Cak Roeslan Abdulgani, Arek Plampitan

Cak Roeslan Abdulgani, Arek Plampitan
begandring.com -

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya terlalu besar jika hanya dilekatkan pada satu-dua nama orang saja. Faktanya, ada begitu banyak nama dari berbagai macam latar belakang etnis, gender, dan profesi yang turut terlibat di dalamnya. Beberapa sudah banyak dikenal publik, tetapi sebagian besar lainnya masih luput dari catatan sejarah utama.

Salah satunya adalah Dr. H. Roeslan Abdulgani, atau yang lebih akrab disapa Cak Roes.

Lahir di Kampung Plampitan, Surabaya, pada 24 November 1914, Cak Roes tumbuh sebagai pemuda terpelajar khas arek Suroboyo. Kesadaran politiknya ditempa sejak usia muda melalui organisasi kepanduan berhaluan nasional Natipy, Jong Islamieten Bond, hingga Indonesia Muda. Setelah mengecap pendidikan di HIS dan HBS Surabaya hingga perguruan tinggi, Cak Roes aktif mengonsolidasikan kelompok diskusi dan gerakan bawah tanah pemuda terpelajar pada masa pendudukan Jepang.

Potret Cak Roes kecil saat bersekolah. Sumber: Masa Kecilku di Surabaya (Roeslan, 2003)

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, peran politik dan diplomasi Cak Roes di Kota Pahlawan melesat cepat. Beliau terpilih memimpin Angkatan Muda Indonesia (AMI) Surabaya dan diangkat sebagai Sekretaris Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Surabaya. Ketika ketegangan dengan militer Sekutu meningkat, Cak Roes memegang posisi kunci sebagai Sekretaris Kontak Biro dari pihak Indonesia untuk berunding secara langsung dengan Kapten Shaw dari militer Inggris. Demi mengimbangi jenjang kepangkatan perunding Sekutu tersebut, Cak Roes secara resmi dianugerahi pangkat militer Kapten Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Di tengah kecamuk Pertempuran 10 November 1945, Cak Roes berdiri di samping Gubernur Soerjo dan Residen Soedirman untuk mengawal diplomasi dan sikap politik pemerintah sipil Indonesia. Setelah pertahanan Surabaya terdesak, beliau melanjutkan perjuangan bergerilya ke Malang hingga ke pusat pemerintahan Republik di Yogyakarta. Pengorbanan fisiknya tercatat secara dramatis saat Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.

Ketika tengah mengayuh sepeda sembari menyelamatkan berkas-berkas penting dan mesin ketik, pesawat tempur Belanda tiba-tiba menembakinya dari udara. Cak Roes melompat berlindung di balik pohon, tetapi terpaan peluru menembus tubuhnya hingga menyebabkan tangan kanannya cacat permanen seumur hidup.

Pejuang cum Cendekiawan. Sumber: Wikimedia

Keandalan berpikir dan kedalaman pemikiran politik Cak Roes menarik perhatian khusus dari Presiden Soekarno. Bung Karno bahkan kerap berseloroh mengutip peribahasa Jawa kebo nyusu gudel (kerbau yang menyusu pada anak kerbau) untuk menggambarkan hubungannya dengan Cak Roeslan. Meskipun Bung Karno bertindak sebagai pemikir senior (kebo), beliau merasa tidak ragu “menyusu” atau menimba gagasan politik dan sejarah dari pidato-pidato cerdas muridnya (gudel).

Dalam pidato penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa Bung Karno di Universitas Padjadjaran pada tahun 1964—di mana Cak Roes bertindak sebagai promotornya—Bung Karno secara terbuka mengaku sampai merasa “kuwalahan” mengimbangi tatanan gagasan ilmiah yang disusun oleh Cak Roeslan. Atas kepakarannya merumuskan ideologi kebangsaan, Bung Karno memercayakannya menjabat sebagai Juru Bicara Manifesto Politik (Jubir USMAN) dan penasihat kepercayaan Presiden.

Ahmad Zaki Yamani, Ketua Begandring Soerabaia, menilai bahwa Cak Roeslan Abdulgani merupakan cerminan utuh dari seorang pejuang, diplomat, dan pemikir kebangsaan.

“Cak Roes adalah jembatan diplomasi vital yang lahir dari parit pertempuran Surabaya 1945. Cak Roes jadi salah satu orang kepercayaan Bung Karno, ia tumbuh menjadi negarawan dunia yang ikut mengawal penuh Sekretariat Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung dan menyuarakan kedaulatan Indonesia di PBB,” tegasnya.

Pasca-perang kemerdekaan, pengabdian Cak Roes di tingkat nasional dan internasional terus berlanjut. Beliau pernah mengemban amanat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, Menteri Luar Negeri RI, Menteri Penerangan, Wakil Perdana Menteri, hingga Duta Besar Luar Biasa RI untuk PBB. Atas dedikasi pemikirannya, beliau dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, dan IAIN Sunan Kalijaga.

Cak Roes mengembuskan napas terakhirnya pada 29 Juni 2005 dalam usia 90 tahun. Tokoh diplomasi dan pahlawan bangsa asal Surabaya ini dimakamkan dengan penghormatan negara di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Biodata Singkat

  • Nama Lengkap: Dr. H. Roeslan Abdulgani (Cak Roes)
  • Lahir: 24 November 1914, Kampung Plampitan, Surabaya
  • Wafat: 29 Juni 2005, Jakarta (Usia 90 tahun)
  • Peran 10 November 1945: Ketua Angkatan Muda Indonesia (AMI) Surabaya; Sekretaris KNI Daerah Surabaya; Sekretaris Kontak Biro RI–Inggris (berpangkat Kapten TKR); Perunding diplomasi di garis depan pertempuran kota.
  • Makam: Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta

 

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: