Sekitar April 1913, Henk Sneevliet mengunjungi rumah R.M. Oemar Said Tjokroaminoto di Plampitan, Surabaya. Dalam pertemuan itu, Sneevliet mendapati pemimpin Sarekat Islam tersebut sedang membaca buku tentang teori sosialisme.
Peristiwa ini terekam dalam kesaksian Sneevliet yang ditulis Max Perthus di buku Henk Sneevliet: Revolutionair in Azië en Europa. Pertemuan ini menarik karena keduanya kelak dikenang melalui jalur ideologi yang berbeda.
Sneevliet dikenal sebagai salah satu perintis gerakan komunis di Hindia Belanda, sementara Tjokroaminoto menjadi Presiden Centrale Sarekat Islam. Namun, hubungan mereka memperlihatkan bahwa sejarah pergerakan Indonesia tidak selalu dibatasi garis ideologi yang tegas.
Sneevliet tiba di Surabaya pada 23 Maret 1913 dengan kapal D. van Twist. Semula ia bekerja sebagai wartawan di Soerabaiasche Handelsblad. Ia hanya tiga bulan berada di Surabaya sebelum pindah ke Semarang untuk bekerja di koran Handelsvereeniging pada Juni 1913.
Saat Sneevliet dan Tjokroaminoto bertemu di rumah kontrakan itu, usia mereka hampir sebaya. Tjokroaminoto, yang lahir pada 16 Agustus 1882, berusia 30 tahun. Sedangkan Sneevliet berusia 29 tahun.

Tjokroaminoto telah menetap di Surabaya sejak 1906. Ia menyewa rumah di kawasan Plampitan, bekerja sebagai juru tulis di kantor dagang, sekaligus mengikuti sekolah teknik pada malam hari di BAS Kranggan. Namanya mulai dikenal sejak 1909, ketika bergabung dengan Societeit Panti Harsojo, organisasi politik pertama warga kota.
Pada 26 Januari 1913, Tjokroaminoto memimpin rapat besar Sarekat Islam di taman kota Surabaya. Peristiwa itu memperlihatkan semakin luasnya pengaruh organisasi tersebut. Sosok Tjokroaminoto pun mulai diperhitungkan.
Ketika Sneevliet tiba di Surabaya, kota industri ini tengah menjelma menjadi pusat pertumbuhan gerakan massa.
Sneevliet mengenang bahwa ketika mengunjungi rumah Tjokroaminoto, cucu bupati Ponorogo itu sedang membaca De Socialisten: Personen en Stelsels, karya sejarawan Belanda H.P.G. Quack yang membahas tokoh dan pemikiran sosialisme dunia.
Tjokroaminoto telah mengenal pemikiran sosialisme jauh sebelum kedatangan Sneevliet. Buku yang dibacanya termasuk bacaan yang juga dipelajari kelompok diskusinya selama ini di Eropa. Sneevliet menafsirkan minat tersebut sebagai upaya Tjokroaminoto mencari landasan teori dan program praktis bagi gerakannya.
Empat tahun kemudian, pada 1918, Sneevliet mendapat kesempatan berpidato dalam kongres Sarekat Islam di Surabaya. Tjokroaminoto duduk di kursi depan ketika Sneevliet berpidato.
“Weet gij nog R.M.O.S. Tjokroaminoto, hoe ik ruim 4 jaar geleden, in Soerabaja zijnde, pas kort in Indië en van ganscher harte meelevende de opkomst van de groote volksbeweging, die toen al door U werd geleid, U opzocht in Uw woning op Plampitan, U duidelijk mijn warme sympathie voor de S.I. openbaarde en van U gegevens kreeg om de strijdende arbeidersklasse in Holland in te lichten over de beteekenis der nieuwe beweging?”
Artinya: “Masih ingatkah Anda, R.M.O.S. Tjokroaminoto, bagaimana lebih dari empat tahun lalu, ketika saya berada di Surabaya, baru saja tiba di Hindia Belanda, dan sepenuh hati mengikuti kebangkitan gerakan rakyat besar yang saat itu telah Anda pimpin, saya mengunjungi Anda di rumah Anda di Plampitan, menyatakan dengan jelas simpati hangat saya kepada Sarekat Islam, dan menerima dari Anda bahan-bahan untuk memberi penjelasan kepada kelas buruh yang sedang berjuang di Belanda mengenai arti penting gerakan baru itu?”
Sneevliet datang dengan pengalaman dalam gerakan buruh dan sosialisme di Belanda. Di Surabaya, ia kemudian ikut mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pada 1914, organisasi yang kelak menjadi salah satu cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Keanggotaan ISDV juga diikuti sejumlah pemuda anggota Sarekat Islam.
Bantuan untuk Sneevliet
Pada September 1918, dalam sidang pimpinan Sarekat Islam di Surabaya, dibentuk Kas Wakaf Pergerakan Kemerdekaan Sarekat Islam yang diketuai R. Tjokrosoedarmo. Badan ini bertujuan membantu tokoh-tokoh pergerakan yang menjadi korban tindakan pemerintah kolonial, termasuk mereka yang berada di luar Sarekat Islam.
Keputusan itu lahir ketika tekanan terhadap gerakan rakyat semakin keras. Sneevliet menghadapi ancaman deportasi dari Hindia Belanda. Darsono telah dipenjara di Surabaya sejak September 1918 karena perkara delik pers. Sejumlah aktivis lain juga menghadapi tuntutan dan tekanan pemerintah. Dalam situasi tersebut, kas wakaf menjadi sarana solidaritas bagi mereka yang mengalami represi.
Sneevliet akhirnya dideportasi ke Belanda pada Desember 1918. Dalam rapat pimpinan Sarekat Islam Pusat di Surabaya pada awal Januari 1919, Semaoen mengusulkan agar Sneevliet mendapat bantuan keuangan sekaligus diangkat sebagai wakil Sarekat Islam di Belanda. Tugasnya adalah menyampaikan aspirasi rakyat Hindia Belanda kepada masyarakat dan pemerintah Belanda.
Usulan itu memicu perdebatan. Sejumlah anggota pimpinan khawatir Sarekat Islam akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik Sneevliet. Tjokroaminoto mendukung pengangkatan tersebut, tetapi dengan batasan: mandatnya dapat dicabut apabila Sneevliet melampaui tugas yang diberikan.
Dalam Oetoesan Hindia yang dikutip oleh majalah kolonial Belanda Koloniaal Weekblad, edisi 27 Maret 1919, keputusan didahului pemungutan suara.
Hasilnya lima suara setuju, empat menolak, dan satu abstain. Sarekat Islam pun mengirim bantuan keuangan, kemudian membuka jalan bagi Sneevliet untuk mewakili kepentingan Sarekat Islam di Belanda, dengan mandat yang terbatas dan dapat dicabut.
Sosialisme Sarekat Islam
Hubungan Sarekat Islam dengan sosialisme setelah itu justru berkembang menjadi salah satu sumber pertentangan di dalam organisasi. Pengaruh Marxisme semakin kuat di kalangan SI Semarang karena keberadaan ISDV. Sementara itu, Abdul Muis menentang pengaruh komunis di dalam SI. Tjokroaminoto berada di tengah pertentangan tersebut.
Sosialisme sendiri bukan gagasan yang asing bagi SI. Dalam Islam dan Sosialisme yang terbit pada 1924, Tjokroaminoto membahas persamaan dan keadilan sosial berdasarkan ajaran Islam. Baginya, cita-cita sosialisme dapat dipertemukan dengan nilai-nilai Islam, tanpa harus menerima seluruh dasar pemikiran Marxisme.
Perbedaan ideologi itu semakin tajam hingga kebijakan disiplin partai pada 1921 mempertegas perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih. Kelompok SI Merah semakin dekat dengan gerakan komunis, sedangkan SI Putih mempertahankan Islam sebagai landasan perjuangan.
Perpecahan ini menandai berakhirnya upaya mempertahankan beragam arus ideologi dalam satu organisasi. Padahal, kedua kelompok tumbuh dari perlawanan yang sama, yaitu antikolonialisme.