Nama Jalan Karang Tembok masih tercantum di peta Surabaya sekarang. Siapa sangka, nama ini adalah memori kolektif yang tersisa dari sepenggal tembok kota yang pernah mengurung Surabaya pada abad ke-19.
Di barat Karang Tembok juga terdapat nama Jalan Benteng. Ruas jalan yang berdiri di bekas dinding sisi selatan Benteng Prins Hendrik.
Bayangkan Surabaya pada masa itu seperti kota bertembok di Eropa kuno. Orang keluar-masuk melalui gerbang tertentu, diperiksa, dan dalam beberapa urusan harus membawa surat izin atau pass. Barang yang dibawa pedagang dapat dikenai bea.
Di hadapan kota berdiri pintu gerbang besar. Parit buatan dan jembatan angkat memisahkan kawasan kolonial di dalam tembok dari wilayah luar kota.
Namun, di Surabaya, sistem itu tidak dibangun dari batu tebal seperti kota-kota abad pertengahan Eropa. Pertahanannya berupa tanggul tanah menjulang, parit, pos jaga, bastion, dan gerbang.
Pembangunan di atas tanah rawa
Setelah Perang Diponegoro (1825–1830), Belanda memperkuat pertahanan di Jawa. Surabaya, sebagai pelabuhan penting di Jawa bagian timur, mulai membangun sistem pertahanan kota sejak dekade 1830-an.
Rencana pertahanan Surabaya diputuskan Gubernur Jenderal J. Graaf van den Bosch pada 1835. Kota ini memiliki instalasi militer penting sekaligus pelabuhan yang memungkinkan kekuatan laut terlindungi dengan aman.
Proyek strategis nasional itu berlangsung di kawasan rendah dan rawa di pinggiran kota. Tanah diuruk, parit digali, dan bangunan militer didirikan.
Dalam buku Oud Soerabaia (1931), G.H. von Faber mencatat ribuan pekerja didatangkan dari pedalaman untuk menggarap proyek pertahanan tersebut. Sebagian menempuh perjalanan 30 pal atau sekitar 45 kilometer dan menerima upah 15 duit sehari.
Mereka bekerja di lingkungan yang terpapar moeraskoorts atau penyakit demam rawa. Banyak yang melarikan diri, sementara sebagian lainnya meninggal.
Hingga 1847, pekerjaan raksasa itu masih berlangsung. Tembok kota Surabaya itu dibangun melingkar sepanjang sekitar 6 kilometer.
Batas utara di Karang Tembok dan Jalan Benteng, sisi barat di Krembangan, sementara sisi selatan di Kebonrojo dan Kampung Semut. Sisi timur di Kapasan dan Kertopaten.
Catatan Van Hoëvell pada 1847 menyebut garis pertahanan Surabaya sekitar empat pal dalam kelilingnya. Konstruksinya berupa tanggul tanah, dilengkapi redoute atau pos-pos kecil, dan sebuah kompleks markas militer di dalam benteng di sisi utara. Namanya diambil dari nama putra kedua Raja Belanda, Willem II. Yaitu Willem Frederik Hendrik der Nederlanden. Pemuda yang meletakkan batu pertama proyek ini.
Lihat Peta 1866 ! Surabaya tampak terkurung dalam bentuk struktur tembok lebar dia lapis dan bangunan bangunan militer yang mengitari kota lama.
Bastion atau tonjolan pertahanan sengaja dibangun saling berdekatan mengitari kota. Bentuknya memungkinkan prajurit mengawasi sisi luar tembok dan menembakkan meriam secara menyilang di sepanjang luar parit.
Moncong meriam diarahkan ke luar kota, terutama ke jalur yang diperkirakan menjadi arah datangnya musuh. Dengan susunan seperti itu, penyerang yang mendekati satu sisi tidak hanya menghadapi tembakan dari depan, tetapi juga dari sisi bastion lain.
Pos jaga berfungsi sebagai titik pertahanan tambahan, tempat pasukan berkumpul dan mengawasi gerbang.
Kompleks pertahanan tersebut dirancang untuk menampung sekitar 6.000 tentara ketika Surabaya berada dalam keadaan terancam.
Situasi ini menggambarkan jika Surabaya sedang dirancang menjadi kota garnisun paling kompleks sekaligus tangguh di Hindia Belanda. Barak, gudang amunisi, gudang perbekalan, pos meriam, jalan militer, pelabuhan kapal perang, hingga pabrik senjata berat. Pembangunan tembok kota saja menelan biaya sekitar 44 juta gulden.
Kota yang Dipindahkan dan Kampung yang Menyusut
Bagi penduduk Surabaya, tembok itu bukan sekadar garis pertahanan. Ia menjadi batas yang mengatur pergerakan sehari-hari: siapa yang boleh keluar-masuk, melalui pintu mana, pada waktu tertentu, dan dengan pemeriksaan apa.
Pembangunan ini mengubah tata kota tradisional yang sudah berdiri ratusan tahun sejak kolonialisme belum menginjakkan kaki di Surabaya.
Alun-alun lama, di kawasan yang kini menjadi kompleks Tugu Pahlawan, terkena proyek ini. Masjid Agung dan paseban bupati ikut dibongkar.
Pusat pemerintahan pribumi itu kemudian dipindahkan ke dalam tembok kota. Lokasinya di Kromojayan, lahan milik keluarga mantan bupati Surabaya, Kromojoyo Dirono, Kemayoran. Di sini dibangun alun-alun kabupaten, masjid, dan rumah bupati baru.
Penggusuran juga mengenai kampung-kampung lama, tegalan, makam keramat, dan jalan-jalan desa. Catatan sejarah menyebut jumlah kampung menyusut dari 192 menjadi 138. Selisih 54 kampung menunjukkan besarnya dampak proyek tembok kota terhadap ruang hidup penduduk pribumi.
Oud Soerabaia mencatat bahwa sejak 1835 dan tahun-tahun sesudahnya, banyak kampung diratakan sehingga para penghuninya berpindah ke selatan. Bahkan, Bupati Surabaya, sekalipun dibangunkan rumah dan pendopo yang baru, dia memilih membangun pendopo kabupaten di selatan, di Lemah Putro daerah Keputran.
Ketika Kota Semakin Sesak
Proyek memagari kota dengan tembok ini tidak pernah benar-benar tuntas. Sekitar 1860, dampak pembatasan ini semakin terasa.
Penduduk bertambah, perdagangan berkembang, tetapi pertumbuhan rumah tertinggal. Rumah berdiri rapat, halaman hilang, dan kawasan Pecinan serta kampung Arab semakin padat. Sanitasi terhambat, penyakit kolera meningkat.
Struktur tembok dan parit pertahanan yang dibangun sekitar 1830–1850 membuat perluasan kota terhambat. Lahan harus digunakan sehemat mungkin; rumah-rumah bahkan memiliki halaman depan yang sangat kecil atau tidak memilikinya sama sekali.
Sekitar 1860, kekurangan rumah semakin terasa. Pertumbuhan penduduk berlangsung lebih cepat daripada pembangunan rumah, sementara perdagangan juga membutuhkan ruang untuk kantor, gudang, pabrik, dan akses lalu lintas barang.
Di bagian timur kota lama, persoalan itu semakin nyata. Perluasan kawasan Pecinan ke arah timur terhambat tembok. Kawasan yang tertutup garis pertahanan berkembang semakin padat.
Parit yang semula menjadi bagian dari sistem pertahanan ikut membawa persoalan baru. Pada 1867, sebuah komisi medis mengaitkan kolera, demam yang merajalela, dan penyakit mata. Banyak parit menampung air yang tergenang. Aromanya busuk, tikus berkembang biak, nyamuk juga menjadi momok.
Kepentingan pertahanan perlahan berhadapan dengan masalah kota. Selain persoalan kesehatan dan kepadatan, kemajuan teknologi persenjataan membuat tembok kota semakin kehilangan fungsi.
Meriam dengan jangkauan dan daya hancur yang lebih besar membuat tanggul, parit, dan gerbang lama tidak lagi menjadi perlindungan yang efektif.
Struktur pertahanan yang sebelumnya dianggap penting mulai dipandang sebagai peninggalan yang menghambat perluasan kota.
Tembok pertahanan kota itu pada akhirnya tidak pernah benar-benar tuntas dibangun. Tekanan itu mendorong pemerintah mengambil keputusan sulit. Pada 19 April 1871, pembongkaran besar tembok dan parit buatan mulai dilakukan.
Banyak sindiran yang muncul saat proyek ini mulai mangkrak. “vestingwerken telah ontmanteld” artinya tembok pertahanan telah dilucuti sendiri. Atau tembok pertahanan yang dibongkar sebelum satu peluru pun datang.
Ketika Tembok Memberi Jalan Kereta Api
Sejak tembok pertahanan itu mulai dikikis, kota lama seketika berubah menjadi area industri, pergudangan, perdagangan, dan keuangan. Sementara penduduknya membangun area baru di selatan kota. Kawasan Simpang dan Kayoon menjadi tujuan pertama.
Di waktu yang hampir bersamaan, datang pula proyek sistem transportasi kereta api. Teknologi yang baru pertama kali dikenal di Asia.
Di atas bekas tembok sisi selatan didirikan Stasiun Kereta Api Surabaya Kota. Jalur rel menuju utara di pelabuhan mengikuti bekas tembok kota.
Undang-undang 6 April 1875, Staatsblad No. 141, membuka pembangunan jalur Surabaya–Pasuruan–Malang. Bastion VIII harus digali diratakab untuk secepatnya, sementara gudang amunisi, exercitie-batterij, dan Kampung Semut yang sempat bertahan saat proyek tembok kota, kali ini tergusur.
Pembongkaran tembok kota sebenarnya telah dimulai tujuh tahun sebelum kereta api beroperasi, tetapi keduanya mencerminkan perubahan orientasi kota: Surabaya mulai beralih dari kota pertahanan militer menjadi kota industri terbesar di Hindia Belanda.
Tembok kota Surabaya kini sudah tidak ditemukan bekasnya sama sekali.
Namun proyek raksasa itu masih meninggalkan dua nama tempat: Karang Tembok dan Jalan Benteng.
Bekas bentangan tembok kota sisi barat juga masih terlihat dari pola Jalan Indrapura, yang menghubungkan Jalan Kebonrojo di selatan dan Jalan Benteng di utara.
Tidak percaya? Silakan buka Google Maps dan bandingkan dengan peta Surabaya 1866!