Antara Museum Prasasti dan Kerkhoff Peneleh

Dua tempat dengan fungsi yang sama, dahulu sebagai pemakaman kalangan bangsawan dan pejabat Eropa serta Belanda yang dihormati dan memiliki jabatan penting saat itu. Museum Prasasti Jakarta dahulu dikenal sebagai Kerkhoff Kebon Jahe Kober.

Menurut pemandu, Eko Wahyudi dari Dinas Kebudayaan DKI jakarta, Makam Kebon Jahe Kober mulai difungsikan sejak tahun 1795. Karena kompleks pemakaman yang berada di Gereja Belanda Baru atau Nieuwe Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang) saat itu tak dapat menampung warga yang meninggal.

Kerkhoff Kebon Jahe Kober Lebih tua dari Kerkhoff Peneleh, yang dibuka secara resmi pada tanggal 1 Desember 1847 (Von Faber, 1932.).

Komplek Taman Prasasti yang mengoleksi nisan nisan di Jakarta.

 

Kerkhoff Kebon Jahe Kober, merupakan komplek pemakaman modern pertama di dunia sekaligus paling tua daripada Fort Cannin Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sidney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge, atau Arlington National Cemetery (1864) di Washington DC. 

Yang menarik saat ini, Kerkhoff Kebon Jahe Kober sudah tidak seperti makam pada umumnya. Menurut Eko Wahyudi, hal ini dikarenakan konsep pengembangan Museum Taman Prasasti memang dirancang sebagai sebuah Taman. Fungsi Kerkhof tidak lagi ditonjolkan, sehingga wisatawan datang lebih menikmati kawasan sebagai Taman dan museum terbuka.

Berdasar konsep tersebut,  sejak 1975, gubernur Ali Sadikin, merenovasi dan mengalihfungsikan makam menjadi sebuah Museum Prasasti. Bukan prasasti peninggalan zaman kerajaan, namun prasasti batu nisan orang-orang yang dimakamkan di kerkhoff Kebon Jahe Kober. 

Revitalisasi dan konservasi besar-besaran dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin. Mengangkat jenazah2 di makam Kebon Jahe Kober untuk diambil dan dipindahkan keluarga atau dipindahkan ke TPU. Menyisakan beberapa bentuk makam dan nisan-nisan. Pengurukan dan pendataan serta penetapan sebagai Cagar Budaya dilakukan. Kesan angker pun sudah mulai ditinggalkan. Saat ini Kerkhoff Kebon Jahe Kober menjelma menjadi museum terbuka yang indah. 

Baca Juga  Kunjungi Peneleh, Mahasiswa Australia Terpesona Makam Belanda dan Sumur Jobong

Beberapa nisan dari makam-makam orang tersohor masih berada disana. Sejumlah orang penting yang dimakamkan di situ, di antaranya, Olivia Mariamne Raffles (istri Gubernur Jenderal inggris dan pendiri Singapura Sir Thomas Stamford Raffles), Dr. H.F Roll (pendiri Stovia), Dr. J.L.A Brandes (ahli sejarah purbakala Indonesia), Mayjen J.H.R Kohler (komandan tentara Belanda yang ditembak mati di Aceh), dan Soe Hoek Gie (aktivis mahasiswa di tahun 1960-an). Ada pula makam Pieter Eberveld, orang yang dihukum dengan ditarik kuda dari empat arah berbeda.

Masih menurut Eko Wahyudi, pengelolaan Taman Museum Prasasti ini dikelola khusus oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, yang lebih konsentrasi pada preservasi dan pemeliharaan fungsi fungsi Heritage. Hal ini tentu berbeda dengan beberapa kota di luar Jakarta dimana Dinas Kebudayaan masih menjadi satu dengan bidang lain seperti pariwisata dan kepemudaan. 

Untuk pemeliharaan terkait nisan atau benda bersejarah dilakukan oleh tim khusus Konservasi yang terdiri dari TACB dan tenaga ahli lain dibawah Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Sebagai catatan juga adalah hampir semua benda di dalam Taman Makam Prasasti ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sehingga lebih memudahkan untuk aturan perlindungannya.  

Di Surabaya sendiri, saat ini masih ada Kerkhoff Peneleh. Yang tak kalah penting seperti Kerkhoff Kebon Jahe Kober, bahkan secara narasi perkembangan Kota Surabaya mempunyai peranan yang sangat penting. Namun kondisinya sangat berbeda, bila kita melongok Kerkhoff Peneleh. Karena makam Peneleh belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Akibatnya di kerkhoff Peneleh, banyak nisan-nisan yang hilang, rusak, bahkan hancur. Sungguh disayangkan. 

Sebuah makam di Makam Peneleh yang masih lengkap dengan pagar besinya

 

Padahal kerkhoff Peneleh juga terdapat tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa di antaranya Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat (1790–1848), Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Merkus (1787–1844), Wakil Direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda Pierre Jean Baptiste de Perez, hingga seorang penerjemah dan ahli bahasa terkemuka saat itu Van Der Tuuk

Baca Juga  Berita Kebakaran Museum Nasional Mendapat Tanggapan Professional Museum Balanda

Ditengah gegap gempita pengembangan kawasan peneleh sebagai kawasan cagar budaya, hendaklah Pemerintah Kota memikirkan secara serius tentang konservasi serta revitalisasi Kerkhoff Peneleh. Bagaimanapun, kerkhoff Peneleh menyimpan sejarah panjang tentang Indonesia. Khususnya Kota Surabaya. 

Sudah saatnya Kerkhoff Peneleh bersolek seperti yang dilakukan oleh Museum Prasasti Jakarta, apalagi bila dilihat dari kondisi sekarang sudah mulai banyak kegiatan jalan jalan wisata sejarah yang menjadikan Kerkhof Peneleh sebagai salah satu tujuannya. Kesan angker dan horor harus mulai ditinggalkan, bisa dengan penataan yang terbuka, lansekap yang ramah pengunjung hingga mengembangkan kegiatan seperti dengan membuat kegiatan wisata malam di Kerkhoff Peneleh.

Penulis : Dian Nur Aini , Begandring Soerabaia

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x