Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 6, habis): Lelaki Misterius itu Melompat dari Kalimas

Akar Perlawanan di Surabaya (bagian 6, habis): Lelaki Misterius itu Melompat dari Kalimas
begandring.com -

Oleh: Kuncarsono Prasetyo

Surabaya, 24 Desember 1936.

Sebuah perahu kecil memecah keheningan malam di Sungai Kalimas. Dari arah selatan, di tengah gelap yang menutup permukaan sungai, tampak samar dua sosok di atasnya. Seorang pengendali perahu duduk di belakang. Di depannya, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun diam menatap tepian.

Ketika aliran Kalimas berbelok ke arah utara, perahu itu memperlambat lajunya. Perlahan lambungnya merapat ke tepi utara sungai, tepat di pinggir Kampung Plampitan.

Pemuda itu segera bangkit. Kemeja dan celananya serba hitam. Begitu perahu menyentuh tepian, ia meloncat ke darat, bergegas menyeberangi jalan, lalu menghilang ke dalam sebuah lorong sempit selebar sekitar dua meter.

Semuanya berlangsung hanya dalam hitungan detik. Tak seorang pun tahu bahwa malam itu seorang buronan Politieke Inlichtingendienst (PID), dinas intelijen politik Hindia Belanda baru saja menyelinap masuk ke jantung Kampung Plampitan.

Di ujung gang berdiri sebuah rumah kecil dengan pintu yang menghadap lurus ke lorong. Pemuda itu berhenti di depannya. Tok. Tok.

Soekarni Kartodiwirjo muda. Sumber: bacaini.id

Ketukannya pelan. Nyaris tak terdengar karena dari dalam rumah terdengar beberapa pemuda sedang berbicara. Malam itu mereka tengah sibuk mempersiapkan Kongres Indonesia Moeda VI yang akan digelar di Surabaya keesokan harinya, 25 Desember 1936.

Roeslan Abdoelgani bangkit dari tempat duduknya. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu berjalan ke pintu. Begitu daun pintu dibuka, langkahnya seketika terhenti.

Orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang selama enam bulan terakhir seperti lenyap ditelan bumi.

Soekarni Kartodiwirjo. Roeslan tidak banyak bertanya. Ia segera mempersilakan tamunya masuk. Pintu ditutup. Kunci diputar dari dalam. Rapat langsung terhenti. Beberapa pemuda yang semula duduk melingkar berdiri hampir bersamaan. Mereka menyalami dan merangkul Soekarni, lalu memandangi wajahnya seolah ingin memastikan bahwa orang di depan mereka benar-benar masih hidup. Selama berbulan-bulan tidak ada kabar pasti tentang dirinya. Sebagian bahkan menduga ia telah tertangkap PID dalam pelariannya.

Soekarni adalah Ketua Pusat Indonesia Moeda. Sejak sekitar setahun sebelumnya ia berada di pucuk organisasi pemuda itu. Namun jejaknya menghilang setelah pemerintah kolonial memburunya pada Juni 1936.

Sejumlah tulisan di Indonesia Moeda dianggap semakin berbahaya karena menyerukan persatuan pemuda melawan kolonialisme. Organisasi yang secara resmi bukan partai politik itu pun semakin bergerak ke arah politik yang radikal.

PID bergerak. Kantor pusat Indonesia Moeda di Batavia digeledah. Soekarni lolos. Sejak hari itu ia hidup dalam pelarian. Indonesia Moeda sempat kehilangan pusat kendalinya. Kepemimpinan kemudian dipegang Roeslan Abdoelgani, Ketua Indonesia Moeda Jawa Timur, sebagai ketua sementara. Pengurus besar organisasi pun dipindahkan dari Batavia ke Surabaya.

Kini, enam bulan kemudian, orang yang selama ini mereka kira berada entah di mana tiba-tiba duduk di tengah-tengah mereka.

Soekarni membersihkan diri. Pakaian hitam yang dipakainya selama perjalanan diganti. Seseorang menyodorkan secangkir kopi hangat. Ia lalu duduk melingkar bersama mereka di ruangan yang tidak terlalu luas itu. “Biarkan saya tetap berada di bawah tanah. Kalian yang bergerak memimpin organisasi ini.”

Ruangan mendadak sunyi. Soekarni rupanya tidak datang untuk merebut kembali jabatan ketua. Ia datang membawa sebuah pertanyaan. “Sekarang bung Roeslan menjadi ketua sementara, ke arah mana Indonesia Moeda akan dibawa jika besok dalam kongres bung terpilih secara definitif?”

Tak seorang pun segera menjawab. Roeslan akhirnya memecah kebekuan. “Saya sekarang bertanggung jawab kepada cabang-cabang Indonesia Moeda, bukan kepada Bung Soekarni secara pribadi. Kalau Bung menghendaki, saya bersedia mengadakan rapat anggota terbuka. Kita bisa mengemukakan pendirian masing-masing di depan anggota.”

Soekarni menolak. “Daar voelde ik niet voor, ook al omdat ik dan het risico zou lopen door de PID te worden opgepakt.” Ia tidak bersedia. Tampil terbuka berarti memberikan kesempatan kepada PID untuk menangkapnya.

Soekarni kemudian menyampaikan pesan yang menjadi alasan utama kedatangannya malam itu. Indonesia Moeda tidak boleh kehilangan garis perjuangan yang telah dirintisnya. Organisasi itu harus tetap radikal-revolusioner, sekalipun pemerintah kolonial semakin mempersempit ruang geraknya.

“Meskipun tekanan pemerintah membuat gerakan ini makin tertekan,” tegasnya. Bagi Soekarni, tekanan bukan alasan untuk mundur.

Sejak berada di pucuk Indonesia Moeda, ia memang mendorong organisasi itu semakin dekat dengan arus antifasis. Ketika perang di Spanyol pecah dan kekuatan Francisco Franco bangkit, Soekarni berdiri bersama arus solidaritas yang mendukung mereka yang melawan fasisme. Ia juga menyerukan pembentukan Volksfront—front rakyat yang mempertemukan berbagai kekuatan dalam menghadapi fasisme. Gagasan yang semula berkembang melalui gerakan komunis internasional itu kemudian menjalar ke berbagai kelompok antifasis.

Roeslan menerima pesan itu. Baginya, Indonesia Moeda memang tidak boleh kehilangan jiwa radikal-revolusionernya. Tetapi radikal tidak berarti harus selalu tampil melawan secara terbuka di depan mata pemerintah.

Ia sedang memikirkan jalan yang lain. Perjuangan tetap keras, tetapi geraknya harus lebih hati-hati. Organisasi tidak boleh dihancurkan sebelum sempat tumbuh.

Justru dalam tekanan itulah, menurut Roeslan, Indonesia Moeda harus diperluas. Organisasi itu harus keluar dari lingkungan pelajar, masuk ke tengah rakyat, menghimpun pemuda dari berbagai lapisan, lalu membawa mereka menuju satu tujuan: Indonesia merdeka.

***

Sebelum bertemu dalam Indonesia Moeda, Soekarni dan Roeslan menempuh jalan politik yang berbeda.

Soekarni Kartodiwirjo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia via Keppres No. 115/TK/2014 on 6 November 2014. Sumber foto: Kementerian Penerangan

Soekarni lebih muda dua tahun dari Roeslan, tetapi lebih cepat masuk ke dunia pergerakan. Sejak berusia sekitar 14 tahun, ia sudah aktif di Blitar. Di kota kelahirannya itu ia bergabung dengan Indonesia Moeda, lalu membentuk Persatoean Pemoeda Kita, sebuah perkumpulan yang memberi ruang kepada pemuda di luar lingkungan sekolah.

Beberapa tahun kemudian, pergaulan politiknya semakin keras ketika ia masuk ke Partai Indonesia (Partindo). Salah seorang yang banyak membentuk jalan politiknya adalah Anwari, tokoh Partindo di Blitar. Melalui jaringan inilah Soekarni dikirim ke Bandung untuk mengikuti pendidikan kader.

Ia masih belasan tahun ketika tiba di tengah lingkungan Partindo yang dipimpin Soekarno. Di sana Soekarni berkenalan dengan pemuda-pemuda seperti Wikana, Asmara Hadi, dan S.K. Trimurti. Pergaulan itu membawanya semakin jauh dari sekadar kegiatan kepemudaan. Ketika kembali ke Blitar, ia sudah membawa pengalaman politik yang lebih tajam sekaligus jaringan yang lebih luas.

Kariernya di Indonesia Moeda kemudian melesat. Dari cabang Blitar, Soekarni masuk ke tingkat Pengurus Besar. Pada usia sekitar 19 tahun, ia sudah berada di pucuk organisasi pemuda dengan sikap antikolonial yang semakin keras.

Roeslan tumbuh dalam suasana yang berbeda. Ia lahir dan besar di Plampitan, Surabaya, sebuah lingkungan yang sejak kecil membuatnya akrab dengan Sarekat Islam dan nama Tjokroaminoto. Dunia pergerakan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-harinya. Memasuki usia remaja, Roeslan mulai mengenal organisasi melalui sekolah, kepanduan, dan pergaulan pemuda.

Menjelang usia 19 tahun, ia sudah terlibat dalam perdebatan mengenai arah Indonesia Moeda di Surabaya. Saat itu organisasi pemuda masih sangat lekat dengan dunia pelajar. Roeslan mulai mendorong agar batas itu dibuka.

Baginya, pemuda tidak cukup dihimpun dari sekolah-sekolah. Mereka harus dicari hingga ke kampung-kampung. Kursus baca-tulis dibuka, cabang-cabang dibentuk, dan anak-anak muda yang selama ini berada di luar lingkungan terpelajar mulai ditarik masuk. Ketika Soekarni kemudian naik memimpin Indonesia Moeda pada usia sekitar 20 tahun, Roeslan yang saat itu berusia sekitar 21 tahun sudah menjadi salah satu tokoh penting organisasi di Surabaya. Dua pemuda dengan pengalaman politik yang berbeda itu akhirnya berada dalam satu organisasi yang sama.

**

Malam itu, pembicaraan Soekarni, Roeslan, dan beberapa anggota Indonesia Moeda tidak berlangsung lama. Mereka khawatir semakin lama Soekarni berada di rumah itu, semakin besar pula risiko PID mencium keberadaannya.

Roeslan kemudian meminta beberapa kawannya mencarikan rumah persembunyian yang tidak jauh dari rumahnya.

“Bung akan berapa lama di Surabaya?” tanya Roeslan. Ia juga bertanya apakah Soekarni akan datang ke Kongres Indonesia Moeda keesokan harinya.

Soekarni menggeleng. Ia hanya akan singgah sebentar di Surabaya dan tidak ingin terlihat banyak orang. Setelah itu ia berencana meneruskan perjalanan ke luar Jawa.

“Kalau besok saya sudah tidak ada di rumah persembunyian itu, berarti saya sudah meninggalkan Surabaya,” katanya.

Sebelum Soekarni beranjak keluar, Roeslan mengambil uang sebanyak ƒ25.

“Ini untuk bekal perjalanan Bung ke Borneo,” katanya sambil menyodorkannya.

Soekarni menerima uang itu. “Terima kasih.”

Beberapa pemuda kemudian berdiri dan menemani Soekarni keluar. Pintu rumah dibuka perlahan. Satu per satu mereka masuk kembali ke lorong sempit yang gelap.

Tak lama kemudian sosok Soekarni menghilang di antara rumah-rumah Kampung Plampitan, menuju tempat persembunyiannya.

Roeslan tetap berdiri di dalam rumah. Malam kembali sunyi. Hanya beberapa jam lagi Kongres Indonesia Moeda akan dimulai, sementara orang yang setahun sebelumnya memimpin organisasi itu kembali menghilang ke dalam gelap. (Habis)

 

*Rangkaian tulisan berseri ini adalah cuplikan dari naskah yang sedang disusun penulis menjadi buku dengan tema Klandestin di Surabaya.

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: