Jejak Kereta Api Semarang dan Surabaya

Begandring.com – Dalam sejarah dunia perkeretaapian di Indonesia, tercatat titik nol eksistensi kereta api dimulai di sebuah kota pelabuhan yakni Semarang. Adalah stasiun kereta api dan jaringannya milik perusahaan kereta api swasta Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dibuka tahun 1867. Selanjutnya dibuka di Batavia dan Surabaya.

Masih dari Semarang, pada 1882 hadir pula layanan kereta api (tram) uap dengan versi bobot lebih ringan dan lambat dibandingkan dengan milik NIS dan SS (Staatsspoorwegen). Layanan tram uap di Semarang ini dimiliki oleh SJS (Semarang – Joana Stoomtram Maatschappij).

Tram uap milik SJS ini menjadi populer sebagai transportasi dalam kota di Semarang. Panjang jalurnya 11,7 kilometer di tahun 1882-1883. Kemudian di tahun 1905 sudah mencapai 186,9 km yang membentang dari Semarang ke daerah Muria Raya.

Pintu teralis bermotif nan indah. The old. Foto: doc

Kesuksesan SJS ini menjadi role model bagi berdirinya perusahaan trem lainnya di Jawa. Jejak SJS ini kemudian diikuti oleh sebuah perusahaan tram swasta Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS) di Surabaya. Sejatinya OJS adalah konsorsium baru yang dikembangkan oleh SJS di Jawa Timur pada 1888. OJS berada dibawah induk yang sama dengan SJS.

Penulis Navy perpose di Pintu Teralis kuno di era kini. Foto: agg/Begandring

Pada awal berdirinya OJS (1888-1897), perusahaan ini pernah dipimpin 2 orang direktur yang sama dengan SJS. Setelah OJS, tumbuh lagi perusahaan tram uap lainnya. Yaitu Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) dan Semarang-Cheribon Maatschappij (SCS). Berikutnya empat perusahaan tram uap ini bergabung menjadi Zustermaatschapijen” yang berarti perusahaan bersaudara.

Hubungan ini juga memudahkan keempatnya dalam bekerjasama seperti urusan mutasi pegawai dan peminjaman sarana (lokomotif, kereta, gerbong) guna mendukung operasional mereka. Saat itu pusat kendali “Zustermaatschapijen” terletak di kota Den Haag – Belanda, namun masing-masing dari 4 perusahaan sebenarnya mempunyai kantor perwakilannya yang tersebar di Jawa. Misalnya OJS di Surabaya. Baru pada 1930, berdirilah sebuah kantor pusat perwakilan perusahaan induk “Zustermaatschapijen” di Semarang.

Baca Juga  Seabad Lokomotif 12: Kereta Uap Penanda Kejayaan Industri Gula Mojokerto

 

Jelajah Situs

Kantor PT KAI Dakp IV Semarang.. Foto: doc

Atas dasar keterkaitan dan keterikatan inilah, komunitas sejarah “Begandring Soerabaia” di kota Surabaya berkunjung ke Semarang untuk menggali sejarah tram uap, khususnya tentang OJS yang berkantor di Surabaya.

Perwakilan Begandring Soerabaia ini adalah Agung Widyanjaya dan Navy Pattiruhu. Mereka berkunjung pada 1 juli 2023. Tempat pertama yang menjadi tujuan adalah eks kantor “Zustermaatschapijen”, yang kini telah beralih fungsi sebagai kantor PT. KAI DAOP IV Semarang.

Pada kunjungan ini, perwakilan Begandring disambut dan diterima dengan hangat oleh PT. KAI yang diwakili oleh Haryanto selaku Manager Sarana Daop IV dan Dedi sebagai Manager Aset Daop IV. Kemudian tim Begandring diantar berkeliling areal kantor dan diberi penjelasan tentang bagaimana pemanfaatan bangunan kantor di masa sekarang oleh PT. KAI.

Lukisan keramik yang indah di kantor Daop IV PT KAI. Foto: Nav/Begandring

Di dalam kantor, terdapat lukisan keramik kuno yang menggambarkan profil 4 perusahaan trem gabungan “Zustermaatschapijen” dengan masing-masing sarana traksi layanan trem-nya. Di bagian tengah lukisan, terdapat gambar keindahan jalur rel di tengah hutan. Pada lukisan keramik tertulis kalimat Belanda “1901 ANGEBODEN DOOR DEHOOFDAMBTENAREN SEPTEMBER 1930” .

Puas mengagumi keindahan lukisan keramik tersebut, mereka menuju bagian lain untuk mencari ‘artefak’ lain terkait OJS. Ketika tiba pada bagian pintu utama, mereka kembali berhenti mengamati sebuah teralis / ram jendela besi kuno yang dahulunya terukir keempat nama perusahaan trem.

Diketahui bahwa tralis atau ram jendela besi berhias tersebut dibuat oleh pandai besi pribumi bernama Karsidin. Sayang, walau kini tralis jendela masih ada dengan kondisi baik namun ukiran inisial nama – nama perusahaan trem tak lagi dapat disaksikan. Kemungkinan ukiran nama telah hilang saat era pendudukan Jepang, yang sentimen terhadap hal hal yang berbau kolonial.

Baca Juga  Radio Suara Surabaya Ikut Bumikan Aksara Jawa.

Setelah itu, mereka mengamati bagian eksterior bangunan kantor. Dari luar tampak keindahan bangunan hasil karya arsitek termashyur Thomas Karsten. Karya Karsten ini mencerminkan perpaduan ‘rasa’ antara Jawa dan Eropa dengan banyak pilar – pilar yang mengelilingi fasad bangunan induk.

Selesai dengan bangunan, penjelajahan berikutnya tertuju pada monumen lokomotif uap seri C1412 dan 1 kereta kayu berkode CR 365-1. Lokomotif C1412 adalah lokomotif yang dibuat oleh pabrikan Beyer – Peacock di Manchester, Inggris tahun 1909. Lokomotif ini dikirim ke Jawa untuk perusahaan SDS yang dahulu beroperasi di wilayah bekas karesidenan Banyumas.

Tipe lokomotif seperti ini merupakan tipe yang pertama kali dioperasikan oleh SDS atau lokomotif perintis sejak tahun 1895. Total ada 14 unit yang didatangkan dalam rentang waktu 1895 – 1910. Kini hanya tersisa 3 buah, yang kesemuanya telah dimonumenkan di beberapa kota di Jawa Tengah seperti C1412.

Loko C1412 menjadi monumen yang menggambarkan sejarah kereta api uap di Semarang. Foto: Agg/Begandring.

Sementara kereta kayu berwarna hijau yang berdiri di ujung dekat gerbang pintu masuk menjadi obyek perhatian selanjutnya. Kereta kayu yang elegan nan klasik ini sebenarnya adalah kereta kayu yang berhasil diselamatkan dari sebuah TK di Kudus, Jawa Tengah. Saat itu, kondisinya memprihatinkan dengan beberapa bagian yang tak lengkap lagi. Beruntung, nasib baik datang. Kereta itu berhasil direstorasi kembali oleh PT. KAI Daop IV.

Menurut Haryanto selalu Manager Sarana Daop IV, kereta ini rencananya akan dimanfaatkan sebagai cafe. Ia menjelaskan bahwa kereta “CR” tersebut merupakan kereta warisan peninggalan NIS yang digunakan sebagai pengangkut penumpang kelas 3 atau khusus penumpang golongan pribumi.

Memorabilia yang akan dimanfaatkan menjadi kafe. Foto: nav/Begandring

Di era Kolonial, penggolongan kelas penumpang memang didasarkan oleh ras yang umumnya dibagi dalam 3 golongan. Golongan kelas 1 adalah kulit putih / Eropa, kelas 2 berlaku untuk Asia Timur dan golongan 3 dikenakan bagi kalangan pribumi. Harga tiket pun menyesuaikan kelasnya, makin tinggi kelas, lebih mahal pula tarif yang dikenakan.

Baca Juga  Jejak Sejarah Loge De Vriendschap di Surabaya
Cinderamata mata dari Begandring kepada Daop IV PT KAI

Sebelum berpamitan, tim “Begandring Soerabaia” memberikan kenang – kenangan berupa 4 lembar saham, yang 3 diantaranya adalah 3 perusahaan yang termasuk dalam “Zustermaatschapijen” (SJS, OJS, SCS) dan 1 lainnya lembar saham NIS, perusahaan KA pertama di Indonesia yang juga pernah berbasis di Semarang. Penyerahan ini bertujuan untuk semakin menguatkan nilai histori yang terkandung pada bangunan kantor tersebut.

Perjalanan tim “Begandring Soerabaia” menelusuri jejak – jejak perusahaan ‘saudara’ OJS di Semarang masih akan tetap berlanjut, berikut kisahnya yang akan menyusul di bagian lanjutan (bersambung). (Nav)

 

Sumber:

Stoomtractoe op Java en Sumatra Tramwegen op Java.

Local Data Tecniek Indisch Bouwkundig.

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x