Suroboyo Wani dan Curabhaya

Sesanti kekinian Kota Surabaya adalah “Suroboyo Wani”. Sesanti ini sering diucapkan sembari memberi semangat dalam event-event yang digelar Pemerintah Kota Surabaya.

Suroboyo Wani mengandung makna berani, menggambarkan sifat berani warga (arek-arek) Surabaya, yang sudah lama mbalung sumsum pada diri (jiwa dan raga) masyarakat Surabaya.

Keberanian Arek-arek Suroboyo dalam menghadapi tentara Sekutu pada November 1945 adalah salah satu bentuk ekspresi keberanian itu. Mereka memekikkan “Merdeka Atau Mati”.

Ada lagi “Duk tali layangan, nyowo situk ilang ilangan“, artinya ijuk tali layang-layang, tinggal satu nyawa berani kehilangan.

Alangkah beraninya rakyat Surabaya!

Bonek (Bondo Nekad) yang menjadi jargon holigan sepak bola Persebaya adalah ekspresi natural kultural pendukung tim kesayangan Persebaya. Mereka berani dalam memberikan dukungan kepada Persebaya.

Mereka menemukan jargon itu atas aktualisasi nilai berani yang ditunjukkan Arek-Arek Suroboyo. Mereka tidak berpikir tentang ilmu sosio kultural linguistik. Tapi ternyata istilah Bonek sangat menggambarkan sifat holigan Persebaya.

Sekarang secara kultural menjadi tradisi baru ketika pekik Surabaya Wani mewarnai awal suatu kegiatan. Percaya atau tidak semangat berani kekinian itu “Surabaya Wani” secara natural, kultural dan historikal terilhami oleh jati diri Surabaya, “Sura ing Baya”, yang berarti berani menghadapi bahaya dan tantangan.


Suroboyo Wani dan Curabhaya

Asal Sesanti

Sifat berani atau wani (Jawa) sesungguhnya berasal dari sesanti Surabaya yang berbunyi “Sura ing Baya”. “Sura ing Baya” ini berarti Sura (orang pemberani), Ing (dalam) dan Baya (bahaya atau tantangan). Jadi artinya adalah orang yang berani dalam atau menghadapi bahaya.

Sura ing Baya adalah bahasa Sanskerta untuk menggambarkan sifat penduduk, yang bermukim di kawasan delta sebagaimana disebut GH Von Faber dalam buku Erwerd Eenstad Geboren (1953). Kawasan ini berada di percabangan sungai Kalimas dan Pegirian yang disebutnya Glagah Arum atau Pandean Peneleh.

Baca Juga  Surabaya Bukan Hujung Galuh!

Glagah Arum (Pandean-Peneleh) adalah kawasan yang sejak 1270 M telah dihuni oleh orang pemberani atau Jawara. Mereka inilah yang kelak membantu raja Kertanegara dalam menumpas pemberontakan Kemuruhan (1270) dan atas keberhasilan itu, Raja Kertanegara membuka lahan baru di utara Pandean – Peneleh sebagai lahan permukiman baru (1275) sebagai hadiah buat para Jawara yang telah membantunya.

Lahan baru itu adalah kawasan Pengampon-Semut, yang oleh Kertanegara dibuka dan disebut Surabaya pada 1275. Semua ini (Pandean, Peneleh dan Pengampon) adalah kawasan delta di antara sungai Kalimas dan Pegirian.

Dalam catatan China, yang dikutip oleh Groenneveld dalam buku Notes in the Malay Archipelago and Melacca, compiled from Chinese Sources (1876), kawasan delta ini adalah lokasi tempat bertemunya pasukan Mongol setelah melalui muara Pa-Tsih-Kan (sungai kecil Kalimas) dan sebelum melanjutkan perjalanan ke arah, yang maunya, Tumapel. Memang tidak disebut nama delta itu, namun tidak ada delta sungai lainnya yang berada di dekat muara Pa-Tsih-Kan kala itu pada abad 13, kecuali delta Glagah Arum (Pandean Peneleh).

Delta sungai, yang dideskripsikan oleh Groenneveld (1876), ternyata berada pada lokasi yang sama sebagaimana digambarkan oleh GH Von Faber dalam buku Erwerd Eenstad Geboren.

Keberadaan lokasi peradaban ini juga sama dengan petunjuk dalam Prasasti Canggu (1358), yang mengatakan adanya peradaban sebuah desa di tepian sungai (naditira pradeca) yang bernama Curabhaya.

Selanjutnya peradaban ini dikuatkan dan didukung dengan aktualisasi penemuan benda arkeologi berupa sumur Jobong pada 2018, yang setelah dilakukan uji karbon, diduga sumur kuno itu telah ada pada 1430. Entah mulai kapan sumur kuno itu ada.

Ringkasnya, antara fakta dan data tentang kekunoan kawasan Delta Peneleh saling mendukung. Di sinilah pemukiman kuno itu berada dengan dihuni oleh orang orang Jawara yang penuh keberanian (GH Von Faber).

Baca Juga  Sejarah Tidak Pernah Final, tapi Juga Tidak Bengkok

Sementara sesanti yang berbunyi “Sura ing Baya”, yang berarti orang yang berani menghadapi bahaya, ada seiring dengan adanya sebuah desa di tepian sungai (naditira pradeca) yang bernama Curabhaya.

Yang jelas, dari sumber sumber yang ada dapat ditarik kemiripan bahwa di kawasan ini dihuni oleh orang orang yang memiliki sifat berani atau Jawara.


Suroboyo Wani dan Curabhaya

Asal Surabaya

Secara faktual, nama Curabhaya dengan posisi di tepian sungai, tertulis pada prasasti yang berangka tahun 1358 M. Surabaya, yang sekarang justru dibelah oleh sungai Kalimas (Pa-Tsih), adalah jelmaan naditira pradeca Curabhaya. Kini, Surabaya menjadi sebuah kota yang luas dengan ukuran 335 kilimeter persegi. Jadi, Curabhaya (kuno) adalah Surabaya (baru).

Adakah sangkalan terhadapnya? Tentunya tidak. Curabhaya tertulis pada prasasti yang berangka tahun 1358 M.

Apakah Curabhaya = Hujung Galuh?

Apakah Curabhaya sama dengan Hujung Galuh, yang tertulis pada prasasti dengan angka tahun 1037 M? Tidak.

Curabhaya dan Hujung Galuh adalah suatu tempat yang beda masa dan beda letak. Curabhaya terletak di hilir sungai (Prasasti Canggu). Sedangkan Hujung Galuh berada di hulu sungai (Prasasti Kamalagyan).

Curabhaya memiliki cerita tersendiri sebagai sebuah desa di tepian sungai, yang memberikan layanan penyeberangan (anambagi).

Hujung Galuh juga memiliki cerita tersendiri, yang tidak sama dengan Curabhaya. Yakni sebagai pelabuhan sungai yang ramai disinggahi oleh nakhoda nakhoda dari Nusantara.

Hujung Galuh adalah pelabuhan sungai antar pulau, interinsuler. Dengan demikian pelabuhan Hujung Galuh sebagai pelabuhan sungai yang bisa diakses oleh kapal kapal besar, yang mengarungi lautan luas.

Lantas ada pertanyaan, sungai manakah yang bisa diakses oleh kapal kapal besar? Tidak salah kiranya, jika ada yang menjawab sungai Brantas. Karena sungai ini memiliki badan dan muara yang lebar.

Baca Juga  Gelar Drama Film Evacuation Route, Siswa SMA Kristen MDC Tampil Memukau

Jika kemudian ditanya dimana asal usul Surabaya, tentu jawaban yang logis adalah Curabhaya, bukan Hujung Galuh.

Curabhaya adalah sebuah desa di tepian sungai (naditira pradeca), yang posisinya di bagian hilir sungai.

Curabhaya berada di utara Bkul atau Bungkul sekarang, sesuai dengan aliran sungai Pa-Tsih (Kalimas). Dimanakah peradaban tua di tepian sungai di utara Bungkul? Jawabannya adalah Peneleh.

Secara logis historis, Peneleh inilah yang diduga kuat sebagai Curabhaya, yang sekarang bernama Surabaya. (nanang purwono)

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x