SesuWatu
Pada masa klasik, _”Pamotan”_ merupakan sebuah wilayah yang diperintah oleh raja bawahan yang bergelar _”Bhré Pamotan”_ dibawah kekuasaan raja pusat _”Śrī Maharaja”_. Istilah “Bhre” merujuk pada kata “Bhaṭāra i”.
Lokasi _”Pamotan”_ belum diketahui secara pasti, namun ada dugaan kuat lokasi wilayah Pamotan kini terwakili oleh sebuah daerah, yaitu _Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo._ Di daerah tersebut setidaknya masih dijumpai tinggalan arkeologis berupa struktur bata kuno dan fragmen benda purbakala lainnya dalam jumlah yang banyak, beserta situs purbakala yang disebut dengan Candi Pamotan I, Candi Pamotan II, dan Situs Lěmah Duwur.
Di dalam _Sěrat Pararaton_ disebutkan bahwa pada tahun Śaka 1310 (1388 Masehi), ada peristiwa wafatnya seorang tokoh “Bhre Pamotan” (Bhra Prameśwara Pamotan), sebagai berikut :
_”Bhra Prameśwara Pamotan mokta i Śaka gagaṇa-rūpānahut-wulan, 1310, sira sang dhinarmèng mañar, dharmabhiṣeka ring wiṣṇubhawanapura” (Terjemahan : Baginda Prameśwara di Pamotan wafat pada tahun langit-rupa-menggigit-bulan, atau tahun Śaka 1310 (1388 Masehi), beliau didharmakan di Mañar, nama resmi candinya Wiṣnubhawanapura).
_Sěrat Pararaton_ juga menyebut seorang tokoh penguasa di Pamotan, sebagai berikut :
_”Bhré Pamotan añjěněng ing kěling, kahuripan, abhiṣèkanira Śrī Rajasawardhana, mokta Sang Siñagara, dhinarma ring Sěpang i Śaka wiṣaya-kudanahut-wong, 1375. (Terjemahan : Baginda di Pamotan menjadi raja di Kěling, Kahuripan, nama nobatannya Śrī Rajasawardhana Sang Siñagara wafat, dicandikan di Sěpang pada tahun śaka keinginan-kuda-menggigit-orang, atau tahun Śaka 1375 (1453 Masehi).
_Praśasti Canggu (Tråwulan I)_, berangka tahun Śaka 1280 (1358 Masehi), yang dikeluarkan pada masa pemerintahan raja Majapahit “Śrī Rajasanāgara” atau Dyah Hayam Wuruk, menyebut _”…..i pamotan…”_, sebagai salah satu desa tepian sungai (naditira pradeśa).
_Prasasti Kudadu_, berangka tahun Śaka 1216 (1294 Masehi), yang dikeluarkan raja Majapahit Radèn Wijaya (“Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana”), menyebutkan sebuah toponimi daerah _”pamwatan apajěg”_, yang disinggahi Radèn Wijaya saat dikejar pasukan Jayakatwang (Jayakatong). Toponimi “Pamwatan Apajeg” diduga merujuk pada wilayah “Pamotan”.
#SesuWatu
#MelawanLupa
