Oleh: Kuncarsono Prasetyo
Beberapa hari kemudian, Siti Larang berinisiatif mencarikan tempat tinggal sementara bagi Moesso selama berada di Surabaya. Ia sendiri tidak mengetahui sampai kapan Moesso akan menetap di kota ini. Misi yang hendak dijalankannya tampaknya membutuhkan waktu cukup panjang dan kerahasiaan yang ketat. Moesso harus tinggal di simpul kota yang orang-orangnya tidak mengenal siapa dirinya.
Kota Surabaya bukan tempat asing bagi Moesso. Ia sudah mengenalnya sejak 1915. Lelaki kelahiran Pagu, Kediri, itu pertama kali datang ke Surabaya ketika usianya masih sekitar 15 tahun. Mula-mula ia bekerja sebagai kasir di Kantor Pos. Pada masa itulah ia mulai bersinggungan dengan SI. Moesso kemudian kerap mendatangi kawasan Peneleh–Plampitan, sekitar 700 meter dari Hotel Simpang. Hampir seluruh kegiatan organisasinya bertumpu di daerah ini. Selain menjadi tempat tinggal sejumlah pimpinan SI, di kawasan itu juga berdiri gedung perkumpulan Sociëteit Panti Harsojo, tempat berbagai rapat dan kegiatan politik berlangsung.

Kawasan Peneleh-Plampitan 1930an. Sumber: KITLV
Di Surabaya pula Moesso mengenal ISDV, organisasi massa yang awalnya menggalang jaringan buruh kereta api yang dipimpin sahabatnya, Semaoen. Ia dipenjara bersama Sosrokardono sejak 1920 dan baru keluar pada 1923. Pada April 1925, Moesso menerbitkan surat kabar mingguan Proletar di Plampitan Gang III. Namun, pada awal 1926 ia menghilang setelah Politieke Inlichtingendienst (PID) atau polisi politik mulai memburunya di tengah tekanan terhadap PKI dan gelombang pemogokan buruh di Surabaya.
Malam itu, Moesso membuka jendela kamarnya. Dari balik Hotel Simpang, ia mendapati wajah politik Surabaya sudah jauh berubah. Orang-orang dan kelompok yang dahulu dikenalnya nyaris tak lagi tampak seperti sembilan tahun sebelumnya.
Di ruang terbuka, pergerakan bumiputra di kota ini kini didominasi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI) di bawah dr. Soetomo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo. Organisasi itu merupakan penjelmaan dari Indonesische Studieclub yang dibangun Soetomo di Surabaya sejak 1924. Kemudian berubah menjadi PBI pada 16 Oktober 1930.
Pusat kegiatannya berada di Gedong Nasional Indonesia (GNI), Bubutan. Kompleks itu sejak 13 Juli 1930, menjadi tempat orang berkumpul, mengadakan rapat, mengelola kegiatan pendidikan, kesehatan, koperasi, dan penerbitan. Di lingkungan yang sama ada Bank Nasional Indonesia sejak 1928, yang memiliki surat kabar Soeara Oemoem. Surat kabar yang terbit 1 Oktober 1931 itu didirikan dan pernah dipimpin oleh Sosrokardono.
Sementara itu, SI sendiri sudah jauh berubah dari organisasi yang pernah dikenal Moesso. Oemar Said baru saja meninggal pada akhir 1934. SI telah berkembang menjadi partai politik Islam dengan nama Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dengan pusat kegiatan yang bergeser ke Yogyakarta.
Gerakan buruh yang sepuluh tahun sebelumnya memenuhi kehidupan politik Surabaya juga sudah jauh melemah. Padahal, sampai pertengahan 1920-an, pemogokan masih kerap pecah di kota ini.
Keadaan berubah setelah pemberontakan PKI pada 1926–1927. Pemerintah kolonial melarang partai tersebut dan membuang banyak penggeraknya ke Boven Digul, Papua. Beberapa orang yang masih bertahan di Surabaya kemudian bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) pada 1931. Di antaranya Pamoedji, Soemadi, dan Djoko. Sementara di Batavia, Soekarno dan Amir Sjarifoeddin berada di pucuk pimpinan Partindo.
Namun, sejak 1933 PID kembali memperketat pengawasan terhadap aktivitas politik. Pemicunya adalah peristiwa yang mempermalukan pemerintah kolonial: pemberontakan awak kapal perang De Zeven Provinciën pada 4 Februari 1933. Peristiwa itu memang berlangsung di perairan Sumatra dan kemudian di Selat Sunda, tetapi kapal tersebut beserta sebagian besar awaknya berpangkalan di Surabaya.
Dampaknya segera terasa di kota ini. Pada Agustus 1933, pemerintah memberlakukan vergaderverbod, pembatasan terhadap rapat-rapat umum. PID memperketat pengawasan terhadap para aktivis dan membatasi pertemuan politik. Rapat besar semakin jarang. Sejumlah orang yang sebelumnya terbiasa tampil di mimbar mulai menghilang dari ruang-ruang terbuka. Suasana vakum politik itu masih terasa ketika Moesso kembali ke Surabaya pada 1935.
Sejak bergerak secara rahasia di Surabaya pada pertengahan 1935, Moesso menjaga lingkar hubungannya tetap sempit. Bahkan orang-orang yang bertemu dengannya tidak diberi tahu tempat tinggalnya. Dari sejumlah kontak yang ada, ia hanya menarik empat nama ke lingkar inti: Siti Larang, Soemadi, Djoko, dan Roeskak.
Soemadi saat itu menjadi redaktur Indonesia Berdjoang. Djoko datang dari jalur yang berbeda. Beberapa hari sebelumnya, lelaki itu menjemput Moesso di Tanjung Perak. Ia bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan industri di Surabaya, tetapi dunia penerbitan politik bukan hal baru baginya. Ia pernah menjadi wartawan Proletar, surat kabar yang dahulu dipimpin Moesso. Ketika Djoko mulai aktif dalam gerakan buruh dan pers, Moesso sendiri sudah lama hidup sebagai buronan.
Hingga paruh pertama 1936, Moesso memberi pendidikan politik kepada keempat orang itu. Mereka mempelajari dasar-dasar komunisme sekaligus cara menjalankan organisasi yang harus bergerak secara tersembunyi. Di antara mereka, Soemadi disebut paling kuat menyambut gagasan-gagasan Moesso. Menjelang keberangkatannya dari Hindia, Moesso memberi tugas yang jelas: setelah ia pergi, keempat orang inilah yang harus mulai membangun kembali organisasi partai.
Moesso juga mulai menyiapkan bahan propaganda. Bersama Soemadi, ia menerjemahkan program Communistische Partij Nederland (CPN), Partai Komunis Belanda. Garis yang dibawa program itu tidak lagi menekankan pemberontakan terbuka. Arah politiknya lebih moderat, mengikuti perubahan di tubuh Komintern yang ketika itu mendorong kerja sama luas antara kaum komunis, sosialis, nasionalis, dan kekuatan demokratis lain untuk menghadapi fasisme. Moesso mengenalkannya sebagai garis Volksfront atau Front Rakyat.
Pada saat yang sama, ia menyiapkan bahan lain dengan nada yang jauh lebih keras. Moesso menulis sebuah brosur yang menyerang Tan Malaka dan Partai Republik Indonesia (PARI). Moesso dan Tan sebenarnya pernah berada dalam lingkungan awal gerakan komunis Indonesia, tetapi jalan politik mereka kemudian berpisah. Pasca pemberontakan 1926 yang tidak didukung Tan Malaka, bekas ketua PKI ini lantas mendirikan PARI di luar garis Komintern. Sementara Moesso tetap berada di jalur komunitas internasional itu. Perbedaan itulah yang kemudian membawa keduanya ke dalam pertentangan politik yang semakin terbuka.
Untuk misi rahasia ini, Moesso mengeluarkan uang dari kantungnya sendiri. Dana itu dipakai untuk mencetak bahan propaganda. Ia kemudian mendapatkan dua orang pencetak yang bekerja melalui jalur berbeda. Dari satu percetakan, sekitar 500 eksemplar brosur berhasil dibuat. Pencetak lainnya menghasilkan sekitar 200 eksemplar brosur. Seluruhnya disiapkan untuk diedarkan secara terbatas.
Agar isinya tidak mudah dikenali polisi, brosur-brosur itu memakai sampul samaran. Judul yang tercetak di bagian luar dibuat berbeda dari isi sebenarnya, sehingga orang yang hanya melihat sampulnya tidak langsung mengetahui bahan politik yang dibawa di dalamnya.
Menjelang pertengahan 1936, misi Moesso di Surabaya sudah memasuki tahap akhir. Orang-orang yang akan meneruskan jaringan telah ditetapkan dalam satu sel rahasia utama. Moesso tidak berniat berada di kota ketika partai yang baru itu mulai bekerja. Selama dirinya masih tinggal di Surabaya, hubungan antara kelompok tersebut dan seorang buronan Komintern terlalu mudah menjadi pintu masuk bagi polisi.
Moesso lalu menetapkan satu aturan: PKI baru mulai dibentuk dan bergerak setelah dirinya meninggalkan Hindia. Dengan cara itu, orang-orang yang ditinggalkannya dapat mulai bekerja tanpa kehadiran Moesso sebagai jejak paling mencolok.
Meninggalkan Surabaya
Pada pagi 11 Mei 1936, sebuah mobil berhenti di halaman Pelabuhan Tanjung Perak. Moesso turun bersama Soemadi. Lelaki gempal yang hampir setahun sebelumnya tiba di Surabaya dengan nama Po Ngah Sam itu kini kembali ke tempat yang sama untuk meninggalkan Jawa secara diam-diam.
Di tepi dermaga, sebuah kapal uap berbendera Belanda sudah menunggu. Moesso dan Soemadi berjalan mendekat. Semakin dekat ke tangga kapal, langkah keduanya semakin pelan, sampai akhirnya mereka berhenti beberapa saat. Moesso mengulurkan tangan. Soemadi menyambutnya. Setelah bersalaman, Moesso berbalik dan melanjutkan langkah seorang diri. Ia masuk di antara para penumpang lain, lalu menaiki tangga menuju geladak.
Sauh dilepas. Sirene kapal terdengar memanjang. Perlahan kapal meninggalkan dermaga, sementara Soemadi tetap berdiri di darat. Kepulan asap tertinggal di belakang. Haluan kapal kemudian mengarah ke utara, menuju Shanghai, Tiongkok. [bersambung]