusumo Hadi, seorang pelajar, serta Wiwiek Hidajat, wartawan kantor berita Dōmei, makin sering ke tempat ini. Ini sel lain yang dibangun Djohan selain sel buruh BPM di Maspati.

Pada akhir 1944, rumah Sidik pernah digerebek tentara Jepang. Sebagian orang berhasil melarikan diri ke arah utara, melewati bekas pemakaman Tionghoa dan lahan yang ditumbuhi semak. Sidik gagal ditangkap karena langsung mengganti identitas dan penampilannya. [bersambung]

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: