Di Balik Pertempuran Surabaya (Bagian 2): Jaringan di Luar Komando

Di Balik Pertempuran Surabaya (Bagian 2): Jaringan di Luar Komando
begandring.com -

Oleh : Kuncarsono Prasetyo

Sehari setelah konferensi pers pada 26 Oktober, Kapten P.R. Shri Mani bertemu sejumlah orang yang memperkenalkan diri sebagai anggota kelompok pemuda.

Pada 27 Oktober 1945, bersama wartawan New York Times, Ralph Conniston, Shri Mani menerima tawaran dari tiga anggota Pemuda untuk berkeliling Surabaya. Mereka datang atas perintah pejabat bagian penerangan organisasi Pemuda di Jakarta yang ingin membantu para wartawan mengenal situasi kota. Salah seorang anggota rombongan itu bernama Jamal Ali, seorang wartawan berjenggot yang sempat aktif di Indonesia Moeda. Di sampingnya terdapat seorang perempuan bertubuh mungil yang dalam diidentifikasi bernama Tri Soetji.

Anggota ketiga adalah seorang perempuan Kristen asal Bali yang fasih berbahasa Inggris.

Sosok terakhir ini dikenal dengan panggilan K’tut Tantri, nama warga Amerika bernama Muriel Stuart Walker yang masuk dalam jaringan Barisan Pemberontak Repoeblik Indonesia (BPRI). Conniston sengaja memilih perempuan Bali tersebut sebagai pemandu mereka.

K’tut Tantri. Sumber: goodreads.com

Setelah memperoleh izin perjalanan dari Markas Besar Kepolisian, rombongan berangkat menyusuri kota. Dalam perjalanan, mereka melihat pesawat-pesawat Spitfire milik RAF menjatuhkan selebaran dari udara. Polisi berusaha mencegah penduduk mengambil selebaran itu.

Tantri yang mendampingi rombongan sempat membaca isinya dan tampak murung. Shri Mani kemudian mengambil selebaran tersebut dan mengetahui bahwa isinya memerintahkan rakyat Indonesia menyerahkan senjata. Ia menilai tuntutan itu sulit diterima oleh rakyat Indonesia yang telah memperoleh kemerdekaan dan merasa bangga dengan senjata yang mereka miliki.

Pemandu mereka memperingatkan bahwa keadaan akan segera menjadi berbahaya. Ia lalu mempercepat perjalanan menuju kantor berita Antara, gedung yang berada di depan Hotel tempat Shri Mani menginap. Setelah mengajak Shri Mani dan Conniston berkeliling, Tantri mengantar mereka kembali ke hotel.

Pada hari itu pula, Shri Mani mencatat pertemuannya dengan T.D. Kundan. Kundan adalah saudagar tekstil keturunan Sindhi asal India yang menetap di Surabaya sejak 1931. Ia merupakan tokoh penting komunitas India di kota ini dan memiliki hubungan dengan para pemimpin Republik maupun perwira Inggris. Kundan berperan sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara pejuang Indonesia dan pasukan Inggris. Shri Mani bahkan menyebutnya sebagai penghubung utama antara pihak Inggris dan para pemimpin lokal. Dalam catatan tertanggal 5 November 1945, Shri Mani menyebut Kundan berusia 35 tahun, seorang pedagang sekaligus anggota komite penghubung.

T.D. Kundan. Sumber: wikimedia

Pada hari-hari berikutnya, Kundan beberapa kali menyampaikan tawaran gencatan senjata. Ia membawa bendera putih dan bahkan berada di dekat Brigadir Mallaby ketika sang brigadir ditembak. Kundan sendiri mengalami luka ringan.

Peran Kundan memperlihatkan pentingnya jaringan penghubung di tengah ketegangan. Ia memiliki akses kepada masyarakat setempat dan pihak Inggris. Pengaruhnya terletak pada kemampuannya menjalin komunikasi ketika hubungan antara pihak-pihak yang berhadapan semakin sulit.

Peran masyarakat India juga tampak dalam upaya meredakan ketegangan sebelum pertempuran besar pecah. Shri Mani mencatat bahwa para pedagang India berusaha mencegah benturan antara pasukan India dan kelompok bersenjata Indonesia.

TKR Laut dalam perkubuan bertahan di Pelabuhan Tanjung Perak. Sumber: Imperial War Museum (IWM)

Para pemimpin Indonesia khawatir pasukan Gurkha dari arah Tanjung Perak akan bergerak memasuki kota. Mereka meminta para pedagang India menyampaikan keberatan tersebut kepada pihak militer. Para pedagang kemudian berbicara dengan seorang perwira India. Pergerakan pasukan ditahan hingga keesokan pagi. Shri Mani menyebut terdapat sekitar 500 pedagang India di Surabaya yang membantu meredakan ketegangan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa masyarakat India tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan yang diamati oleh intelijen Inggris. Sebagian dari mereka juga berusaha memengaruhi keadaan melalui hubungan sosial dan komunikasi dengan pihak militer. Upaya tersebut berlangsung di luar struktur komando militer dan menjadi salah satu cara untuk mencegah benturan. (bersambung)

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: