Oleh : “Om” TP Wijoyo
“Bhré Daha mokta, dhinarměng Adilangu, dharmabhiṣèka ring Adri Purwawiséṣa”
(Terjemahan : Bhre Daha meninggal, didharmakan di Adilangu, dengan nama pendharmaan Gunung Purwawisesa)
Cuplikan pemberitaan dalam “Sěrat Pararaton”, terkait lokasi Pendharmaan Bhre Daha itu sangat menarik. Memunculkan toponimi bernama “Adilangu”.
Apakah toponimi “Adilangu” bisa dihubungkan dengan “Dlanggu”, yang kini secara administratif merupakan sebuah nama Kecamatan di Wilayah Kabupaten Mojokerto. Kecamatan Dlanggu membawahi 16 Desa. Dan setiap Desa membawahi beberapa Dusun.
Di Kecamatan Dlanggu, tepatnya di Dusun Kademangan, Desa Dlanggu, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah kekunoan, berupa reruntuhan yang diduga sebuah bangunan “Candi” berbahan bata dan batu andesit. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan “Situs Winong” atau “Candi Winong”.
Hal menarik, di Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, terdapat nama Dusun “Ardilangu”. Secara toponimi nama Dusun Ardilangu mirip dengan toponimi “Adilangu”, sebuah lokasi Pendharmaan Bhre Daha yang disebutkan dalam Serat Pararaton. Bahkan di “Punden Mbah Ngembeh” masih menunjukkan sisa kekunoan berupa bata kuno berukuran besar.
Tentu dibutuhkan kajian yang lebih dalam dan komprehensif terkait penentuan lokasi Candi Pendharmaan Bhre Daha. Mengingat di wilayah Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terdapat banyak peninggalan kekunoan masa klasik.
📷 Foto Situs Winong
Dusun Kademangan, Desa Dlanggu, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto



