Legenda Joko Jumput Surabaya dan Jejak Makam Praban

Legenda Joko Jumput Surabaya dan Jejak Makam Praban
Oleh : "Om" TP Wijoyo ( Pegiat sejarah klasik, pemerhati punden dan aksara. )
begandring.com -

Sosok Joko Jumput merupakan salah satu tokoh legenda yang hidup di tengah masyarakat Kota Surabaya. Kisahnya tidak hanya dikenal sebagai cerita tutur, tetapi juga kerap dilakonkan dalam seni tradisional ludruk yang melegenda di Jawa Timur.

Di kawasan Praban, Surabaya, terdapat sebuah kompleks makam yang diyakini sebagai Makam Joko Jumput. Lokasinya tidak luas dan kini terhimpit bangunan pertokoan di sepanjang Jalan Praban.

Di dalam area tersebut terdapat beberapa makam penting, yakni:

  • Makam Joko Jumput
  • Makam ibunya, Mbok Rondo Prabankinco
  • Makam Putri Purbowati, istri Joko Jumput sekaligus putri Adipati Surabaya

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, ayah Joko Jumput disebut berasal dari Kesultanan Mataram, sementara ibunya berasal dari wilayah Praban Kinco di Surabaya. Ia kemudian dikenal dengan sebutan Mbok Rondo Praban Kinco.

Mbok Rondo dikenal sebagai ahli dalam meracik jamu. Di area makam, terdapat peninggalan berupa batu gentong (genuk) dan batu pipisan yang diyakini sebagai alat pembuatan jamu.

Bahkan, masyarakat setempat meyakini bahwa di masa lampau kawasan ini terkenal dengan ramuan jamu yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Legenda Joko Jumput bermula dari sebuah sayembara untuk memperebutkan Putri Purbowati, putri dari Adipati Surabaya, Jayengrana.

Dua tokoh yang mengikuti sayembara tersebut adalah:

  • Raden Situbondo, putra Adipati Sampang yang sakti mandraguna
  • Raden Joko Truno, putra Adipati Kediri

Sayembara itu menantang para peserta untuk membuka hutan belantara di wilayah Surabaya. Siapa yang paling berhasil, berhak menikahi sang putri.

Raden Situbondo dengan kesaktiannya mampu membabat hutan angker Surabaya. Dalam proses tersebut, ia bertarung dengan sosok singa gaib dari kerajaan Jin Trung.

Dari peristiwa itu lahir nama wilayah Simo Katrungan, di mana:

  • “Simo” berarti singa
  • “Katrungan” berasal dari Jin Trung

Legenda ini juga dikaitkan dengan asal-usul beberapa kawasan lain di Surabaya, seperti Kedungdoro dan Banyuurip.

Pertarungan besar terjadi antara Raden Situbondo dan Raden Joko Truno. Dalam situasi tersebut, Joko Jumput turut membantu.

Dengan pusaka sakti berupa cambuk Pecut Gembolo Geni, Joko Jumput berhasil mengalahkan Raden Situbondo.

Namun, Raden Joko Truno bersikap licik dengan mengaku sebagai pemenang di hadapan adipati dan sang putri.

Kebohongan itu memicu pertarungan antara Joko Jumput dan Raden Joko Truno. Pada akhirnya, Joko Jumput keluar sebagai pemenang.

Raden Joko Truno kemudian dikutuk menjadi sosok linglung, digambarkan sebagai “dělěg-dělěg koyok rěco” (diam seperti arca). Legenda ini sering dikaitkan dengan keberadaan Arca Joko Dolog di depan Gedung Grahadi.

Meski bersifat legenda, kisah ini memiliki latar sejarah yang kuat, yakni masa ketika Surabaya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram setelah penaklukan oleh Sultan Agung pada tahun 1625.

Toponimi seperti Kampung Kraton, Maspatih, Kepatihan, hingga Kebonrojo menjadi penanda bekas pusat pemerintahan lama Surabaya pada masa Adipati Jayengrana.

Konflik besar juga pernah terjadi dalam periode ini, yakni perang Surabaya melawan pasukan gabungan Mataram Kartasura dan VOC pada 1710–1722, yang melibatkan tokoh penting seperti Arya Jayapuspita.

Kini, Makam Joko Jumput di kawasan Praban masih berdiri di tengah padatnya Kota Surabaya. Meski terhimpit bangunan modern, lokasi ini tetap diziarahi pada waktu-waktu tertentu.

Keberadaannya menjadi bagian dari warisan budaya lokal yang penting untuk dijaga. Di tengah pesatnya perkembangan kota, kisah Joko Jumput menjadi pengingat akan sejarah, legenda, dan identitas Surabaya yang tidak boleh dilupakan.

#MelawanLupa #Bercerita Surabaya

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani | Editor : Satria

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: