Nek sampean ndelok gedung Pemadam Kebakaran (PMK) lawas di Surabaya, ojo langsung mbayangno petugas damkar zaman biyen wis gagah perkasa koyok Werkudoro numpak mobil abang mbranang koyok saiki. Perjalanan pemadam kebakaran Surabaya punya sejarah panjang, bahkan konon yang pertama di Hindia Belanda.
Menurut catatan sejarah yang ditulis G.H. Von Faber dalam Oud Soerabaia, satuan pemadam kebakaran bernama de Brandweer te Soerabaia telah berdiri pada 1810, ketika Belanda berada di bawah kekuasaan Prancis. Sementara itu, de Brandweer te Batavia baru terbentuk pada 1873. Catatan ini menempatkan Surabaya sebagai salah satu pelopor layanan pemadam kebakaran di Indonesia.

Gedung PMK/ Brandweer ketika berada di kawasan Pasar Besar. Sumber: von Vaber
Penulis londo, von Faber muni ngene nang bukune:
De oude brandweerkazerne op Passer Besar (thans afgebroken). Zoo hoogst primitief en onvoldoende als de behuizing was, zoo practisch bruikbaar was het materieel. Links op de foto, een avondopname van Fotax, ziet men de kleine motorspuit; in de middenlage: de ladderwagen en rechts: de groote „Ahrens Fox”. Voor de loodsen: het Europeesche en Inlandsche brandweerpersoneel.
Artine ngene :
Markas pemadam kebakaran lama di Passer Besar (sekarang telah dibongkar). Meskipun bangunannya sangat sederhana dan tidak memadai, peralatan yang dimiliki cukup praktis untuk digunakan. Di sebelah kiri foto, yang merupakan pemotretan malam hari oleh Fotax, terlihat mobil pemadam kebakaran kecil bermesin pompa. Di bagian tengah terdapat mobil tangga, sedangkan di sebelah kanan tampak kendaraan besar merek “Ahrens Fox”. Di depan bangunan-bangunan garasi tersebut berdiri personel pemadam kebakaran Eropa dan pribumi.


Para Pemadam Kebakaran beraksi. Sumber: KITLV
Dalam perkembangannya, urusan pemadam kebakaran Surabaya menghadapi kendala sarana dan prasarana. Perubahan mulai terasa setelah Surabaya berstatus gemeente atau kotamadya pada 1906. Status ini membuat pengelolaan kota semakin terarah, termasuk perhatian terhadap peralatan, organisasi petugas, dan fasilitas pemadam kebakaran.
Peralatan mulai dimodernisasi. Organisasi petugas dibenahi. Namun, ada satu persoalan yang cukup menggelitik: peralatannya semakin maju, sedangkan tempat menyimpannya masih sederhana.
Teko Pasar Besar Sampek Pasar Turi
Pusat kegiatan petugas pemadam kebakaran sekaligus garasi peralatan berada di kawasan Pasar Besar, sekarang Jalan Pahlawan. Depo ini digunakan untuk menyimpan berbagai perlengkapan, termasuk mobil pemadam kebakaran dan tangga mekanik.
Masalahnya, bangunan depo tersebut masih semi permanen dengan dinding dari anyaman bambu atau sesek. Kondisi ini terasa kurang sepadan dengan upaya modernisasi peralatan yang sedang digalakkan pemerintah kota sejak awal abad ke-20.
Bayangkan, peralatan pemadam kebakaran terus diperbarui, tetapi markasnya masih berdinding sesek. Ibarat punya mesin anyar, parkirnya malah di kandang bambu.
Akhirnya, pada akhir 1927, depo pemadam kebakaran dipindahkan dari Pasar Besar ke kawasan Pasar Turi. Pemindahan ini menjadi bagian dari pembenahan fasilitas dinas agar lebih sesuai dengan kebutuhan operasional yang terus berkembang.

Gedung PMK nang Pasar Turi. Sumber: Von Faber
Modernisasi tersebut berlanjut hingga menjelang 1942. Kehadiran layanan pemadam kebakaran membantu masyarakat menghadapi kebakaran dengan penanganan yang lebih cepat dan efektif. Perannya penting bagi kota yang terus tumbuh, karena kebakaran dapat menimbulkan kerugian besar bagi permukiman, bangunan, dan kegiatan ekonomi.
Sejarah Gedung PMK mengingatkan kita bahwa pembangunan kota tidak cukup dengan mendirikan gedung dan jalan. Kota juga membutuhkan layanan publik yang mampu melindungi warganya ketika bencana datang.
Ngono lho Rek ceritane.
Woro-woro
Tulisan ini dirangkum dari bahan sejarah mengenai de Brandweer te Soerabaia, dengan rujukan Oud Soerabaia dan Nieuw Soerabaia karya G.H. Von Faber, Weeredculture.NL, serta KITLV Media.
Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen. 😄