Ngene Rek Ceritane
Nek sampean nganggep bangunan lawas nang Surabaya mesti peninggalan zaman Londo, Hotel Olympic bisa dadi pengecualian. Hotel yang menjadi salah satu Bangunan Cagar Budaya di Surabaya ini justru dibangun setelah Indonesia merdeka. Dadi, ojo kabeh bangunan lawas nang Suroboyo mbuk anggep warisan kolonial, Rek!
Hotel Olympic iki mulai dibangun pada 1954 dan mulai beroperasi pada 14 Juni 1956. Sing duwe jenenge Ong Kie Tjay, seorang pengusaha yang juga dikenal memiliki peran penting dalam perkembangan kehidupan keagamaan Tridharma di Indonesia.

Sosok Ong Kie Tjay. Sumber: Tiktok @Marga Singgih
Sampai sekarang, identitas arsitek Hotel Olympic belum diketahui secara resmi. Namun, menurut keterangan Tusito Osmar, putra Ong Kie Tjay sekaligus pengelola hotel, bangunan tersebut dirancang sendiri oleh ayahnya. Artinya, sosok Ong Kie Tjay menarik untuk dilihat dari dua sisi: sebagai pengusaha dan sebagai perancang bangunan.
Nuansa Art Deco
Secara arsitektural, Hotel Olympic memperlihatkan pengembangan gaya Art Deco yang dikenal sebagai Streamline Moderne. Gaya ini menonjolkan kesan modern melalui garis-garis horizontal, bentuk geometris, serta tampilan yang sederhana dan aerodinamis. Langgam tersebut berkembang pada abad ke-20 dan tetap memengaruhi arsitektur ketika Indonesia memasuki masa kemerdekaan.
Karena itu, Hotel Olympic menjadi penanda bahwa perkembangan arsitektur Surabaya tidak berhenti ketika pemerintahan kolonial berakhir. Bangunan ini memperlihatkan bagaimana gaya arsitektur modern terus digunakan dan dikembangkan pada masa Indonesia merdeka.

Hotel Olympic di akhir tahun 1950 an, tower menjadi focal point. Pada tahun 1950-an ini juga terlihat bentuk Façade Hotel Olympic masih berupa bukaan keliling berupa jendela. Terlihat jalur trem masih ada di depan jalur jalan utama di barat hotel.
Sumber : Library Universitas Petra
Ong Kie Tjay sendiri bukan nama asing dalam sejarah bangunan perhotelan. Ia juga memiliki Hotel Niagara di Lawang, yang dibelinya dari keluarga Liem Sian Joe pada 1960-an. Berbeda dengan Hotel Olympic, Hotel Niagara dirancang oleh arsitek Mr. Fritz Joseph Pinedo.
Di luar dunia usaha, Ong Kie Tjay turut berperan dalam perkembangan organisasi Tridharma. Ketika kecurigaan terhadap masyarakat Tionghoa meningkat setelah peristiwa G30S, penyatuan unsur Konghucu, Buddha, dan Taoisme melalui wadah Tridharma menjadi salah satu konteks penting dalam perjalanan organisasi tersebut. Ong Kie Tjay tercatat menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia pada 1979–1980.
Hotel Olympic juga menyimpan catatan dalam sejarah politik nasional. Menjelang kongres PDI di Asrama Sukolilo pada 1993, Megawati Soekarnoputri pernah menginap di hotel ini. Peristiwa tersebut berlangsung menjelang periode penting dalam perjalanan politik Megawati menuju panggung politik nasional.

Dalam foto kartu pos tahun 1970-an, bentuk restoran/hotel Olympic tidak berubah.
Sumber : Delcampe.net
Kini, Hotel Olympic memiliki 32 kamar. Bangunan ini menjadi penanda bahwa sejarah kota juga terbentuk karena sosok-sosok yang punya selera dalam arsitektur pascakolonial.
Ngono lho Rek ceritane.
Woro-woro
Tulisan ini disusun berdasarkan catatan kesejarahan bangunan dan keterangan pengelola Hotel Olympic. Informasi mengenai arsitek, riwayat pembangunan, dan tokoh yang pernah menginap masih perlu ditelusuri melalui arsip serta sumber primer agar narasi sejarahnya semakin kuat.
Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen. 😄