Mereka yang Bertempur
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya terlalu besar jika hanya dilekatkan pada satu-dua nama orang saja. Faktanya, ada begitu banyak nama dari berbagai macam latar belakang etnis, gender, dan profesi yang turut terlibat di dalamnya. Beberapa sudah banyak dikenal publik. Sebagaian besar, belum banyak dikenal publik.
Salah satunya adalah Mayor Jenderal Prof. Dr. Moestopo, atau yang lebih akrab dikenal masyarakat sebagai Drg. Moestopo.
Sosok berjiwa eksentrik dan penuh gelora keberanian ini lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 13 Juli 1913. Sebelum gelora revolusi meletus, Moestopo merupakan seorang terpelajar: dokter gigi lulusan STOVIT (Sekolah Dokter Gigi) Surabaya pada tahun 1937. Karier akademis dan medisnya sempat mengantarkannya menjabat sebagai Wakil Direktur STOVIT. Namun, ketika pendudukan Jepang dimulai, ia memilih jalur militer dengan mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (PETA), hingga dipercaya memegang komando sebagai komandan kompi di Sidoarjo dan komandan batalyon di Gresik.

Drg. Moestopo. Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan RI
Pasca-Proklamasi Kemerdekaan dan pembubaran PETA, Drg. Moestopo memegang peranan kunci dalam menghimpun kekuatan bersenjata rakyat di Jawa Timur. Pada 2 September 1945, ia mempelopori pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur dan terpilih sebagai ketuanya. Dalam suasana kota yang kian genting menantikan kedatangan balatentara asing, Moestopo bahkan mengangkat dirinya secara tidak resmi sebagai “Menteri Pertahanan At Interim” sekaligus Komandan Pertempuran Surabaya demi menyatukan komando perlawanan.
Aksinya di jalanan Surabaya menjadi legenda perlawanan rakyat. Dengan mengendarai mobil terbuka dan memegang pedang terhunus di tangan, Moestopo berkeliling kota menyerukan rakyat agar bersiap siaga menghadapi bahaya pendaratan pasukan Inggris dan NICA. Melalui siaran radio, ia menyampaikan maklumat dan peringatan keras dengan gaya bahasanya yang lugas dan berapi-api:
“Inggris! NICA! Jangan mendarat! Kalian orang terpelajar! Tahu aturan! Jangan mendarat!”
Keberanian dan kelugasannya membuat Gubernur RMTA Soerjo memberikan kepercayaan penuh kepada Drg. Moestopo untuk bertindak atas nama Pemerintah Jawa Timur dalam melakukan perundingan dengan Komandan Pasukan Inggris, Brigadier A.W.S. Mallaby, saat Sekutu pertama kali mendaratkan pasukannya di Tanjung Perak.
Tidak hanya berfokus pada taktik militer, Drg. Moestopo sangat memahami pentingnya ketahanan logistik di garis belakang. Ia mengomandoi pembongkaran gudang-gudang persediaan makanan dan pakaian bekas tentara Jepang di Tanjung Perak dan Kalimas, lalu menyerahkan pengelolaan logistik tersebut kepada organisasi perempuan seperti Dapur Umum yang dipimpin Bu Dar Mortir.
Ahmad Zaki Yamani, Ketua Begandring Soerabaia, mengatakan, “Moestopo merancang strategi Himitsu senso sen (perang rahasia) yang dipadukan dengan Senga sen (perang kota) untuk menguras stamina dan memecah konsentrasi pasukan Sekutu,” ujarnya.
Zaki juga menilai bahwa Drg. Moestopo adalah figur pejuang yang unik dan serba bisa dalam panggung Revolusi Surabaya.
“Drg. Moestopo adalah gabungan antara akademisi, komandan perang yang tangguh, dan orator rakyat yang karismatik. Keberaniannya mendirikan BKR Jawa Timur menjadi cikal bakal penting lahirnya struktur pertahanan yang kelak bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia,” lanjutnya.
Setelah masa perang kemerdekaan usai, pengabdian Drg. Moestopo terus berlanjut di bidang militer dan pendidikan nasional. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional, menjabat sebagai Penasehat Jenderal Soedirman, hingga mendirikan Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo di Jakarta. Sang dokter perang ini mengembuskan napas terakhirnya di Bandung pada 29 September 1986 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Biodata Singkat
- Nama Lengkap: Mayjen Prof. Dr. Moestopo (Drg. Moestopo)
- Lahir: Kediri, Jawa Timur, 13 Juli 1913
- Wafat: Bandung, Jawa Barat, 29 September 1986
- Peran 10 November 1945: Pendiri dan Ketua BKR Jawa Timur; Menteri Pertahanan At Interim / Komandan Pertempuran Surabaya; Negosiator utama mewakili Republik saat kedatangan Brigadier A.W.S. Mallaby; Penggagas strategi perang kota (Senga sen) dan perang rahasia (Himitsu senso sen); Mengomandoi pengambilalihan logistik gudang Jepang untuk Dapur Umum Pertahanan.
- Makam: Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung