Gemeenteslachthuis: Rumah Potong Hewan Kota Surabaya

Gemeenteslachthuis: Rumah Potong Hewan Kota Surabaya
begandring.com -

Ngene Rek Ceritane

Suroboyo kutho sak munu gedhene, panganane macem-macem. Onok gule, sate, kare, soto, ambek liyan-liyane. Oleh teko ndi daging sak munu akehe?

Surabaya pada awal abad ke-20 ancen terus berkembang menjadi kota perdagangan sing ruame. Penduduke tambah akeh, pasar tambah nyebar, dan kebutuhan pangan terutama daging ikut meningkat. Namun, aktivitas pemotongan hewan yang tersebar di berbagai tempat memunculkan persoalan kebersihan lingkungan, pencemaran air, dan pengawasan kesehatan daging.

Pemerintah kota pun merasa perlu membangun rumah potong hewan (slachthuis) yang terpusat dengan sistem sanitasi yang lebih baik.

Pilihan lokasi akhirnya jatuh pada lahan di tepi Kali Pegirian yang sebelumnya digunakan sebagai gudang mesiu. Letaknya cukup strategis, dekat Kali Pegirian, jalur lalu lintas perahu, serta kawasan perdagangan dan pasar. Aliran Kali Pegirian juga dipertimbangkan untuk mendukung pembuangan air limbah dari aktivitas pemotongan.

Rencana pembangunan sebenarnya sudah disiapkan sebelum Perang Dunia I, tetapi perang membuat pelaksanaannya tertunda. Pada 1923, rencana tersebut diajukan kembali dengan anggaran ƒ 300.000. Biayanya dianggap terlalu mahal oleh sebagian anggota Dewan Kota. Setahun kemudian, pemerintah menyusun rancangan yang lebih sederhana dengan anggaran ƒ 120.000. Rencana ini akhirnya disetujui.

Pembangunan dimulai pada 1926, dan pada Maret 1927 Rumah Potong Hewan Pegirian resmi beroperasi. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Surabaya menata pemotongan hewan secara lebih teratur, higienis, dan efisien.

Gemeenteslachthuis atau Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya tahun 1932. Sumber: wereldculture.nl

Kompleks rumah potong hewan ini berdiri di atas lahan sekitar 100 × 130 meter. Bangunan pemotongan sapi berada di sisi utara, sedangkan bangunan pemotongan babi terletak di sisi selatan. Keduanya dipisahkan oleh dinding setinggi dua meter, salah satunya untuk menjaga pemisahan fasilitas sesuai ketentuan keagamaan terkait pengolahan daging. Di bagian depan kompleks terdapat kantor administrasi sekaligus laboratorium untuk memeriksa kesehatan daging.

Bangunannya menggunakan beton bertulang, dikerjakan oleh perusahaan Hollandsche Betonmaatschappij, sementara instalasi teknisnya dipasok oleh N.V. Geveke en Co. Penggunaan material dan pembagian ruang tersebut memperlihatkan penerapan teknologi konstruksi serta perencanaan fasilitas publik modern pada masa kolonial.

Fasilitas pemotongan sapi memiliki ruang penyembelihan yang dapat menampung 31 ekor sapi secara bersamaan.

Tersedia pula ruang khusus untuk hewan yang dicurigai sakit, area pengulitan hewan yang sudah disembelih, tempat pencucian usus, serta kandang besar dengan lorong sepanjang 40 meter yang mampu menampung hingga 160 ekor sapi.

Sementara itu, fasilitas pemotongan babi memiliki bangunan tersendiri dengan perlengkapan pencucian menggunakan air panas dan dingin serta saluran pembuangan limbah. Susunan fasilitas ini menunjukkan bahwa proses pemotongan, pembersihan, dan penanganan hasilnya direncanakan melalui tahapan kerja yang teratur.

Suasana Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya tahun 1940. Sumber: wereldculture.nl

Kehadiran Rumah Potong Hewan Pegirian memperlihatkan bagaimana perkembangan kota menuntut perubahan dalam pengelolaan kebutuhan sehari-hari.

Urusan pemotongan hewan yang sebelumnya berlangsung secara tersebar mulai ditangani melalui fasilitas terpusat, dengan perhatian terhadap sanitasi, pengawasan kesehatan pangan, dan efisiensi kerja.

Pegirian tibakno duwe jejak penting bab infrastruktur pangan daging-dagingan nang Surabaya. Ojok heran nek nang daerah kono akeh panganan sate, gule, sego babat, usus, sing uenak sak Suroboyo. Lha tiba’e teko kono biyen asale daging-daging sak Suroboyo…

Ngono lho Rek ceritane.

Woro-woro: Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… canthengen. 😄

*) Penulis : Yayan Indrayana

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: