Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 5): Doel Arnowo, Sukarnois di Lingkungan Kiri

Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 5): Doel Arnowo, Sukarnois di Lingkungan Kiri
begandring.com -

Oleh : Kuncarsono Prasetyo
Beberapa hari setelah kedatangannya di Surabaya, Moesso sudah berada di sebuah rumah di dalam kampung. Hari belum terlalu jauh beranjak ketika seorang kurir datang membawa satu setumpuk surat kabar yang baru selesai dicetak. Salah satu eksemplar diserahkan kepadanya. Tintanya masih pekat, kertasnya terasa baru keluar dari percetakan.

Di kepala halaman tercetak nama yang berbeda dari sebelumnya: Indonesia Berdjoang . Di salah satu halamannya, artikel Moesso tampak dimuat, yaitu mengenai garis komunisme antifasis Georgi Dimitrov. Di Indonesia Berdjoang , Moesso menulis tiga artikel yang dikirim melalui Pamoedji. Salah satu redaktur.

Koran yang ada di tangan Moesso itu bukan penerbitan baru. Orang-orang Surabaya sebelumnya mengenalnya sebagai Berdjoang , surat kabar yang sudah terbit sejak 1933 dan menjadi organ Partindo. Pada 13 April 1935, nama lama itu berubah. Kata “Indonesia” ditambahkan di depannya. Sejak hari itu, Berdjoang  terbit dengan nama Indonesia Berdjoang . Dua bulan setelah Moeso tiba.

Koran Indonesia Berdjoeang. Sumber: Pusat Data Begandring Soerabaia

Di bagian paling atas susunan redaksinya tercetak nama Doel Arnowo sebagai hoofdredacteur. Yang ganjil, lelaki yang namanya tercetak sebagai pimpinan redaksi itu tidak berada di meja redaksi saat itu. Arnowo ada di balik penjara Sukamiskin, Bandung, Pada akhir 1934 dia divonis 15 bulan penjara akibat menerbitkan Kamoes Marhaen.

 Saat edisi pembukaannya terbit pada April, Indonesia Berdjoang  dicetak dengan tinta merah. Surat kabar itu terbit tiga kali seminggu dan dicetak di Percetakan Sentosa, Kramat Gantoeng 62, Surabaya. Nama Arnowo tetap tercantum di susunan redaksi, meskipun saat itu ia masih berada di penjara. Pekerjaan sehari-hari sementara dijalankan Pamoedji, Ketua Partindo Surabaya, yang duduk sebagai redaktur. Di sampingnya tercantum nama Soemadi. Pemuda berusia 26 tahun asal Gresik itu pernah menempuh pendidikan kedokteran di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS), Karangmenjangan.

Jaringan redaksinya juga menjangkau pimpinan Partindo di luar Surabaya. Sejumlah tokoh pusat tercantum sebagai kontributor tetap atau vaste medewerkers, di antaranya Mohammad Jamin, Sartono, Ali Sastroamidjojo, Soediro, dan dr. Samsi.

Jamin membuka salah satu nomor awal dengan tulisan tentang masyarakat yang menurutnya masih hidup dalam kebodohan politik dan membutuhkan penjelasan dari orang-orang yang lebih memahami keadaan. Nada tulisannya cukup militan, disertai penolakan terhadap segala sesuatu yang dianggap “berbau borjuis”.

Bagi Jamin, Indonesia Berdjoang  tidak cukup hanya menyampaikan berita. Surat kabar itu harus membantu pembacanya memahami persoalan yang mereka hadapi, membangun kesadaran politik, sekaligus menunjukkan arah perjuangan yang hendak ditempuh.

Ali menulis pada nomor yang sama. Nadanya sama-sama optimistis dan penuh semangat. Ia melihat Indonesia Berdjoang  bukan sekadar sebagai tempat memuat berita dan pendapat, melainkan sebagai bagian dari perjuangan politik yang sedang dijalankan Partindo.

Ali dan Samsi sebenarnya bukan nama baru di sekitar Arnowo. Keduanya sama-sama aktif di Partindo dan berada dalam lingkaran politik yang juga melibatkan Soekarno. Beberapa tahun sebelumnya, mereka sudah bertemu dalam kegiatan pers yang melibatkan Arnowo. Ketika nama Ali dan Samsi kembali muncul dalam Indonesia Berdjoang , hubungan itu bukan sesuatu yang baru, melainkan kelanjutan dari jaringan pers dan politik yang telah terbentuk sebelumnya.

Sejak masih bernama Berdjoang , surat kabar ini sudah dekat dengan Partindo dan kemudian tampil sebagai organ partai di Surabaya.

Anggota PNI yang Dipecat Kantornya

Arnowo mengawali karier politiknya dari dunia pers. Sejak menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, ia mulai semakin aktif dalam kegiatan jurnalistik. Aktivitas itu menguat pada 1931, ketika PNI bubar dan pergerakannya pecah menjadi Partindo dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Saat itu Arnowo masih bekerja sebagai pegawai Post, Telegraaf en Telefoondienst (PTT), pekerjaan yang telah dijalaninya sejak 1920.

Dul Arnowo. Salah satu tokoh penting dalam 10 November 1945. Sumber: Arsip Kota Surabaya

Di luar jam kerja di kantor pos, namanya sudah berada di pucuk sebuah penerbitan bernama Soeara Soerabaia. Dua nomor pertamanya terbit pada 15 Oktober dan 1 November 1931. Bentuknya menyerupai majalah, terbit dua kali sebulan, dan dicetak di Drukkerij Djawa Timoer, Surabaya. Di sana Arnowo bekerja bersama A. Zakaria dan M.S. Dirdjosiswojo. Urusan percetakannya ditangani Soeparnadi, bekas redaktur Soeara Indonesia yang ketika itu sudah berhenti terbit.

Pada 26 Mei 1932, Soeara Soerabaja mulai berkembang lebih luas setelah berada di bawah payung bersama sejumlah organisasi Surabaya: Perkoempoelan Indonesia, Moehammadijah, Persatoean Kaoem Soerabaja, dan Taman Siswa. Dari sini, pergaulan politik Arnowo ikut melebar. Ia mulai berhubungan dengan nama-nama seperti Samsi, Ali, Koesnan Notodipoetro, dan dr. Angka Nitisastro.

Jaringan itu kemudian membawanya lebih dekat ke PBI. Pada 23 Oktober 1932, Arnowo sudah tercatat aktif dalam kegiatan PBI ketika organisasi tersebut membentuk perkumpulan pertolongan bencana bersama. Di dalamnya muncul pula nama R. Soengkono, R. Sosrodipoero, R. Soekardi, Prawiroatmodjo, Soemodihardjo, R. Ramelan, dan Ny. Poerwokoesoemo.

Memasuki 1933, arah politik Arnowo sudah bergeser ke Partindo. Pada Juli tahun itu, ia menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Kamoes Marhaen. Isinya sederhana tetapi tajam: istilah-istilah politik asing dijelaskan satu per satu dalam bahasa Melayu agar lebih mudah dipahami pembaca. Buku itu cepat laku. Dalam waktu singkat, sekitar seribu eksemplar sudah terjual, dengan harga ƒ0,60 dan ƒ0,95.

Masalah muncul beberapa bulan kemudian. Pada 20 Oktober, PID menggerebek rumah Arnowo. Polisi menyita 475 eksemplar Kamoes Marhaen yang masih tersisa. Bagi PID, buku kecil itu bukan sekadar kamus politik. Mereka menyebutnya bacaan ekstremis, semacam ensiklopedia politik dengan sejumlah penjelasan istilah yang dianggap terlalu tajam dan tendensius.

Arnowo saat itu masih berstatus pegawai pemerintah, tetapi kegiatan politiknya sudah semakin sulit dipisahkan dari pekerjaan sehari-hari. Bahkan di lingkungan kantor pos, ia memimpin perkumpulan buruh. Pada Agustus 1933, PID memanggilnya dan memberi pilihan yang tegas: menghentikan seluruh kegiatan politik lalu kembali bekerja penuh sebagai pegawai pemerintah, atau meninggalkan kantor pos.

Arnowo memilih keluar. Kepada kawan-kawannya di perkumpulan buruh kantor pos, ia meninggalkan kalimat pendek: “Sampai berjumpa kembali di Indonesia yang merdeka.”

Sejak Agustus 1933, pekerjaan yang telah dijalaninya bertahun-tahun itu pun berakhir. Ia memilih untuk bergerak sepenuhnya di dunia politik. Selepas keluar dari kantor pos, Arnowo mulai membangun alat penerbitannya sendiri. Ia menghubungi Sosrokardono, sahabat yang dikenalnya di PBI, dan meminta bantuan untuk mencarikan sebuah hand press beserta seperangkat huruf cetak. Peralatan itu akhirnya dibeli dengan tabungan istrinya, sekitar 80 gulden.

Dari mesin cetak sederhana itulah Berdjoang  lahir pada 6 November 1933. Koran itu terbit ketika ruang politik di Surabaya sedang menyempit. Setelah peristiwa De Zeven Provinciën, pemerintah kolonial memperketat rapat-rapat organisasi. Soeara Oemoem, surat kabar di lingkungan PBI, juga sempat dihentikan penerbitannya. Di tengah tekanan itulah Berdjoang  mulai beredar, berdampingan dengan beberapa penerbitan pergerakan lain yang masih bertahan.

Berdjoang  terbit setiap Selasa dan Rabu. Di bawah kepala koran tercantum semboyan nationalistisch blad op marhaenistischen grondslag—surat kabar nasionalis yang berlandaskan Marhaenisme. Arnowo mengelolanya dari rumahnya sendiri. Genteng Sidomukti nomor 14.

Koran Indonesia Berdjoeang. Sumber: Pusat Data Begandring Soerabaia

Isi korannya begitu dekat dengan kehidupan politik sehari-hari. Berdjoang  menulis persoalan Surabaya, kebijakan pemerintah kolonial, pertentangan di tubuh pergerakan nasional, sampai razia dan pemeriksaan PID. Cerita tentang orang-orang yang dikenai tahanan rumah atau dibuang ke Boven Digul juga masuk ke halamannya. Begitu pula kabar dari berbagai organisasi pergerakan, yang masih mencoba beraktivitas ketika ruang berkumpul semakin sempit.

Isi Berdjoang  tidak berhenti pada persoalan Surabaya. Pembacanya juga diajak mengikuti perdebatan tentang komunisme internasional, politik Belanda, kegiatan Perhimpoenan Indonesia, hingga hubungan gerakan nasional Indonesia dengan berbagai organisasi di Eropa.

Namun, perkara Kamoes Marhaen belum selesai, meskipun Arnowo sudah meninggalkan pekerjaannya di kantor pos. Pada Januari 1934, ia ditahan dalam perkara tersebut. Penahanan itu tidak serta-merta menghentikan Berdjoang. Surat kabar tersebut tetap terbit. Pada 21 Februari, salah seorang wartawannya bahkan berada di Tasikmalaya untuk mewawancarai Inggit Garnasih di sebuah hotel, menjelang keberangkatan Soekarno ke Ende. Dari Klaten, S.K. Trimurti juga masih mengirimkan tulisan sebagai kontributor.

Baru pada 22 Maret 1934, perkara Arnowo masuk ke Landraad, pengadilan bumiputra. Sidang dipimpin R. Soeprapto. Arnowo didakwa melakukan penghasutan dan mengganggu ketertiban umum melalui buku saku Kamoes Marhaen yang ia terbitkan. Mr. Soebardjo tampil sebagai pembelanya. Arnowo berkali-kali membantah tuduhan tersebut. Perkara itu berjalan berbulan-bulan. Pada 3 Desember 1934, pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman satu tahun tiga bulan penjara kepadanya. (bersambung)

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: