Pesan Begandring Soerabaia di World Heritage Day 2023

Sebuah video pendek dirilis Begandring Soerabaia dalam rangka peringatan World Heritage Day (Hari Warisan Dunia), Selasa (18/4/2023). Beberapa pengurus dan aktivis yang memakai pakaian pergerakan nasional menyampaikan pesan tersebut.

Mereka adalah Nanang Purwono, Yayan Indrayana, Agus Wahyudi, Ahmad Zaki Yamani, Akhmad Khabib Marzuki, Dedi Angga, Mad Fathurrozi, Cacuk Kuncoro, Khusnul Avifah, Sukma Damayanti, Ita Surojoyo, Jimmy Taruna, Fajar, dan Ferdin.

Melalui pesannya, Begandring Soerabaia menyatakan berkomitmen melestarikan warisan lokal dan nasional yang ada di Surabaya sebagai wujud berpikir global, bertindak secara lokal (think globally, act locally).

“Kami turut berpartisipasi membangun kesadaran publik demi pelestarian warisan budaya yang bersifat lokal dan nasional yang ditemui di kota Surabaya sebagai tempat di mana Begandring Soerabaia berada,” kata Nanang Purwono, ketua Bagandring Soerabaia.

World Heritage Day  yang juga dikenal sebagai Hari Internasional untuk Monumen dan Situs (ICOMOS, Internasional Council on Monument and Sites), diperingati setiap tanggal 18 April.

Peringatan internasional ini untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang pentingnya melindungi warisan budaya dan merayakan keragaman warisan dunia.

Nanang mengungkapkan, Begandring telah membuktikan komitmen ini dengan melalui serangkaian program-programnya. Di antaranya jelajah sejarah Surabaya Urban Track (Subtrack), sarasehan, diskusi, publikasi dan produksi film dan konten dokumenter.

“Kami juga berpartisipasi dalam kegiatan edukatif, rekreatif dan advokatif demi upaya bersama pelestarian cagar dan warisan budaya,” ujar jurnalis senior itu.

Menurut dia, sejarah masa lalu, baik yang menyangkut nilai-nilai, peninggalan bersejarah dan cagar budaya, menjadi objek yang perlu dijaga, dirawat, dikelola dan dimanfaatkan.

“Ini agar nilai-nilai pentingnya dapat ditransformasikan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi,” tegasnya.

Baca Juga  Surabaya, Kota Berkalang Air

Selain itu, imbuh Nanang, perlu adanya kurikulum sekolah secara nasional sebagai tulang punggung menciptakan kesadaran dan pemahaman akan upaya pelestarian.

Karenanya, kebijakan pelajaran sejarah di sekolah yang selama ini telah dihapus dari jenjang SMA dan sederajat perlu ditinjau ulang untuk mengakomodasi interes lokal yang ternyata masih bergeming dengan pelajaran sejarah di sekolah SMA.

Apalagi di tingkat internasional, telah diperingati World Heritage Day yang bertujuan untuk mempromosikan pemahaman dan apresiasi warisan budaya dan untuk meningkatkan kesadaran tentang ancaman yang dihadapi situs tersebut. (tim)

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x