Di Balik Pertempuran Surabaya (Bagian 1): Kota yang Tidak Bisa Dibaca

Di Balik Pertempuran Surabaya (Bagian 1):  Kota yang Tidak Bisa Dibaca
begandring.com -

Oleh: Kuncarsono Prasetyo

Delapan puluh satu tahun silam, Pertempuran Surabaya meledak. Sejarah telanjur merangkumnya dalam satu gambaran sederhana: arek-arek Suroboyo melawan Inggris. Sebagian pengamat melihatnya semata sebagai perang militer. Belakangan, narasi lain mengemuka dengan menempatkan kaum santri sebagai kekuatan utama perlawanan.

Padahal, jika ditelisik lebih jauh, peta perlawanan Surabaya jauh lebih rumit dari itu. Pertempuran ini bukan sekadar letupan spontan, melainkan puncak dari pengorganisasian panjang yang melibatkan beragam kelompok, jaringan, dan silang-sengkarut ideologi. Untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi, lima seri tulisan bersambung ini akan mengungkap basis-basis perlawanan Surabaya, 81 tahun silam, melalui satu sudut pandang yang jarang digunakan: kacamata intelijen asing.

 ***

Surabaya sedang bergolak ketika pasukan Inggris mendarat pada 25 Oktober 1945. Di jalan-jalan, para pemuda bersenjata berjaga. Barikade menghadang kendaraan, sementara slogan-slogan kemerdekaan dan anti-Belanda memenuhi tembok-tembok di ruang publik. Kota pelabuhan itu menyambut kedatangan tentara asing dengan kecurigaan.

Kapten P.R. Shri Mani, perwira India yang datang bersama Brigade Infanteri India ke-49, merekam suasana tersebut dalam buku hariannya.

Bahkan sebelum berangkat, ia telah menerima peringatan dari bagian intelijen di Batavia: berhati-hatilah di Surabaya. Kota itu disebut sebagai extremist centre—pusat kaum ekstremis.

Shri Mani. Sumber: Jejak Revolusi 1945 (Grafiti, 1989)

Peringatan itu segera menemukan buktinya. Setibanya di pelabuhan, Shri Mani melihat grafiti yang belum pernah dijumpainya di kota-kota lain di Jawa: Azadi ya Khunrezi!—kemerdekaan atau pertumpahan darah. Slogan berbahasa Hindustan itu seolah sengaja dipasang untuk menyambut pasukan Inggris yang seluruh personelnya berasal dari India.

Pesan itu bukan sekadar tulisan di dinding. Di kalangan prajurit India, slogan tersebut menimbulkan kegelisahan. Sebagian mulai mempertanyakan kepada perwira mereka: apakah kedatangan ke Indonesia berarti harus berperang melawan rakyat yang juga sedang memperjuangkan kemerdekaan?

Memasuki kota, Shri Mani menjumpai barikade di hampir setiap persimpangan. Kelompok-kelompok pemuda tampak berjaga di berbagai sudut jalan. Tujuannya adalah Hotel Oranje, nama yang digunakan setelah berakhirnya pendudukan Jepang, ketika hotel tersebut sebelumnya dikenal sebagai Yamato Hoteru atau Hotel Yamato.

Di depan hotel yang berdiri persis di tepi Jalan Tunjungan itu, suasana tak kalah mencekam. Penjagaan diperketat. Barikade menumpuk. Surabaya seolah sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Pemuda pejuang dengan memegang kata hasil rampasan tentara Jepang di Surabaya tahun 1945. Sumber: KITLV

Shri Mani semakin khawatir melihat situasi Surabaya. Setibanya di Hotel Oranje, ia bertemu sejumlah pedagang India yang memiliki banyak toko dan tinggal di kawasan Tunjungan. Mereka mengingatkannya agar berhati-hati. Sebagai orang yang telah lama mengenal keadaan kota, mereka memahami betul bahwa kedatangan pasukan Inggris berpotensi memicu benturan dengan para pemuda Surabaya.

Keesokan harinya, 26 Oktober 1945, Shri Mani menghadiri konferensi pers yang melibatkan Brigadir A.W.S. Mallaby, Komandan Brigade Infanteri India ke-49 dari Angkatan Darat India Britania. Dalam catatan hariannya, Shri Mani menggambarkan Mallaby sebagai perwira yang cenderung meremehkan kekuatan Republik. Alih-alih menghadapi persoalan yang tengah berkembang, komandannya itu justru terkesan berusaha menunda-nunda penyelesaiannya.

Di lobi Hotel Oranje, Shri Mani menyaksikan seorang gadis muda bernama Meena memainkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan piano. Usianya, menurut perkiraan Shri Mani, belum lebih dari 15 tahun. Namun, dari gadis semuda itu pula ia mendapat peringatan: cepat atau lambat, pertumpahan darah tampaknya tak terhindarkan.

***

Memasuki hari kedua di Surabaya, Shri Mani berusaha menyelami kota ini lebih jauh. Ia mulai menelusuri siapa saja tokoh dan kelompok yang berada di balik kuatnya gelombang perlawanan. Apa yang membuat Surabaya begitu berbeda? Mengapa kota ini menunjukkan sikap yang begitu keras terhadap kehadiran Inggris, sementara kota-kota lain di Jawa cenderung lebih dingin menerimanya?

Shri Mani muda saat bertugas. Sumber: Kalakaumudi Publications

Dia mencatat bahwa sebagian besar kendali kota berada di tangan Youth Party, istilah yang ia gunakan untuk menyebut organisasi pemuda. Ia melihat Surabaya sebagai pusat nasionalisme Indonesia yang jauh lebih kuat dibandingkan Batavia.

Pengamatannya tak berhenti di situ. Layanan-layanan penting kota tetap beroperasi, tetapi kini berada di bawah pemerintahan Indonesia. Situasi ini berbeda dengan kota-kota lain, tempat sebagian besar urusan pemerintahan masih berada di tangan Jepang sebelum secara bertahap diserahkan kepada Inggris. Di Surabaya, sebaliknya, para pemuda tampaknya telah lebih dulu mengambil alih layanan umum dari tangan Jepang, bahkan sebelum kedatangan pasukan Inggris. Bagi Shri Mani, kenyataan itu nyaris tak masuk akal.

Hari kedua itu, Shri Mani belum menemukan jawaban dari pertanyaanya, siapa sebenarnya yang berada di balik kekuatan pemuda tersebut—dan seberapa jauh mereka mengendalikan kota? (bersambung)

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: