Girilaya Surabaya: Jejak Pralaya dan Makam Tua di Tengah Kota

Oleh : Om TP Wijoyo Pegiat Sejarah
begandring.com -

Tidak jauh dari kawasan legendaris “Gedung Setan” Surabaya, terdapat sebuah jalan bernama Girilaya yang menyimpan jejak sejarah dan makna mendalam. Nama ini bukan sekadar penanda lokasi, tetapi berkaitan erat dengan peristiwa besar, budaya, dan keberadaan makam kuno di sekitarnya.

Secara etimologi, kata Girilaya berasal dari dua unsur bahasa Sanskerta. “Giri” berarti bukit, gunung, atau dataran tinggi. Sementara “laya” diyakini berasal dari kata pralaya yang bermakna kehancuran, pemusnahan, atau pembubaran. Istilah ini juga tercatat dalam Prasasti Pucangan pada masa Raja Airlangga yang menyebut peristiwa “Maha Pralaya”, yakni kehancuran besar yang terjadi pada masa lampau.

Dalam sastra Jawa, istilah pralaya (dibaca: praloyo) memiliki makna yang lebih luas, yakni kematian atau gugurnya seseorang, terutama dalam konteks peperangan. Salah satu contoh ungkapan berbunyi, “Akèh prajurit kang nemahi pralaya ing madyaning peperangan”, yang berarti banyak prajurit gugur di tengah pertempuran.

Berdasarkan makna tersebut, nama Girilaya diduga merujuk pada sebuah tempat kematian atau pemakaman yang berada di dataran tinggi. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa kawasan Girilaya dan sekitarnya memang dikenal memiliki banyak makam, baik makam keramat Islam maupun kuburan Tionghoa atau yang dikenal sebagai “bong”.

Hingga kini, jejak keberadaan makam tersebut masih dapat ditemukan di tengah padatnya permukiman warga. Di kawasan Kupang, tidak jauh dari Girilaya dan Gedung Setan, masih terdapat bong atau kuburan Tionghoa lengkap dengan cungkup (penutup atap) yang menunjukkan bahwa area tersebut dahulu merupakan kompleks pemakaman keluarga.

Pada bagian bongpay (nisan), terdapat tulisan beraksara China yang telah diteliti oleh Om Pippo Agosto, seorang ahli epigrafi China asal Semarang. Dari hasil pembacaan, diketahui bahwa makam tersebut berasal dari:

  • Tahun ke-31 Binkok, atau Tahun Kuda Air (1942 Masehi)
  • Suami bermarga The, bernama Tjong Pie
  • Istri bermarga Oei, bernama Tjoen Nio
  • Asal leluhur dari daerah Changpu
  • Memiliki tiga anak laki-laki: Hong Tjing, Hong Gwan, Hong Lie
  • Serta empat anak perempuan: Gwat Tjio, Gwat Bo, Djoe Giok, dan Djoe Tjin

Sayangnya, bagian bulan dan tanggal pada prasasti tersebut sudah tidak terbaca karena kondisi yang telah aus dimakan waktu.

Keberadaan bong ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah digunakan sebagai area pemakaman setidaknya sejak tahun 1942. Bahkan, dalam peta lama tahun 1915, wilayah Kupang, Banyuurip, Simo, hingga Girilaya tercatat memiliki banyak kompleks pemakaman Tionghoa.

Namun seiring perkembangan kota Surabaya, banyak dari bong tersebut yang telah dipindahkan oleh keluarga atau bahkan hilang karena pembangunan permukiman dan infrastruktur baru.

Kini, sisa-sisa makam yang masih bertahan menjadi pengingat akan sejarah panjang kawasan Girilaya. Di tengah hiruk pikuk kota, jejak masa lalu ini seakan mengajak masyarakat untuk tidak melupakan akar sejarah yang pernah ada.

#MelawanLupa #BerceritaSurabaya

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani | Editor : Satria

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: