Bercerita Surabaya
H.J. De Graaf dalam buku karyanya _”Runtuhnya Istana Mataram”_, menggambarkan lokasi kubu-kubu pertahanan Trunåjåyå di Surabaya, yang dibangun pada tahun 1677, untuk menghadang serangan pasukan VOC dan Mataram.
“Setelah Trunåjåyå menguasai Surabaya, dibangunlah kubu-kubu pertahanan, yang salah satunya di sebelah utara _Istana Lama.”_
“Benteng pertahanan yang dibangun Trunåjåyå berbentuk persegi terbuat dari batu. Karena buruknya, ditunjangnya benteng itu dengan batang-batang Pohon Kelapa. Di sekeliling tempat itu terdapat lapangan terbuka, yang ditanami penuh dengan _”Sungga-Sungga Rèncong”_. Hanya sedikit saja jalan masuk yang bebas dari ranjau”.
“Mungkin pada waktu membangun pertahanan itu, ada sebagian tanah yang ditinggikan. Dan tempat-tempat itu dapat dicari di dekat _Jembatan Merah_ sekarang”.
Gambaran kubu pertahanan Trunåjåyå itu, diduga kuat merujuk pada kawasan yang kini banyak berdiri bangunan lama kolonial yang dibangun pada era setelah Surabaya diserahkan kepada VOC pada tahun 1743.
Sebuah lapangan terbuka yang sejak masa kolonial dibiarkan ada, hingga masa perkembangan kota, yang kini dijadikan “Taman Jayěngrånå” dan diganti “Taman Sejarah” inilah yang mewakili kawasan perkubuan Trunåjåyå di saat itu.
#BerceritaSurabaya