Bercerita Surabaya
Penulis: OM TP Wijoyo
Dulur, awakmu pasti ngěrti Gědung Sètan ning daèrah Kupang, Suroboyo kan ? Nah, tibaké nang mburi Gědung Sètan Kupang, Suroboyo, ndisék onok Kuburané Wong Londo. Dan gak main-main lho, iku kuburané pějabat pěnting Wong Londo ning jamané rikolosěmono.

Makam J.A. van Middelkoop yang ada di belakang Gedung Setan. Sumber: Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe
Tapi saiki kuburan Londo iku wés ilang, lur. Bagai ditelan bumi, akibat perkembangan pemukiman ning kawasan sekitar Gědung Sètan.
Cěrito pitutur masyarakat sekitar, pancèn ndisék ning kawasan mburi Gědung Sètan, sing daèrah é rodok munggah, akèh kuburan lan Bong Cino. Tapi, saiki keberadaan kuburan lan Bong Cino é wés ilang kabèh. Onok siji tersisa kuburan utowo Makam sing dianggěp makam keramat yoiku “Makam Mbah Kramat Dèwo”.
Makam iki dianggěp pěpundhèn karo warga sekitar, lan sik sěring diuri-uri pas wayah acara peringatan sěděkah bumi. Sopo sosok “Mbah Kramat Dèwo” iku ? Warga menganggap beliau sing mbabat alas cikal bakal wilayah kunu. Pancèn ning kawasan kunu onok unèn-unèn sing saiki dadi jěněng dalan “Girilaya”.
Asal kata těko “Giri” sing artine gunung opo bukit, lan kata “Laya” sing asalé těko kata “Pralaya”, artiné kematian.
Mungkin diarani “Girilaya” měrgo daèrah é munggah mirip munggah bukit/gunung sing ning kunu akèh kuburan lan Bong Cino, sing akiré dadi tětěngěr ěnggon wong mati.
Nah, mbalik nang cěrito kuburan londo, lur. Menurut sumber dari G.H. Von Faber dalam buku karyanya “Oud Soerabaia” tahun 1931, disebutkan bahwa :
“J.A. Van Middelkoop dan keluarganya dimakamkan di sebuah dataran agak tinggi di bagian belakang Gedung Setan. Pada Makamnya terdapat sebuah Inskripsi bertuliskan (terjemahan) :
“Di sini beristirahat dengan tenang dan damai, yang Mulia Tuan J.A. van Middelkoop. Pada masa hidupnya, beliau adalah Gubernur Jenderal Kepulauan Maluku, Ambon dan pulau-pulau sekitarnya. Lahir di Leiden dan meninggal di Soerabaia pada tanggal 15 Oktober 1822, dalam usia 53 tahun. Istrinya bernama Catharina Gasparina Beilon. Juga putra tunggalnya Tuan N.W. van Middelkoop. Lahir di Semarang pada tanggal 25 September 1805 dan meninggal di Soerabaia pada tanggal 2 Agustus 1864, dalam usia 59 tahun”.

Inskripsi pada makam J.A. van Middelkoop. Sumber: Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe

Lukisan wajah Jacobus Albertus van Middelkoop. Sumber: Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe
Pada Inskripsi makamnya, tidak disebutkan tanggal dan tahun kelahiran Jacobus Albertus van Middelkoop atau disingkat dengan nama J.A. van Middelkoop. Jika melihat usia saat kematiannya 53 tahun, maka beliau kelahiran tahun 1769.
Selain J.A. van Middelkoop, di bagian belakang Gedung Setan juga dulunya terdapat makam dari “Karel Reiniersz”, seorang pejabat Gubernur Jenderal.
Karel Reiniersz meninggal di Soerabaia pada tanggal 18 Mei 1653, tujuh tahun setelah meninggalnya istrinya yang bernama “Judith Barra”, yang meninggal di Soerabaia pada tanggal 21 Juli 1646. Keduanya di makamkan di belakang Gedung Setan. Tidak ada penjelasan terkait sebab kematian Tuan Karel Reiniersz dan istrinya Judith Barra.
Untuk menghormati pejabat tinggi itu, maka jalan raya di depan Gedung Setan itu diberi nama “Reiniersz Boulevard”. Melihat tahun kematian Tuan Karel Reiniersz 1653, dan tahun kematian istrinya 1646, bisa disimpulkan bahwa komplek makam kecil di belakang Gedung Setan sudah lebih dulu ada daripada Gedung Setan.
Untuk menghormati Tuan Karel Reiniersz dan istrinya, dibuatlah tanda peringatan yang terbuat dari batu pualam, dan dipahatkan Inskripsi yang berbunyi :
“Di sini dimakamkan dengan penuh penghormatan serta beristirahat dengan tenang dan damai dalam tangan Tuhan: Yang Mulia Tuan Karel Reiniersz, pada tanggal 18 Mei 1653. Semasa hidupnya beliau adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda”.

Inskripsi pada batu pualam untuk menghormati Gubernur Jenderal Karel Reiniersz. Sumber: Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe
Dan inskripsi pada batu pualam istrinya Judith Barra, berbunyi :
“Di sini dimakamkan dengan penuh penghormatan Juffrouw (Nona) Judith Barra. Ia berasal dari Amstel. Ia istri dari yang Mulia Tuan Karel Reiniersz, seorang pejabat Dewan Agung Hindia Belanda. Meninggal dalam Tuhan Yesus. Tahun Christi MDC XLVI pada XXI Juli, umur XXV tahun X”.
Pada tahun 1917, kedua batu pualam itu dibawa ke Batavia untuk ditempatkan di tempat yang lebih terhormat, di Gereja Portugis di Batavia.
Penulis: OM TP Wijoyo
Sumber:
“Hikajat Soerabaja Tempo Doeloe”, Dukut Imam Widodo, 2008.
“Oud Soerabaia”, G.H. Von Faber, 1931