NGENE REK CERITANE
Nek sampean lewat Jl. Gemblongan, mungkin yang terlihat cuma bangunan kawak yang sekarang menjadi bagian dari aktivitas perkantoran PLN. Padahal, gedung itu menyimpan cerita panjang tentang bagaimana listrik mulai mengubah wajah Surabaya lebih dari satu abad lalu.
Bangunan tersebut merupakan bekas kantor Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM), perusahaan listrik yang berdiri pada 8 April 1909. Saiki, bangunannya digunakan sebagai area perkantoran PLN UP3 Surabaya Utara. Bentuknya masih cukup terjaga, sehingga kalau diperhatikan baik-baik, gedung ini seperti sedang bilang,
“Aku iki wes kawak, rek. Tapi sik strong!”

Kantoor met showroom van de Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij te Soerabaja sebelum dilakukan pelebaran ke sisi utara dan ke sisi selatan,
source : KITLV
Menariknya, gedung ANIEM di Gemblongan pada mulanya bukanlah kantor perusahaan listrik. Bangunan tersebut adalah rumah pribadi yang kemudian dibeli ANIEM pada 1909, lengkap dengan pekarangan di sebelah utaranya.
Setelah perusahaan berdiri, pekarangan di sisi utara rumah itu direncanakan untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan kapasitas 2 x 400 kW. Pembangunannya dimulai pada akhir 1909 dan semula ditargetkan dapat beroperasi pada akhir 1910.
Namun, rencana ternyata tidak selalu berjalan mulus. Saat persiapan pembangunan dilakukan, kondisi tanah di lokasi dianggap kurang sesuai untuk pembangunan PLTD. Akibatnya, proyek pembangkit mengalami keterlambatan.
PLTD Gemblongan akhirnya mulai beroperasi pada 9 Desember 1911, dengan kapasitas 2 x 400 kW. Dari sinilah salah satu bab penting sejarah kelistrikan Surabaya mulai menyala.
Tambah Suwi Tambah Gede
Seiring perkembangan penggunaan listrik di Surabaya, kebutuhan ANIEM pun ikut berkembang. Kantornya mengalami perluasan, baik di sisi utara maupun selatan.
Perluasan tersebut dikerjakan oleh Abraham Zimmerman, seorang arsitek yang memiliki biro arsitektur di Surabaya.
Salah satu perubahan yang kemudian menjadi bagian penting dari tampilan gedung adalah penambahan dua bukaan balkon pada sisi utara dan selatan.
Pekerjaan perluasan kantor ANIEM tersebut selesai pada 1924.
Jadi, fasad yang sekarang masih bisa kita lihat sebenarnya merupakan hasil dari proses perkembangan bangunan selama bertahun-tahun. Gedung ini tumbuh mengikuti perkembangan perusahaan dan, tentu saja, perkembangan Kota Surabaya sendiri.
Yo Kantor, Yo Toko
Gedung ANIEM Gemblongan ternyata tidak digunakan sebagai kantor saja. Lantai satu difungsikan sebagai showroom yang menjual berbagai perlengkapan penerangan.
Ada lampu meja, lampu gantung, hingga pompa air. Sementara lantai dua digunakan sebagai ruang perkantoran.
Bayangkan suasananya lebih dari seabad lalu: orang Surabaya datang ke sebuah showroom untuk melihat-lihat lampu dan perlengkapan rumah tangga yang menggunakan teknologi listrik. Bagi masyarakat masa itu, listrik tentu masih merupakan sesuatu yang relatif baru dan menarik.
Kalau sekarang orang masuk toko elektronik mencari lampu LED, dulu bisa jadi orang datang ke Gemblongan untuk melihat lampu listrik yang bagi zamannya sudah tergolong modern.
Teko Gemblongan, Listrik Nyebar sak Suroboyo
Kebutuhan listrik di Surabaya terus meningkat. ANIEM kemudian membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Semampir.
Pembangkit ini dikembangkan secara bertahap:
- 1914: Unit 1 dan 2, masing-masing bagian dari kapasitas total 2 x 1.250 kW
- 1917: Unit 3, kapasitas 1.250 kW
- 1919: Unit 4, kapasitas 1.250 kW
- 1922: Unit 5, kapasitas 3.150 kW
- 1924: Unit 6, kapasitas 3.150 kW
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan listrik Surabaya pada masa itu terus meningkat. Listrik perlahan menjadi bagian dari kehidupan kota yang sedang tumbuh sebagai pusat perdagangan, industri, pemerintahan, dan permukiman.
Dengan kata lain, Gemblongan bukan berdiri sendirian. Gedung dan pembangkit di kawasan ini merupakan bagian dari jaringan yang ikut menopang perubahan Surabaya menjadi kota modern pada awal abad ke-20.

Kantoor ANIEM Gemblongan Surabaya sebelum dilakukan pelebaran ke sisi utara dan ke sisi selatan pada tahun 1924,
source : KITLV
Teko Lokomotif sampe Radio
Gedung ANIEM Gemblongan ternyata juga pernah mengalami “gonta-ganti profesi”.
Selain digunakan sebagai kantor ANIEM, gedung ini pernah disewakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya menjadi kantor perwakilan perusahaan pembuat lokomotif Orenstein & Koppel-Arthur Koppel MJ.
Jadi, gedung ini tidak hanya berkaitan dengan sejarah listrik, tetapi juga bersinggungan dengan perkembangan transportasi dan industri pada masa Hindia Belanda.
Ada satu cerita lain yang cukup menarik. Berdasarkan pemberitaan De Indische Courant edisi 1 Februari 1935, gedung ANIEM Gemblongan pernah digunakan sebagai tempat kursus bagi calon operator radio. Kegiatan kelas tersebut berlangsung di lantai atas, di sisi kiri bangunan.
Radio pada masa itu tentu belum seperti sekarang. Belum ada streaming, podcast, YouTube, atau “rek, sinyale pedhot-pedhot”.
Teknologi komunikasi radio merupakan bagian penting dari perkembangan komunikasi modern pada zamannya.
Maka, satu gedung di Gemblongan ini pernah menjadi saksi berbagai teknologi yang sedang tumbuh: listrik, penerangan, mesin, hingga komunikasi radio.
Satus Taun Luwih
Saiki, bekas gedung ANIEM Gemblongan masih digunakan sebagai area perkantoran PLN UP3 Surabaya Utara.
Yang menarik, sebagian besar bentuk dan detail bangunannya masih dipertahankan. Karena itu, bangunan ini dapat dibaca sebagai salah satu jejak fisik perkembangan teknologi dan infrastruktur Kota Surabaya sejak awal abad ke-20.
Gedung tua sering kali dianggap sekadar bangunan lama. Padahal, kalau kita mau berhenti sebentar dan memperhatikan, tembok, balkon, pintu, jendela, bahkan perubahan fungsi sebuah gedung bisa bercerita tentang zamannya.
Gedung ANIEM Gemblongan menceritakan satu hal yang sederhana tetapi penting: modernisasi nang kutho Surabaya gak mak lab kedaden.
Ada listrik yang dibangun, pembangkit yang dikembangkan, kantor yang diperluas, teknologi yang diperkenalkan, dan orang-orang yang bekerja di balik semua itu.
Jadi, kalau sampean lewat Gemblongan dan melihat gedung tua ini, ojo cuma lewat ae. Coba delok sek. Mergane, gedung kawak iku sedang bercerita tentang saat ketika Surabaya mulai hidup bersama listrik.
Ngono lho Rek Ceritane..
Sumber:
De Locomotief; Soerabaiajasch Handelsblad; De Indische Courant; Batavia Nieuwsblad; Obbe Norbruis, Arsitektur di Nusantara.
Woro-woro: monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen.