Ngene Rek Ceritane
Nek sampean liwat kawasan Wonokromo, sing kepikiran palingo ya macet, panas, Kebun Binatang Surabaya, atau wong Surabaya lagi kesusu nang dalan. Tapi di kawasan ini, onok sejarah transportasi umum kota sing puenting. Ya, nang kono tau ngadeg simpul jaringan trem Kota Surabaya: Stasiun Wonokromo OJS.

Stasiun Trem Wonokromo. Sumber: KITLV
Stasiun ini berkaitan dengan Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS), perusahaan trem yang mengembangkan jaringan angkutan penumpang dan barang di Surabaya dan sekitarnya.
Stasiun Wonokromo OJS dibuka pada 14 Mei 1890 dan posisinya cukup strategis karena berada dekat Kebun Binatang Surabaya.
Salah satu jalur penting OJS adalah lintasan Wonokromo Kota–Krian sepanjang sekitar 24,4 kilometer. Segmen Wonokromo Kota–Sepanjang dibuka pada 27 September 1890, kemudian jalurnya diteruskan sampai Krian pada 14 Februari 1898. Jalur ini juga menghubungkan kawasan industri gula, termasuk Pabrik Gula Krian. Kiro-kiro yo akeh buruh pabrik gula Krian sing dadi penumpange trem iki. Nek gulone, diangkut nggawe sepur SS.
Jadi, kalau sekarang sampean naik kendaraan dari Wonokromo ke arah Krian, bayangkan dulu ada trem yang melayani perjalanan di jalur tersebut. Penumpang bisa naik, barang-barang yo melu diangkut.
Kota dan kawasan industri pun tersambung.
Dari Trem Uap ke Trem Listrik
OJS kemudian terus mengembangkan jaringannya. Pada 1911, persiapan trem listrik mulai dilakukan. Jaringan diperluas hingga hampir seluruh Kota Surabaya terhubung oleh jalur trem.
Puncaknya terjadi pada 1924, ketika OJS memperkenalkan trem listrik saat panjang keseluruhan lintasnya telah mencapai sekitar 36 kilometer.

Trem melintas di jalanan kota Surabaya. Sumber: KITLV
Stasiun Wonokromo juga dilengkapi depo untuk merawat trem uap dan trem listrik. Karena itulah kawasan di sebelah barat stasiun dahulu dipenuhi bangunan depo dan gudang. Sebagian bangunan tersebut kemudian berubah fungsi seiring berhentinya operasi trem.
Menurut Verslag OJS, pada 1923 pernah dibicarakan kemungkinan mempertahankan bengkel utama di Groedo atau memindahkannya ke Wonokromo. Dalam laporan 1939, keputusan pemindahan akhirnya terlaksana: bengkel utama OJS dipindahkan dari Groedo ke Stasiun Wonokromo OJS. Jalur penghubung Wonokromo–Groedo kemudian dibongkar.
Setelah kemerdekaan, layanan trem listrik masih beroperasi hingga 1969, dan ditutup pada 1970-an.
Sejak layanan trem ditutup, berakhir pula aktivitas Stasiun Wonokromo OJS.
Padahal, dulu dari sini jalur trem membentang ke arah barat menuju Krian dan ke utara hingga kawasan Pelabuhan Ujung. Stasiun ini pernah menjadi bagian penting dari jaringan transportasi yang menghubungkan Surabaya dengan kawasan di sekitarnya.
Kini, bangunan bekas stasiun tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI. Namun kondisinya memprihatinkan.
Gedung yang dulu menjadi tempat orang datang dan pergi, barang keluar-masuk, serta trem uap dan listrik dirawat, kini tinggal menyisakan jejak kejayaan transportasi kota masa lalu.
Jadi, nek sampean lewat aspale Wonokromo, ojo cuma mikir, “Waduh, macet maneh.” Nang ngisore aspal sing panas iku sik onok rel-rel trem sing kependhem sing tau muteri Suroboyo, bahkan onok sing sampe Krian.
Ngono lho Rek ceritane.
Sumber
Trams en Tramlijnen de Elektrische Stadstrams op Javs – H.J.A Duparc
Boekoe Peringatan dari Staatsspoor en Tramwegen di Hindia Belanda 1875-1925
Oost-Java_Stoomtram-Maatschappij_Verslag_Over_Het_Jaar_1913
Woro-woro
Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen. 😄