Kisah Gubernur Jenderal yang Tidak Jadi Meninggal di Surabaya

Kisah Gubernur Jenderal yang Tidak Jadi Meninggal di Surabaya
Oleh : Kuncarsono Prasetyo
begandring.com -

Ngene Rek Ceritane, Surabaya, Oktober 1849. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Jacob Rochussen terbaring sakit keras di Istana Simpang, bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Negara Grahadi. Kondisinya begitu mengkhawatirkan hingga para dokter memperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi.

Di tengah situasi itu, Residen Surabaya Pierre Jean Baptiste de Perez mulai membicarakan persiapan pemakaman sang gubernur jenderal bersama sekretarisnya, Hazebroek. Keduanya berbicara pelan di sebuah kamar, tanpa menyadari bahwa orang yang mereka anggap sedang menanti ajal itu ternyata masih mendengar percakapan mereka.

“Wij mogen wel denken aan het ceremonieel van de begrafenis,” bisik De Perez kepada Hazebroek.

Artinya, mereka sebaiknya mulai memikirkan tata upacara pemakaman.

Hazebroek menanggapinya dengan tenang. Menurutnya, pedoman pemakaman gubernur jenderal sebelumnya sudah tersedia dan dapat dijadikan acuan.

“Wij hebben het immers van den anderen.”

Percakapan itu kemudian berkembang menjadi pembahasan tentang penghormatan kenegaraan yang harus diberikan kepada Rochussen apabila ia meninggal di Surabaya.

Masalahnya, kedua pejabat tersebut tidak mengetahui bahwa sang gubernur jenderal masih terjaga. Meski matanya terpejam, Rochussen mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.

Mengingat Pemakaman Gubernur Jenderal Pieter Merkus

Pembicaraan De Perez dan Hazebroek bukan tanpa alasan. Lima tahun sebelumnya, Surabaya memang pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang gubernur jenderal Hindia Belanda, Pieter Merkus.

Merkus meninggal pada 2 Agustus 1844. Jenazahnya dimakamkan 13 hari kemudian melalui upacara kenegaraan yang melibatkan pejabat pemerintah, pasukan militer, dan penghormatan artileri.

Jenazah Merkus dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti khusus dari besi berlapis timah. Peti tersebut dipesan dari De Volharding, pabrik besi milik F. Bayer.

Pada 15 Agustus 1844, iring-iringan jenazah bergerak dari rumah Simpang menuju kompleks Benteng Prins Hendrik di bagian utara Surabaya. Pasukan garnisun, unsur Angkatan Laut, dan milisi mengawal prosesi tersebut. Panji-panji perkabungan turut menyertai perjalanan, sementara musik duka mengiringi arak-arakan.

Sejumlah pejabat pemerintah juga datang dari Batavia menggunakan dua kapal uap militer. Setibanya di kompleks benteng, peti jenazah diturunkan ke ruang makam. Pendeta Protestan Westenbrink Meijer kemudian menyampaikan pidato duka.

Penghormatan tidak hanya berlangsung di Surabaya. Tembakan meriam juga dilepaskan di Batavia, Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Masing-masing dari lima kota tersebut memberikan 21 tembakan penghormatan.

Upacara pemakaman Merkus inilah yang menjadi rujukan Hazebroek ketika membicarakan kemungkinan meninggalnya Rochussen.

Istana Simpang 1880
Istana Simpang 1880. Foto: herman salzwedel

Tambahan Tiga Tembakan Meriam

De Perez rupanya merasa bahwa penghormatan untuk Rochussen seharusnya lebih besar daripada upacara yang diberikan kepada pendahulunya.

Alasannya, Rochussen tidak hanya menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tetapi juga menyandang gelar Minister van Staat, atau Menteri Negara.

“Maar er moet een krul meer bij.”

Artinya, masih perlu ada tambahan atau sentuhan lebih.

Hazebroek kemudian mengusulkan agar penghormatan meriam ditambah tiga tembakan.

“Welnu, geef hem dan drie kanonschoten meer.”

Dengan usulan itu, jumlah tembakan penghormatan di setiap kota akan meningkat dari 21 menjadi 24.

Bagi kedua pejabat tersebut, pembicaraan itu mungkin sekadar persiapan administratif untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Namun, bagi Rochussen yang terbaring di tempat tidur, percakapan tersebut terdengar seperti pembicaraan mengenai pemakamannya sendiri.

Ia sebenarnya merasa belum akan meninggal. Akan tetapi, Rochussen memilih tetap berpura-pura tidak mendengar agar De Perez dan Hazebroek tidak merasa malu karena membicarakan kematiannya di hadapan orang yang bersangkutan.

Perjalanan Panjang yang Berakhir di Istana Simpang

Kondisi Rochussen yang memburuk di Surabaya terjadi setelah ia menjalani perjalanan dinas ke sejumlah wilayah Hindia Belanda.

Pada 17 September 1849, ia meninggalkan Batavia menggunakan kapal uap menuju Banjarmasin. Di sana, ia meninjau proyek pertambangan batu bara dan menghadiri pergantian takhta Kesultanan Banjar.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Sulawesi. Pada 5 Oktober, Rochussen tiba di Makassar, menerima kunjungan sejumlah penguasa setempat, lalu melanjutkan perjalanan ke wilayah pedalaman.

Pada 20 Oktober 1849, ia tiba di Surabaya. Agenda kunjungannya mencakup peninjauan pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak dan bengkel kapal.

Rochussen juga berencana menyeberang ke Madura untuk menemui para penguasa di pulau tersebut. Namun, rencana itu harus dibatalkan setelah kesehatannya mendadak memburuk.

Ia menduga penyakitnya berkaitan dengan kelelahan dan udara panas. Rochussen akhirnya harus menjalani perawatan di Istana Simpang.

Di tempat itulah muncul kebetulan yang terasa ganjil baginya. Kamar yang digunakan untuk merawatnya ternyata merupakan kamar tempat Pieter Merkus meninggal lima tahun sebelumnya.

Rochussen bahkan menduga tempat tidur yang ditempatinya juga merupakan tempat tidur yang dahulu digunakan Merkus.

Kesamaan tempat itu terasa semakin mengusik ketika para dokter memperkirakan kondisinya dapat berakhir seperti pendahulunya.

Residen De Perez dan Kenangan yang Terbawa ke Batavia

Bagi De Perez, situasi tersebut juga memiliki latar belakang tersendiri. Ia pernah bekerja bersama Merkus dalam urusan pemerintahan di pantai barat Sumatra pada 1839.

Setelah bertugas di sejumlah wilayah di Sumatra dan Sulawesi, De Perez diangkat menjadi Residen Surabaya pada 28 Desember 1848. Ketika Rochussen tiba di Surabaya pada Oktober 1849, ia baru sekitar sepuluh bulan menduduki jabatan tersebut.

Kini, di rumah dinasnya, De Perez menghadapi kemungkinan seorang gubernur jenderal kembali meninggal di Istana Simpang.

Namun, dugaan tersebut tidak menjadi kenyataan. Rochussen berhasil melewati masa kritis dan kesehatannya berangsur membaik.

Setelah cukup kuat melakukan perjalanan, ia meninggalkan Surabaya pada 25 November 1849 dengan kapal uap. Dua hari kemudian, ia tiba di Batavia dan kembali melanjutkan tugasnya sebagai gubernur jenderal.

Percakapan di kamar Istana Simpang ternyata tidak hilang dari ingatannya.

Sindiran yang Membuat De Perez Merah Padam

Sekitar tiga bulan kemudian, De Perez menemui Rochussen di Buitenzorg, kini dikenal sebagai Bogor. Kedatangannya bertujuan menyampaikan sejumlah usulan pemerintahan yang membutuhkan persetujuan gubernur jenderal.

Setelah memaparkan usulannya, De Perez meminta pendapat Rochussen.

Sang gubernur jenderal menyatakan bahwa pada prinsipnya ia dapat menyetujui usulan tersebut. Namun, ia kemudian menambahkan kalimat yang pernah diucapkan De Perez ketika membicarakan persiapan pemakamannya di Surabaya.

“Maar er moet een krul meer bij.”

Masih perlu ditambahkan sedikit sentuhan lagi.

Kali ini, Rochussen mengucapkannya sambil tersenyum dan melirik De Perez.

Sang residen langsung memahami maksud sindiran tersebut. Ia teringat percakapan di Istana Simpang, ketika dirinya mengusulkan tambahan penghormatan meriam bagi pemakaman Rochussen yang diperkirakan segera meninggal.

De Perez pun menunduk. Wajahnya merah padam karena menyadari bahwa gubernur jenderal ternyata mendengar pembicaraan yang semula ia kira berlangsung tanpa diketahui siapa pun.

Rochussen akhirnya tidak jadi meninggal di Surabaya. Ia kembali menjalankan tugasnya, sementara percakapan mengenai pemakamannya justru menjadi kenangan yang dapat ia gunakan untuk menyindir orang yang pernah menganggap ajalnya sudah dekat.

Kisah ini memperlihatkan sisi lain kehidupan pejabat kolonial abad ke-19: di balik protokol kenegaraan dan jabatan tinggi, ada pula percakapan pribadi, kecanggungan, dan humor yang bertahan dalam ingatan sejarah.

*) Editor : Satria

Sumber: De autobiografie van Jan Jacob Rochussen (1797–1871), disunting R. Reinsma, Bijdragen en Mededelingen van het Historisch Genootschap, volume 73 (1959), hlm. 110–112.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: