Sidotopo: Tempat Spiritual Raja Surabaya

Sidotopo: Tempat Spiritual Raja Surabaya
begandring.com -

Bercerita Surabaya

Ditulis oleh: “Om” TP Wijoyo

“Dulur, nang Kutho Suroboyo onok daèrah panggonan sing jěněngé Sidotopo. Jěněngé kok anèh Sidotopo ? Piyé cěritané kok sampèk diarani Sidotopo ? Opo disék nang kunu onok panggonan gawé topo ?”

“Nah, lungguh sing pènak, karo nyěmil gorèngan, nyruput wèdhang kopi, lan ngudut, ta cěritani yoo luuurrr…!”

Sidotopo merupakan sebuah Kelurahan, yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Semampir, Kotamadya Surabaya. Secara pembagian administrasi wilayah, Kecamatan Semampir terbagi atas :

– Kelurahan Ampel
– Kelurahan Sidotopo
– Kelurahan Pegirian
– Kelurahan Wonokusumo
– kelurahan Ujung

Di kawasan Kelurahan Sidotopo, terdapat Depo Lokomotif Sidotopo yang dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1923 milik perusahaan Kereta Api Staats Spoorwegen (S.S).

Depo Lokomotif Sidotopo. Sumber: Trams en Tramlijnen de Elektrische Stadstrams op Java

Pada peta lama tahun 1892, secara diakritik Sidotopo tertulis “Sidåtåpå”. Yang secara kata terdiri dari Sidå dan Tåpå. Berdasarkan Kamus Jawa Kunå karya P.J. Zoetmulder, kata “Sidå” berasal dari Bahasa Jawa Kunå “Siddha”, yang memiliki arti : “diselesaikan”, “dilaksanakan”, “dipenuhi”, “diperoleh”, “sukses”, “benar-benar ahli atau berpengalaman (mengenal)”, “menjadi sempurna”, dan “diberkati dengan sifat-sifat supernatural”. Dan kata Sidotopo berasal dari Bahasa Jawa Kuno “Siddhatapa”, yang memiliki arti “telah melaksanakan tapa yang sempurna (kuat)”.

Benang merah yang bisa disimpulkan dan diduga: bahwa di daerah Sidotopo dulunya terdapat sebuah tempat untuk melakukan spiritual bertapa oleh orang-orang dulu.

Peta 1892 tertulis “Sidåtåpå”. Sumber: KITLV

Saya mencoba menghubungkan dengan cerita sejarah, bahwa Penguasa Surabaya merupakan keturunan Sunan Ngampèl Děntå, seorang Wali penyebar Agama Islam yang sangat dikagumi dan dihormati. Makam Sunan Ngampèl Děntå berada di wilayah Ngampèl Děntå, yang kini dikenal dengan kawasan Ampèl di Surabaya.

Dalam buku karya H.J. De Graaf & TH. Pigeaud berjudul “Kerajaan Islam Pertama Di Jawa”, tahun 1986, disebutkan bahwa menurut Sadjarah Dalem, Raja atau Penguasa Surabaya adalah “Arya Jayalěngkara” atau disebut juga “Panembahan Jayalěngkara”. Beliau memiliki permaisuri seorang putri dari Kediri.

Dari permaisuri itu lahirlah seorang putra yang disebut dengan “Pangèran Pěkik”. Permaisuri Jayalěngkara masih kerabat dengan keluarga raja di Madiun, yang asal usulnya dari Sultan Demak. Nama Jayalěngkara beberapa kali disebut dalam Sastra Jawa. Sumber dari Padmasoesastra menyebut bahwa Raden Jayalěngkara memiliki dua istri: istri tua adalah Ratu Mas dari Kediri, dan istri muda yang namanya tidak disebut berasal dari Mojoagung (Wirasaba). H.J. De Graaf dalam karyanya berjudul “Sènapati”, begitu pula Sěrat Kåndhå, menyebutkan bahwa raja-raja Surabaya menganggap diri mereka sebagai keturunan Sunan Ngampèl Děntå.

Pada tahun 1625 Surabaya ditaklukkan oleh Sultan Agung raja Mataram. Saat itu raja Surabaya yang memerintah adalah Jayalěngkara. Catatan perjalanan orang Belanda pada tahun 1607, menyebutkan bahwa raja yang memerintah Surabaya sudah tua sekali dan buta. Tidak lama setelah Surabaya ditaklukkan Mataram, pada tahun 1630, Jayalěngkara wafat dan dimakamkan di Ngampel Denta, yang menjadi tempat tinggalnya karena istananya sudah dihancurkan.

Sebuah naskah di Museum Nasional Jakarta (Nomor BR.424), dengan judul “Punikå Panjěněngan ing Kabupatèn Suråpringgå”, menguatkan bahwa keturunan Sunan Ngampěl Děntå dan para pangeran Surabaya dimakamkan di sebelah Makam Sunan yang suci ini. Hal ini memberi kesan khusus pada iring-iringan ziarah oleh keturunan penguasa Surabaya ke makam Ngampèl Dêntå pada bulan September 1691.

Secara geografis, lokasi Sidotopo tidak terlalu jauh dari wilayah Ampel (Ngampèl Děntå), hanya berjarak sekitar 1,5 Kilometer. Yang saya duga dulu wilayah Sidotopo merupakan bagian dari Ngampèl Děntå. Dan Sidotopo merupakan tempat untuk “nyěpi”, dengan kata lain, tempat “bertapa” para penguasa atau Raja Surabaya.

Diketahui, bahwa Raja Surabaya “Arya Jayalěngkara” memiliki putra bernama “Pangèran Pěkik”. Nama “Pěkik”, yang biasanya diartikan dengan indah, dapat juga diartikan sebagai “fikih”, ahli hukum, sebagaimana kata “fakih”.

Disebutkan dalam buku De Graaf, Pangèran Pěkik berkediaman di dekat Masjid yang suci di Ngampèl Děntå (Ampèl). Dan diduga Pangèran Pěkik bersama ayahnya (Arya Jayalěngkara) mengasingkan (berdiam) di tempat yang sepi, sunyi, di dekat tempat-tempat suci, setelah peristiwa Surabaya ditaklukkan oleh Sultan Agung (Mataram).

Tempat di mana penguasa Surabaya Arya Jayalěngkara dan Pangèran Pěkik mengasingkan di tempat yang sepi dan sunyi itulah diduga kelak disebut “Sidotopo”.

Dan selanjutnya, pemegang pemerintahan di Surabaya diserahkan kepada “Tuměnggung Sěpanjang”, yang merupakan seorang Abdi Dalěm yang setia kepada Pangèran Pěkik. Melihat gelar “Tuměnggung Sěpanjang”, yang merujuk pada nama tempat “Sěpanjang”, di sebelah selatan Surabaya, dekat dengan aliran Sungai Surabaya (pecahan Sungai Brantas).

Pada tahun 1630, Arya Jayalěngkara (ayah Pangèran Pěkik) meninggal, dan dimakamkan di Ngampèl Děntå. Namun sayang hingga kini belum bisa diidentifikasi keberadaan Makam Arya Jayalěngkara di kawasan Ampèl. Namun, diduga posisi makamnya di sekitar tidak jauh dari Makam Sunan Ampèl. Pangèran Pěkik kemudian diboyong ke Mataram, dan menjadi ipar Sultan Agung (dinikahkan dengan Dèwi Pandansari, adik Sultan Agung). Pada tahun 1636 Pangèran Pěkik terpaksa merelakan dirinya untuk ikut serta dalam serangan merebut Giri atas perintah Sultan Agung.

Sumber:

Puncak Kekuasaan Mataram”, DR.H.J. De Graaf, Pustaka Grafitipers, 1986.

Kerajaan Islam Pertama Di Jawa”, H.J. De Graaf & TH. Pigeaud, Pustaka Utama Grafiti, 1985.

Kamus Jawa Kuno Indonesia”, P.J. Zoetmulder, Gramedia Pustaka Utama.

Babad Tanah Jawi, Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647″, W.L. Olthof, Leiden, 1941.

Trams en Tramlijnen de Elektrische Stadstrams op Java – H.J.A Duparc

*) Penulis : TP Wijoyo

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: