MEREKA YANG BERTEMPUR
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya terlalu besar jika hanya dilekatkan pada satu-dua nama orang saja. Faktanya, ada begitu banyak nama dari berbagai macam latar belakang etnis, gender, dan profesi yang turut terlibat di dalamnya. Beberapa sudah banyak dikenal publik. Sebagaian besar, belum banyak dikenal publik.
Salah satunya adalah Isbandijah Soengkono, gadis pejuang asal Plampitan, Surabaya.
Isbandijah lahir di Plampitan pada 25 Agustus 1924. Ia bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Bubutan. Di sekolah inilah ia mengenal Soengkono, yang ketika itu menjadi guru olahraganya. Setelah sama-sama berperang di Surabaya, setahun kemudian keduanya menikah. Tepatnya pada 8 Januari 1946. Pernikahan yang dilakukan dalam situasi perang revolusi kemerdekaan masih berlangsung.

Isbandijah Soengkono. Sumber: Begandring
Namun, Isbandijah dikenal bukan karena menjadi istri seorang komandan. Bahkan sebelum menikah dengan Soengkono, ia sudah terlibat dalam kegiatan perjuangan.
Pada masa pendudukan Jepang, Isbandijah menjadi anggota Joshi Seinen Shuishintai, atau Barisan Pelopor Wanita. Ia termasuk pemudi Surabaya yang dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan. Para pemudi tersebut mendapat pendidikan dan pembinaan mental untuk menjalankan tugas sebagai bagian dari barisan pelopor.
Setelah Indonesia merdeka, pengalaman itu menjadi bekal bagi Isbandijah untuk terjun dalam perjuangan di Surabaya.
Ketika Pertempuran 10 November pecah, ia bergabung dalam kegiatan Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI). Bersama perempuan-perempuan lainnya, Isbandijah tidak membawa senapan ke garis depan.
Isbandijah memilih pekerjaan yang tak kalah penting: menolong mereka yang terluka dan menyediakan makanan bagi para pejuang.
Di Jalan Plampitan, ia memimpin pos Palang Merah sekaligus dapur umum PPRI bersama Loekitaningsih.
Penelusuran Begandring berhasil menemukan titik rumah keluarga Isbandijah Soengkono.
Rumah keluarganya di kawasan tersebut bahkan menjadi tempat para perempuan memasak selama masa pertempuran.

Pak Nono menunjukkan foto keluarga Mayjen Soengkono dan Bu Isbandijah Soengkono kepada para Subtrackers yang dipandu oleh Kuncarsono Prasetyo (kanan). Foto: begandring.com
Baca juga: Subtrackers Begandring Temukan Rumah Lahir Perempuan-Pejuang Surabaya, Isbandijah Soengkono
Dari tempat inilah makanan disiapkan untuk membantu kebutuhan para pejuang.
Kiprah Isbandijah menunjukkan bahwa peran perempuan dalam Revolusi Kemerdekaan amat penting meski tidak selalu hadir dalam bentuk pertempuran bersenjata.
Isbandijah dan rekan-rekannya sesama perempuan bahu membahu bekerja di pos kesehatan, merawat mereka yang menjadi terluka. Juga, turut memasak di dapur umum demi memberi makan para pejuang dan warga lainnya di masa perang.
Ahmad Zaki Yamani, Ketua Begandring Soerabaia mengatakan, peran seperti yang dijalankan Isbandijah sering luput dari cerita besar tentang Pertempuran Surabaya.
“Padahal, perang tidak mungkin berlangsung tanpa orang-orang yang mengurus kebutuhan di belakang medan tempur,” ujarnya.
Ya, Isbandijah adalah salah satunya. Dan masih banyak lagi perempuan pejuang yang terlibat dalam pertempuran. Simak siapa saja mereka di artikel selanjutnya.
Biodata singkat
- Nama: Isbandijah Soengkono
- Lahir: 25 Agustus 1924, Plampitan, Surabaya
- Wafat: 27 Desember 2012
- Peran 10 November 1945: Memimpin pos Palang Merah dan dapur umum PPRI di Jalan Plampitan
- Suami: Mayjen Soengkono
- Makam: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta