Bahasa Jawi Dan Peradaban Islam

Begandring.com: Surabaya (14/11/23) – ꦧꦲꦱꦗꦮꦶ Bahasa Jawi merupakan salah satu dari lima bahasa Islam yang pernah digunakan selain bahasa Arab, bahasa Persi, bahasa Utsmani, dan bahasa Urdu.

Menurut Direktur Akademi Jawi Malaysia Syukri Rosli, dikatakan sebagai bahasa Islam karena mempunyai kesamaan dalam perbendaharaan kata kunci yang mengacu pada ꦧꦲꦱꦄꦭ꧀ꦐꦸꦫꦤ꧀ bahasa Alquran seperti Allah, Nabi, Insan, Adil, Ihsan, Awal, Ilmu dan lainnya,” katanya.

“Di samping itu, dikatakan sebagai ꦧꦲꦱꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀ bahasa Islam karena mempunyai tradisi keilmuan bahasa yang memanfaatkan ilmu ꦧꦲꦱꦄꦫꦧ꧀ꦄꦭ꧀ꦐꦸꦫꦤ꧀ bahasa Arab Alquran dan juga ꦲꦸꦫꦸꦥ꦳꧀ꦄꦫꦧ꧀ꦄꦭ꧀ꦐꦸꦫꦤ꧀ huruf Arab Alquran,” begitu Rosli memberi alasan.

Menuliskan Arab Pegon. Foto: astroawani/begandring

ꦧꦲꦱꦗꦮꦶ Bahasa Jawi merupakan hasil karya besar para ulama abad pertengahan, menyebarkan agama Islam tidak serta merta menggunakan ꦧꦲꦱꦄꦫꦧ꧀ bahasa Arab, namun menggunakan ꦧꦲꦱꦩꦼꦭꦪꦸ bahasa Melayu dan tetap mengenalkan ꦠꦸꦭꦶꦱꦤ꧀ꦄꦫꦧ꧀ tulisan Arab

Bahasa Jawi merupakan bukti tingginya tamadun Melayu. Hal itu seperti dikatakan Prof. Wan Mohd Noor.

“Untuk mengetahui peradaban bangsa bisa dilihat dari peninggalan artefak, bangunan, kesusastraan, yang terdapat pada bangsa tersebut,” terang dia.

ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦗꦮꦶ Abjad Jawi alias ꦲꦸꦫꦸꦥ꦳꧀ꦗꦮꦶ huruf Jawi merupakan abjad Arab-Melayu atau tulisan Melayu (جاوي) adalah kumpulan huruf berbasis ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦄꦫꦧ꧀ abjad Arab.

Umumnya digunakan untuk menuliskan teks dalam ꦧꦲꦱꦩꦼꦭꦪꦸ bahasa Melayu (dialek Malaysia, Brunei, Siak, Pahang, Terengganu, Johor, Deli, Kelantan, Riau, Pontianak, Palembang, Jambi, Sarawak, Musi dan dialek lainnya) dan bahasa-bahasa lainnya; seperti bahasa Aceh, Betawi, Banjar, Kerinci, Minangkabau maupun Tausug.

ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦗꦮꦶ Abjad Jawi dikenal juga dengan ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦥꦺꦒꦺꦴꦤ꧀ Abjad Pegon (Bahasa Jawa/Bahasa Sunda: ابجد ڤَيڮَون, Abjad Pégon; Bahasa Madura: أبجٓاد ڤَيک࣭و, Abjâd Pèghu) adalah abjad Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura dan Sunda.

Baca Juga  Madrasah Mufidah, Jejak Sejarah KH Mas Mansur di Surabaya

Kata pegon berasal dari kata berbahasa ꦗꦮꦥꦺꦒꦺꦴ Jawa pégo yang berarti “menyimpang”. Sebab, bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

ꦲꦸꦫꦸꦥ꦳꧀ꦄꦫꦧ꧀ꦩꦼꦭꦪꦸ Huruf Arab Melayu baik Jawi ataupun Pegon terdiri dari huruf Arab dengan beberapa tambahan huruf yang diubah untuk bunyi Melayu. Ada lima huruf tambahan, yaitu:

  1. Huruf Kaf dengan titik satu untuk ‘G’
  2. Huruf Jim dengan titik tiga untuk ‘C’
  3. Huruf Ain dengan titik tiga untuk ‘NG’
  4. Huruf Fa dengan titik tiga untuk ‘P’
  5. Huruf Nun dengan titik tiga untuk ‘NY’ 

ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦥꦺꦒꦺꦴꦤ꧀ Aksara Pegon masih berkerabat dengan abjad Jawi. Perbedaan utama dengan Jawi adalah di dalam Pegon terdapat beberapa huruf tambahan untuk merepresentasikan beberapa konsonan dalam bahasa Jawa yang tidak dapat diwakilkan oleh ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦄꦫꦧ꧀ abjad Arab standar dan ꦄꦧ꧀ꦗꦣ꧀ꦗꦮꦶ꧉ abjad Jawi.

Membedakan e dan o, namun saat ini abjad Pegon sudah tidak lagi menggunakan harakat karena abjad ini digunakan untuk menulis ꦧꦲꦱꦗꦮ bahasa Jawa, maka orang Arab tidak mampu membaca teks ini sebelum mampu mempelajari bahasa Jawa karena ada huruf-huruf yang dianggap “asing” bagi mereka.

Saat ini, huruf Pegon di Jawa dipergunakan oleh kalangan umat muslim, terutama di ꦥꦼꦱꦤ꧀ꦠꦿꦺꦤ꧀ꦥꦼꦱꦤ꧀ꦠꦿꦺꦤ꧀ pesantren-pesantren.

Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis ꦠꦥ꦳꧀ꦱꦶꦫꦤ꧀ tafsiran atau arti pada Alquran, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam Pegon.

Sebaran wilayah yang menggunakan aksara Jawi meliputi Thailand, Malaysia, ꦱꦶꦔꦥꦸꦫ Singapura, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan.

Ulama ꦆꦭ꧀ꦩꦸꦮꦤ꧀ ilmuwan bahasa Jawi sejak abad ke-16 M adalah Syeh Hamzah Fansuri (merupakan Ilmuwan yang mengarang pertama bahasa Jawi), Syeh Nuruddin, Syeh Abdul Rauf, Syeh Dawud Al Fatani, Raja Ali Haji, WAN Ahmad Al Fatani, Syeh Za’ba, dan Syed Naquib Al-Attas. 

Baca Juga  Stasiun Surabaya Kota Bak The Beauty and The Beast

Saat ini, Syed Naquib Al-Atas masih aktif dalam memberikan pemikiran tentang ꦥꦼꦂꦏꦼꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ perkembangan bahasa Jawi sekali pun usia beliau sudah lebih dari 90 tahun. Semoga beliau diberi keberkahan umur panjang, sehat selalu, dan diberi keberkahan. Amin. (Hairul Warizin, MM/nng)

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x