Go Skate dan Masa Keemasan Music 90s

Ada yang bilang begini: masa keemasan musik ada di tahun 90an, lainnya itu turunannya. Benarkah? Entahlah. Persepsi itu bisa diperdebatkan. Namun, bagi saya, banyak band top lahir musik tahun 90-an (ngetren disebut music 90s). Saya tak perlu menyebut satu per satu karena jumlahnya banyak.

Saya memang lumayan aktif menjadi penikmat music 90s. Masa itu, saya sering melihat gelaran pentas musik di sekolah, kampus, maupun di gedung pertunjukan di Surabaya. Dari yang berbayar maupun gratisan.

Salah satu venue yang sering dipakai untuk konser musik adalah Go Skate atau Gedung Surabaya Indah. Lokasinya di Jalan Embong Malang, Surabaya. Dulu, di sebelahnya ada Bioskop Arjuna (sekarang sudah tutup).

Go Skate dibangun tahun 1979. Gedung tersebut dibangun Wali Kota Moehadji Widjaja.  Di sana ada ruang perkantoran, diskotek, tempat bowling, dan fasilitas umum lain. Lambat laun, Go Skate menjadi hall multifungsi.

Tahun 1990an, Go Skate jadi salah satu venue pilihan para event organizer. Gedungnya keren. Lahan parkirnya memadai, mampu menampung banyak kendaraan. Lokasinya juga strategis, berada di tengah kota. Termasuk dalam kawasan Central Business District (CBD) Kota Pahlawan.

Saya beberapa kali menonton konser musik di Go Skate. Menghadirkan band-band papan atas di Indonesia, masa itu.  “Duel Meet” Krakatau dan Karimata digelar di Go Skate. Fans kedua grup musik itu cukup besar, dari beragai kalangan dan lintasusia.

Tak salah bisa penontonnya memadat Go Skate saat mereka manggung. Tiketnya sold out. Bahkan, banyak orang yang harus beli tiket lewat calo, meski harus merogoh kecek lebih besar karena harganya dibandrol naik berlipat.

Baca juga: https://begandring.com/blog/ini-dia-sang-pencetus-bahasa-indonesia-

Krakatau: Trie Utami, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Indra Lesmana, Dwiki Darmawan, dan Pra Budi Darma. foto:kultural.id

Krakatau dan Karimata, masa itu, disebut sebagai band fusion jazz terbaik. Lagu-lagu mereka abadi sampai sekarang. Grup-grup band pendatang baru belum “lulus” kalau belum mampu membawakan lagu-lagu kedua ban legend itu.  Seperti Gemilang, La Samba Primadona, dan Kau Datang, Masa Kecil, Kisah Kehidupan, Masa Kecil, dan masih banyak lagi.

Baca Juga  Nostalgia di Tuinhuiz dan Simpangsche Societeit

Suatu ketika, saya pernah mengajak Trie Utami jalan-jalan. Saat melintas di depan Go Skate, dia pun berkomentar,” Wow, aku dulu sering main di situ.”

“Ho oh, itu sangat terkenal dulu,” imbuh perempuan mungil itu.

Karimata: Budi Haryono, Denny TR, Erwin Gutawa, Chandra Darusman, dan Aminoto Kosin.

Di Go Skate, saya juga menonton Kla Project. Waktu itu, Kla Project digawangi Katon Bagaskara (vocal, bass), Romulu Radjadi alias Lilo (gitar, vokal), Adi Adrian (keyboard, piano, synthesizer) dan Ari Burhani (drum). Nama Fransisca Insani Rahesti alias Sisca juga lumayan dikenal karena mengisi backing vocal Kla Project.

Baca juga: https://begandring.com/blog/salah-kaprah-arti-logo-surabaya

Konser Kla Project di Go Skate tersebut juga dibanjiri penonton. Katon tampil memesona. Dia mampu menghipnotis ribuan pasang mata dengan lagu-lagu yang jamak dihapal penggemarnya. Seperti lagu Tak Bisa Ke Lain Hati, Semoga, Yogyakarta, Tentang Kita, Terpurukku Disini, Rentang Asmara, Gerimis, dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan Go Skate makin redup. Gedung tersebut seakan telah punah. Go Skate tak lagi dipakai ajang konser musik. Pun dengan acara-acara lain, seperti pentas drama, seperti wisuda, malam kesenian, dan lainnya.

Pamor Go Skate kalah dengan venue lain, di antaranya Convention Hall Grand City, Dyandra Convention Center, Empire Palace, Jatim Expo, dan DBL Arena.

Go Skate kini seperti gedung tua yang lusuh. Tidak terawat. Nyaris tak berpenghuni. Konflik kepemilikan yang berujung di meja hijau, menambah daftar suram eksistensi gedung yang menjadi saksi bisu perjalanan musik di Tanah Air.

Belakangan malah tersiar kabar, jika Go Skate telah dilego. Pembelinya perusahaan bonafide yang telah membangun mal-mal besar di Surabaya. Go Skate akan dirobohkan, selanjutnya akan dibangun mal yang super mewah.

Go Skate yang kini tak lagi dopakai konser musik. foto:detik.com

***

Satu lagi aktivitas saya yang nyaris tak terlewatkan, yakni menghadiri “Open Air”. Istilah itu biasa dipakai untuk pentas musik di sekolah maupun kampus di Surabaya.

Baca Juga  Aviator oyna və qazan Rəsmi sayti Aviator Azerbayca

Sekolah-sekolah favorit di Surabaya secara periodik menggelar open air. Biasanya dihelat pada hari Sabtu atau Minggu. Tempatnya di halaman atau lapangan basket sekolah. Band-band pengisi acara dari internal maupun eksternal sekolah. Mereka memainkan genre yang berbeda-beda. Pop, rock, jazz, reggae, dan heavy metal.

Open Air menjadi ajang berekspresi bagi pelajar yang memiliki ketrampilan bermusik. Tak jarang, untuk tampil mereka harus “inden” dulu. Band-band dari sekolah lain bahkan melobi panitia dengan memberikan CD demo musiknya agar bisa tampil.

SMA Negeri 2 salah satu yang paling sering megadakan open air. Sekolah ini memang sangat dikenal melahirkan banyak musisi dan penyanyi. Di antaranya, Mus Mujiono, Dewa Budjana, Ita Purnamasari, Edi Kemput, Ahmad Dhani, Ari Lasso, Piyu, Maia Estianty, dan Astrid.

Dewa: Ari Lasso, Wawan, Erwin, Andra dan Ahmad Dhani .

Masa itu, Ahmad Dhani, Ari Lasso, dan Piyu kerap tampil di open air SMA Negeri 2 Surabaya. Nama Dewa 19 maupun Padi belum ada alias lahir. Yang ngetop nama Smada Big Band, band kebanggaan SMA Negeri 2 Surabaya.

Mereka yang menjadi personel di Smada Big Band adalah musisi pilihan. Dhani dan Piyu main di sana, namun mereka berbeda angkatan. Hingga mereka lulus, nama Smada Big Band masih terus dipakai dengan bergonta-ganti personel.

Dari sekolah menuju kampus. Begitulah yang terjadi selanjutnya. Piyu, Ari Lasso, Wawan Juniarso (drummer Dewa 19 pertama), Andi Fadly Arifuddin  alias Fadly Padi, kuliah di Unair. Sementara Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan, meski tidak kuliah di Surabaya, dia sering tampil di panggung open air Unair.

Suatu siang, saya menyaksikan acara “Musik Lorong” di Unair. Kegiatannya digelar di lorong kampus Fakultas Hukum Unair. Acara itu sebagai ajang apresiasi musik sekaligus unjuk kemampuan mahasiswa Unair dan mahasiswa lain di Surabaya.

Baca Juga  Studi Kasus Antara Nilai Ekonomi Vs Nilai Heritage. 

Saya sempat berbincang dengan Andra Ramadhan. Sebelum tampil, dia berbaur bersama penonton. Bahkan sempat makan krupuk upil bersama saya dan kawan lainnya.

“Wuih, wuenak iki,” ucap Andra usai makan krupuk upil setelah dicelup sambal.

Nama Dewa 19 dan Padi waktu itu mulai dipopulerkan. Namun belum banyak yang mengenal. Masih terbatas di kampus-kampus. Bahkan, masih lebih terkenal Jangan Asem, grup band indie yang membawakan lagu-lagu kocak.

Padi: Fadli, Yoyok, Piyu, Ari, dan Rindra.

Dalam rentang masa, Dewa 19 muncul sebagai grup band yang menggebrak dunia musik major label. Album pertamanya yang dirilis tahun 1992, sukses merebut hati pecinta musik di Tanah Air. Single pertama dari album ini, Kangen sukses menjadi all time-hits.

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya/Menahan rasa ingin jumpa/Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang/Melepas semua kerinduan yang terpendam…

Sepenggal lirik Kangen yang sangat familiar dan dihapal baladewa, fans Dewa 19. Lagu tersebut bukan hanya sangat dikenal, tapi juga menjadi “kutukan” bagi Dewa 19. Pasalnya, setiap manggung wajib membawakan lagu tersebut.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, giliran Padi merilis album pertama bertajuk Lain Dunia. Album tersebut meledak di pasaran. Lagu Sobat, Mahadewi, dan Begitu Indah sudah sangat tidak asing di telinga penikmat musik.

Dewa 19 dan Padi adalah salah dua dari band terkenal yang mewakili music 90s. Keduanya berangkat dari nol. Tampil di pentas musik sekolah dan kampus, serta mengikuti kompetisi musik. Karya-karya mereka sampai kini tetap memukau dan menghiasi industri musik di Indonesia. (*)

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x