Pada Mei 1677, kawasan Ngampel Denta di Surabaya menjadi salah satu titik penting menjelang pertempuran antara pasukan gabungan Belanda (VOC) dan Mataram melawan pasukan Trunajaya dari Madura. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari rangkaian konflik yang berlangsung di kawasan Surabaya pada masa itu.
Berdasarkan buku Runtuhnya Istana Mataram karya H.J. de Graaf, pasukan Belanda yang dipimpin Speelman mulai mendarat di kawasan Ngampel Denta pada 2 Mei 1677. Pendaratan dilakukan melalui Sungai Ampel atau Rivier van Ampel, yang kini dikenal masyarakat sebagai Kali Pegirikan.
Pasukan VOC Menduduki Ngampel Denta
Tiga hari setelah pendaratan, tepatnya pada 5 Mei 1677, pasukan Belanda melanjutkan pendudukan atas kawasan Ngampel Denta. Wilayah yang dikuasai itu termasuk kompleks candi dan makam keramat yang disebut memiliki banyak tempat persembunyian.
Dalam catatan yang dikutip dari buku tersebut, makam-makam keramat itu turut jatuh ke tangan Belanda. Raden Trunajaya pun menyampaikan pesan dengan sungguh-sungguh kepada pihak Belanda agar tempat-tempat tersebut dipelihara dengan baik.
Membangun Kubu Pertahanan
Setelah menguasai kawasan itu, Speelman dan pasukannya menjadikan Ngampel Denta sebagai lokasi pertahanan. Perbekalan perang didatangkan untuk memperkuat kedudukan mereka, sementara empat pucuk meriam dipasang di kawasan tersebut.
Pada 6 Mei 1677, pembangunan kubu pertahanan dan perkemahan Belanda di Ngampel Denta telah selesai. Garis pertahanan mereka dibangun berhadapan dengan garis pertahanan pasukan Madura yang dipimpin Trunajaya.
Rangkaian peristiwa pada 2–6 Mei 1677 tersebut menggambarkan bagaimana Ngampel Denta menjadi kawasan strategis dalam persiapan menghadapi pertempuran antara pasukan VOC dan Mataram dengan pasukan Trunajaya.
Sumber: H.J. de Graaf, Runtuhnya Istana Mataram.