OKTOBER YANG PANAS DI SURABAYA #2

OKTOBER YANG PANAS DI SURABAYA #2
Oleh : Achmad Zaki Yamani ( Ketua Begandring Soerabaia )
begandring.com -

Ketegangan di Pangkalan Ujung, Kedatangan Kapal Perang Inggris, dan Perintah “NIET VUREN!”

Sabtu, 20 Oktober 1945. Siang itu, sebuah kapal pemburu kapal selam Jepang jenis Hayabusa berbendera hitam datang dari arah barat, memasuki perairan Surabaya. Kapal tersebut mendekati Modderlust untuk meminta air tawar. Namun, permintaan itu ditolak. Kapal Hayabusa pun kembali bergerak ke arah barat.

Kehidupan yang semakin terisolasi di Pangkalan Ujung dan Tanjung Perak mulai menimbulkan ketegangan sekaligus kejenuhan. Meski komunikasi sering terputus, sementara persediaan makanan semakin buruk dan tidak teratur, kecintaan para pemuda terhadap pantai dan laut tetap bertahan.

Pemuda bersiaga dipesisir Surabaya.IWM.

Namun, keadaan yang serba sulit itu membuat banyak orang mudah tersinggung dan uring-uringan. Di tengah suasana panas pada pertengahan Oktober 1945, muncul pula sejumlah aksi unik dan berani yang mencerminkan semangat perjuangan anak-anak muda Surabaya.

Aksi Berani Bejo di Langit Surabaya

Seorang mekanik anggota PPAL, mantan personel Kaigun Kokusho bernama Bejo, mencoba menerbangkan sebuah pesawat latih amfibi bersayap dua yang telah diberi tanda Merah Putih.

Pesawat itu terlihat mondar-mandir melakukan taxiing di perairan Morokrembangan. Setelah merasa situasi cukup aman, Bejo mencoba melakukan take-off. Namun, upaya tersebut berakhir tragis. Pesawat tergelincir dan terpelanting masuk ke laut.

Meski gagal mengudara, aksi Bejo tetap menjadi peristiwa yang membanggakan. Untuk pertama kalinya, sebuah pesawat bertanda Republik Indonesia dengan seorang “pilot” lokal mencoba mengangkasa di langit Surabaya.

Sayangnya, nasib Bejo setelah kejadian itu tidak diketahui. Semoga ia benar-benar bejo—beruntung—sesuai dengan namanya.

Komunikasi T.K.R. Laut yang Serba Terbatas

Kesatuan T.K.R. Laut di Ujung dipimpin oleh Oemar Said, sedangkan kesatuan di Tanjung Perak berada di bawah pimpinan R. Hoemarwoto. Sebagian besar anggotanya merupakan mantan siswa Sekolah Pelayaran Tinggi (S.P.T.), yang kemudian melebur menjadi pasukan L.

Kantor Berita Antara turut memperbantukan seorang tenaga part-time bernama Hidajat, mantan markonis kapal Seven Provinciën. Kehadirannya sangat membantu karena petugas perhubungan (PHB) saat itu belum lancar berbahasa Inggris dan tidak mampu melayani komunikasi menggunakan signal lamp maupun kode Morse. Ia hanya menguasai “tebata no singgo”, semacam sistem semaphore ala Jepang.

Sementara itu, Soejono, sang petugas PHB, bukan hanya bertugas sebagai operator telepon. Dalam keadaan bahaya, ia juga merangkap sebagai peniup terompet untuk memberikan tanda peringatan.

Senin, 22 Oktober 1945: Kapal Inggris Muncul di Perairan Surabaya

Tiba-tiba, pada Senin, 22 Oktober 1945, pukul 11.00, kapal pemburu kapal selam Jepang Hayabusa kembali muncul. Kali ini, kapal tersebut tidak datang sendirian.

kapal pemburu Hayabusha. Wikipedia.
HMS Recruit J298.IWM.

Bersamanya terdapat tiga kapal penyapu ranjau kelas Algerine berbendera Inggris, masing-masing berbobot sekitar 1.047 ton. Ketiga kapal itu teridentifikasi sebagai:

  • HMS Recruit (J298)
  • HMS Pincher (J294)
  • HMS Rifleman (J299)

Saat itu, Hidajat dan Wiwiek Hidajat, wartawan muda Antara yang kerap berkunjung ke Modderlust, sedang berada di Pos PHB T.K.R. Laut.

Hidajat segera menunjukkan kepiawaiannya. Mantan awak kapal perang Seven Provinciën itu mengirimkan pesan dalam bahasa Inggris menggunakan kode Morse melalui signal lamp. Tuas lampu isyarat pun diketuknya, menyampaikan pertanyaan:

“What is your purpose for coming here?!”

(Apa tujuan kedatangan kalian ke sini?)

Jawaban dari kapal-kapal tersebut segera diterima:

“Sweeping mines.”

(Menyapu ranjau.)

Hidajat kembali mengirimkan pesan:

“Hold your landing! Await further orders from our commanding officer!”

(Tunda pendaratan kalian! Tunggu perintah lebih lanjut dari komandan kami!)

Namun, jawaban yang datang justru mengejutkan:

“We don’t take any order from anybody.”

(Kami tidak menerima perintah dari siapa pun.)

Ketiga kapal itu memang sedang melakukan penyapuan ranjau di perairan Westgat. Setelah menyelesaikan kegiatan tersebut, mereka berputar haluan dan kembali bergerak ke arah barat.

Selasa, 23 Oktober 1945: Rombongan Pemerintah Pusat Tiba

Pada Selasa, 23 Oktober 1945, pemerintah pusat Republik Indonesia mengirimkan rombongan peninjau ke Surabaya. Rombongan itu terdiri atas Menteri Negara Mr. Sartono, Mr. Kasman Singodimedjo, Soelijo Adikoesoemo, dan Dr. Kodijat.

Setibanya di Surabaya, mereka dikawal oleh Polisi Istimewa untuk mengunjungi sejumlah lokasi yang berhasil direbut dari tangan Jepang.

Ketika berada di lapangan terbang Morokrembangan, rombongan melihat pesawat-pesawat yang ditinggalkan Jepang. Sementara itu, di kawasan Ujung, mereka mendapati beberapa kapal perang, kapal jibaku, serta meriam pantai yang masih dapat digunakan.

Menteri Sartono bahkan sempat naik ke menara pengawas dan mencoba mengamati keadaan melalui teropong besar. Dari sana, ia masih dapat melihat sejumlah kapal perang Inggris di Selat Madura.

Setelah peninjauan selesai, Mr. Sartono menyampaikan pesan Presiden Soekarno kepada Drg. Moestopo. Pesan itu tegas: jangan menembaki kapal perang Inggris yang akan mendaratkan pasukannya, karena kedatangan mereka bertujuan mengurus tentara Jepang dan para tawanan perang.

Namun, situasi di Surabaya segera berkembang menjadi jauh lebih menegangkan.

Rabu, 24 Oktober 1945: Armada Inggris Memasuki Surabaya

Rabu, 24 Oktober 1945, sekitar pukul 11.00, sebuah pesawat tampak melayang-layang di langit utara Surabaya. Pesawat itu mengawal sebuah konvoi besar yang terdiri atas enam kapal perang jenis destroyer, kapal pendarat Landing Ship Tank (LST), serta berbagai kapal lainnya. Jumlah seluruhnya diperkirakan mencapai kurang lebih 60 kapal.

Sebagian kapal langsung merapat di dermaga Zamrud, Tanjung Perak. Sementara itu, kapal-kapal lainnya berderet dari depan Modderlust hingga kawasan Tanjung Perak.

T.K.R berjaga disekitar Pelabuhan Tanjung Perak.IWM

Pada pukul 15.00, sejumlah perwira T.K.R. Laut, antara lain J. Soelamet, Hermawan, Poernomo, Koesnaniwoto, dan Anton, berangkat menuju kapal perang Sekutu menggunakan kapal motor cepat untuk melakukan peninjauan.

Mereka saling berpandangan dengan pihak kapal Sekutu, tetapi tidak terjadi kontak lebih lanjut.

Seluruh kejadian tersebut dilaporkan Soejono melalui telepon kepada pimpinan T.K.R. Laut yang berada di Hotel Ngemplak. Namun, tidak seorang pun dari pimpinan itu datang ke Modderlust. Hidajat pun tidak muncul.

Tak lama kemudian, beberapa wartawan tiba di Modderlust dan bergabung dengan Soejono serta petugas PHB T.K.R. Laut. Di antara mereka terdapat Wiwiek Hidajat dari Antara, Amin Loebis selaku Direktur Antara, Mashoed Sosrojoedo dari Kantor Berita Indonesia, serta para mahasiswa Shika Dai Gakku yang merupakan anak buah Drg. Moestopo.

Mereka semua menyaksikan pendaratan pasukan Inggris dari seberang muara Kalimas.

Wartawan Antara Menyaksikan Pendaratan Inggris

Wiwiek Hidajat dan Amin Loebis kemudian meninggalkan Modderlust dengan sebuah mobil yang bertuliskan PRESS pada kaca depannya.

Mereka melewati Oedjoengweg—kini Jalan Patihunus—kemudian berputar melalui Jembatan Petekan dan melanjutkan perjalanan menyusuri Rotterdamweg, melewati Kalimas Baru.

Tujuan mereka adalah melihat langsung pendaratan pasukan Inggris.

Di sana, mereka mendapati bahwa pasukan Inggris rupanya telah mendarat di Rotterdamweg, kawasan Jamrud Utara, dan Amsterdamweg, kawasan Jamrud Selatan.

Ketika mobil bertuliskan PRESS itu mendekat, pasukan Inggris bersiap untuk menembak. Namun, Wiwiek Hidajat dan Amin Loebis tetap melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian mengarahkan mobil menuju H.V.A., markas T.K.R. Jawa Timur yang dipimpin Drg. Moestopo.

Sepanjang jalan di sekitar pelabuhan, tampak para pemuda bersenjata berjaga-jaga. Ironisnya, mereka tampaknya belum menyadari bahwa pasukan Inggris telah mendarat di dermaga.

Setibanya di H.V.A., kedua wartawan itu segera melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Laporan tersebut diterima Drg. Moestopo dengan penuh kecurigaan dan kewaspadaan.

Drg. Moestopo Mengguncang Kota Surabaya

Mendengar laporan itu, Drg. Moestopo segera mengambil tindakan. Secara demonstratif, ia berkeliling kota menggunakan mobil terbuka, dikawal ketat oleh pasukan bersenjata.

Di sepanjang perjalanan, ia berteriak-teriak mengingatkan rakyat Surabaya agar meningkatkan kewaspadaan.

“Siaaap!!! Siaaapp!!! Nanti malam saya menyampaikan pidato radio yang amat penting. Harap didengarkan dengan sungguh-sungguh!!!”

Sikap Drg. Moestopo yang begitu keras dan penuh semangat itu disaksikan langsung oleh Mr. Sartono. Menilai bahwa keadaan semakin mengkhawatirkan, Sartono merasa upayanya untuk meredakan situasi telah gagal. Ia pun melaporkan apa yang disaksikannya kepada pemerintah pusat di Jakarta.

Menteri Negara Mr. Sartono

 

Mendengar laporan tersebut, Presiden Soekarno akhirnya turun tangan. Pada petang itu juga, ia terpaksa menghubungi Drg. Moestopo melalui telepon dan berbicara dalam bahasa Belanda.

Perintah Presiden sangat tegas:

“Niet vuren! Niet vuren!”

(Jangan menembak! Jangan menembak!)

Drg. Mestopo.

Drg. Moestopo menjawab bahwa lebih baik mati daripada kembali dijajah. Namun, Presiden Soekarno tidak mengubah sikapnya. Dengan tegas, ia menekankan kedudukan Moestopo sebagai seorang mantan daidancho sekaligus perwira militer yang harus mematuhi perintah atasan.

Presiden kemudian menegaskan:

“Dokter Moestopo, bekas Daidancho dan militer, harus dengar perintah atasan. Presidenmu, Panglima tertinggimu memerintahkan, NIET VUREN! Perintah selesai!”

Perintah itu menandai benturan sikap yang semakin nyata antara pusat pemerintahan Republik di Jakarta dan para pejuang di Surabaya. Di satu pihak, pemerintah pusat berusaha menghindari bentrokan dengan pasukan Inggris yang secara resmi datang untuk mengurus tentara Jepang dan tawanan perang. Di pihak lain, para pejuang Surabaya menghadapi kedatangan pasukan asing dengan kecurigaan mendalam, di tengah semangat mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Lantas, apakah sikap Jakarta dan Surabaya memang berbeda?

Bersambung ke #3.

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: