Makam Marga Han di Pasar Bong dan Petunjuk Persebaran Priyayi Islam

Pembukaan Pasar Bong Surabaya sebagai wisata belanja malam (night shopping) pada 30 Desember 2022, menarik perhatian Tim Begandring Soerabaia. Mereka datang ke pasar dua hari menjelang pembukaan.

Tujuannya untuk melakukan penelusuran sejarah sebagai materi untuk pendukung pasar Bong sebagai pasar wisata. Tim Begandring ingin pasar ini tidak hanya jadi wisata belanja belaka, tapi juga sebagai wisata sejarah.

Pasar Bong dulunya area permakaman China. Namanya saja “Bong”, yang artinya kuburan China.  Kuburan ini terhitung sangat tua dan mulai ada seiring dengan datangnya warga etnis Tionghoa yang bermarga Han.

Marga Han ini bermula dari 5 anak dari keturunan Han Siong Kong (1673-1743) generasi ke 21, yang datang dari Guangzhou kemudian datang ke Lasem, Jawa Tengah pada awal 1700-an.

Kelima anak Han Siong Kong, deretan generasi ke 22, yang semuanya lahir di Lasem dan kemudian berpencar setelah kematian Han Siong Kong pada 1743. Anak tertua Han Tjoe Kong dan Han Kien Kong tetap tinggal di Lasem. Sementara tiga lainnya pindah ke Jawa Timur. Han Bwee Kong menuju Surabaya. Han Hing Kong dan Han Tjien Kong atau Soero Pernollo menuju dan tinggal di Besuki.

Han Bwee Kong (1727-1778) diangkat menjadi seorang kapten di Surabaya dengan waktu dan masa yang kurang jelas. Sementara Han Tjien Kong atau Soero Pernollo yang akhirnya bekerja untuk Resident Rembang, Hendrik Breton, yang wilayah administrasinya meliputi kawasan pantai utara Jawa bagian Timur (1763). Hendrik Breton juga sempat menjadi Ketua Dewan Hindia pada 1768.

Han Tjien Kong atau Soero Pernollo sempat menjadi tangan kanan Hendrik Breton sebagai Gezaghebber untuk mengurus 3 armada VOC dan kemudian diangkat menjadi collector di Surabaya dan juga sebagai kepala Polisi di Panarukan.

Sementara adiknya Han Bwee Kong yang bermukim di Surabaya menjadi orang pertama di keluarga Han yang ditunjuk menjadi Kapten. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana ia bisa menjadi seorang Kapten. Diduga ia dibantu oleh calon mertuanya. Han Bwee Kong akhirnya menikahi seorang perempuan yang bernama Cen Ciguan (1730-1778) pada 1748.

Foto Han Bwee Kong dan istrinya Cen Ciguan hingga sekarang masih tergantung di Rumah Persembabyangan Nenek Moyang atau Rumah Abu Han di Jalan Karet Surabaya.

Yang menarik dari saudara keturunan Han Siong Kong ini adalah ada yang berganti kepercayaan (agama). Yaitu anak ketiga yang bernama Han Tjien Kong atau Soero Pernollo. Sementara lainnya tetep memeluk agama dan kepercayaan nenek moyang. Meski berbeda agama, namun mereka tetap rukun.

Cuma dalam silsilah keluarga Han, yang ada di Rumah Persembahyangan di Surabaya, nama Han Tjien Kong tidak tertulis. Dia memiliki silsilah tersendiri hingga keturunan dan generasi berikutnya. Han Bwee Kong di Surabaya. Han Tjien Kong di Besuki.

Baca Juga  Sansekerta, Churabhaya, dan Surabaya Wani

Han Siong Kong adalah sosok yang lahir di Lubianshe, Tianbao pada tahun 1673 dan meninggal pada 1743, lalu dimakamkan di Binangun, dekat Lasem. Setelah kematian bapaknya itulah, anak-anak Han Siong Kong meninggalkan Lasem dan pindah ke Surabaya.

Dalam penelusuran Tim Begandring di dalam Pasar Bong, mereka menemukan sebuah makam yang oleh warga setempat disebut punden Buyut Tonggo. Namanya Syech Sin Abdurrahman. Menurut juru kunci makam, Sin Abdurrahman adalah orang China yang beragama Islam.

Tri Priyo Wijoyo, salah seorang anggota tim Begandring yang menekuni sejarah klasik dan perpundenan, menanyakan ke juru kunci mengenai bentuk bangunan yang melindungi makam sebelum berbentuk seperti sekarang.

Noto (60 tahun), sang juru kunci, menjelaskan, sebelum dibangun dengan konstruksi batu bata bangunannya terbuat kayu dan sesek (anyaman dari bambu).

Makam Buyut Tonggo atau Syech Sin Abdurrahman ini memang berada di sebuah bangunan yang berada di lorong sempit. Lorong-lorong di Pasar Bong ini terbentuk mengikuti alur dan kontur jalan setapak di area makam, di antara makam-makam.

Dalam pengamatan lapangan Tim Begandring, terlihat bahwa bentuk makam Sin Abdurrahman ini layaknya makam Islam pada umumnya, yakni dengan dua patok nisan yang membujur utara-selatan. Tidak ada kesan makam ini sebagaimana model leluhur makam etnis Tionghoa yang berbentuk bong.

Namun dari namanya, ada kata Sin, sangat identik dengan nama etnis China. Kemudian muncul pertanyaan yang mendorong Tim Begandring melakukan penelusuran data. Siapa Sin itu? Apa nama lengkap dari Sin?

Makam Marga Han di Pasar Bong dan Petunjuk Persebaran Priyayi Islam
Nisan Buyut Tonggo dengan nama Sin Abdurrahman. foto: begandring

 

Satu Makam yang Terjaga

 Yayan Indrayana, periset Begandring yang menelusuri data dan arsip, yang akhirnya menemukan sumber sejarah penting terkait riwayat marga Han. The Han Family of East Java Entrepreneurship and Politics (18th -19th Centuries), ditulis Claudine Salmon (1991).

Dari sumber ini diketahui bahwa Marga Han yang datang ke Surabaya pada pertengahan abad 18 adalah Han Tjoe Kong, Han Kien Kong, Han Tjien Kong, Han Hing Kong dan Han Bwee Kong. Mereka adalah generasi ke 22 dari keluarga Han; Han Siong Kong (1673-1743) yang datang dari Guangzhou ke Jawa pada awal 1700-an. Han Siong Kong menetap di Lasem, Jawa Tengah.

Setelah kematian Han Siong Kong pada 1743, tiga bersaudara ini datang ke Jawa Timur. Han Bwee Kong tinggal di Surabaya, sedangkan Han Tjien Kong dan Han Hing Kong tinggal di Besuki Panarukan. Han Tjien Kong atau Soero Pernollo memeluk agama Islam.

Tidak hanya Soero Pernollo, keturunan dari Han Bwee Kong di Surabaya juga ada yang berubah agama menjadi agama Islam. Namanya, Han Swie Kong (generasi ke 22). Ia menikah dengan gadis Jawa yang kemudian pindah ke Prajekan dekat Besuki. Dalam perkembangannya keluarga Han menjadi multi relegi tapi hubungan mereka tetap harmonis.

Baca Juga  Berkunjung ke Rumah Abu Han, dari Cerita Kejayaan sampai Bakar Uang

Ketika di pemakaman China yang sekarang menjadi Pasar ditemukan sebuah makam Islam yang asalnya adalah orang China, maka dapat diduga ia adalah bagian dari keluarga Han.

Kini, pemakaman China itu dikenal dengan Pasar Bong. Tidak hanya pasar, tapi di seperempat pertama abad 20 area pemakaman ini sudah mulai didirikan bangunan rumah. Ini terlihat dari foto-foto lama pada tahun 1930-an.

Secara faktual bahwa di dalam area pasar juga masih terdapat bangunan dan rumah-rumah tua dari era kolonial. Melihat langgam bangunan, arsitekturnya berasal dari era akhir abad 19 dan awal abad 20.

Sementara makam-makam (bong) sudah hilang dan berganti bangunan stan pasar dan rumah-rumah baru. Hanya sedikit sekali menyisakan bekas sebuah bong. Di antara sesaknya dan padatnya pasar itu, masih ada sebuah makam yang terjaga. Yaitu, makam yang dipundenkan. Punden Buyut Tonggo alias Syech Sin Abdurrahman.

Dari kelima anak anak Han Siong Kong ini salah satunya memeluk agama Islam. Yaitu Han Tjien Kong. Lainnya tetap memeluk agama dan kepercayaan nenek moyang.

Menurut Claudine Salmon (1991), mereka dimakamkan di Surabaya. Kala itu, di abad 18 dan awal abad 19, tidak ada makam Pecinan lain di Surabaya, selain Bong Kembang Jepun. Yaitu, pemakaman China di kawasan Pecinan Surabaya.

Kini, pemakaman China itu dikenal dengan Pasar Bong. Tidak hanya pasar, tapi di seperempat pertama abad 20 area pemakaman ini sudah mulai didirikan bangunan rumah. Ini terlihat dari foto-foto lama pada tahun 1930-an.

Secara faktual bahwa di dalam area pasar juga masih terdapat bangunan dan rumah-rumah tua dari era kolonial. Melihat langgam bangunan, arsitekturnya berasal dari era akhir abad 19 dan awal abad 20.

Sementara makam-makam (bong) sudah hilang dan berganti bangunan stan pasar dan rumah-rumah baru. Hanya sedikit sekali menyisakan bekas sebuah bong.

Di antara sesaknya dan padatnya pasar itu, masih ada sebuah makam yang terjaga. Yaitu, makam yang dipundenkan. Punden Buyut Tonggo alias Syech Sin Abdurrahman.

Diduga makam Sin Abdurrahman ini adalah makam dari keluarga Han yang sudah memeluk agama Islam. Menurut Noto (60), juru kunci, pernah ada orang dari wilayah Pasuruan-Probolingo yang kemudian membangun cungkup sebagai perlindungan makam yang permanen sebagaimana terlihat sekarang.

Mengapa ada orang dari pesiair timur Jawa Timur datang ke makam ini?

 

Makam Marga Han di Pasar Bong dan Petunjuk Persebaran Priyayi Islam
Sisi lain Rumah Abu Han di Jalan Karet Surabaya. foto: begandring

 

Pesaing Inggris

 Dari silsilah keluarga Han, khususnya Han Tjien Kong atau Soeroe Pernollo (1720-1776) yang beragama Islam, turunlah para priyayi yang menjadi pejabat penting di wilayah pantai utara Jawa bagian timur (Java’s Oosthoek): mulai Tuban, Gresik, tentunya Surabaya, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Prajekan, Besuki, Panarukan dan Bondowoso. Bahkan ada yang di wilayah Jember.

Baca Juga  Cerita Seru Menyisir Kampung Eropa bersama Sejarawan Australia

Han Tjien Kong seperti halnya Han Bwee Kong adalah generasi ke-22. Sementara Han Siong Kong di Lasem adalah generasi ke 21. Sedangkan keturunan Han Tjien Kong adalah generasi ke 23, 24 dan seterusnya.

Misalnya di generasi ke-23, ada Han San Kong atau Baba San (1752 – 1833) dan Soemodiwirjo (1772-1776) menjadi Ronggo di Besuki. Juga ada nama Han Mi Djoen, Baba Midoen atau Kiai Madiroen dan Raden Soero Adiwikromo pernah menjadi Ronggo di Besuki dan Bondowoso.

Sementara di generasi ke-24 ada nama-nama Soero Adiwidjojo menjadi Temenggung di Bangil dan bupati di Tuban. Sedangkan Wiro Adinegoro menjadi Adipati dan bupati di Bangil. Ada juga nama Soerio Adiningrat yang menjadi tumenggung dan bupati di Puger.

Keturunan Han Tjien Kong, hingga generasi ke-27, yang dicatat oleh Claudine Solmon (1991), masih menempati banyak posisi penting dalam sistem pemerintahan klasik Java di berbagai tempat di wilayah Pantai Utara Jawa bagian Timur (Java’s Oosthoek).

Keberadaan Marga Han di Jawa Timur, yang mulai berkembang dari Surabaya, menjadikan keluarga bermarga Han berperan penting di wilayah Jawa Timur mulai dari jabatan pemerintahan hingga dalam percaturan politik dan perdagangan.

Keluarga Han menguasai wilayah pantai utara Jawa bagian Timur, baik di bidang pemerintahan, politik dan perdagangan sampai  Inggris dan Belanda datang menguasai wilayah itu di awal abad 20.

Bagi Inggris dan Belanda, penguasaan keluarga Han di bidang perdagangan di wilayah itu menjadi pesaing dan sekaligus halangan bagi mereka (Inggris dan Belanda).

Dari potret perkembangan dan peran keluarga Han, baik di bidang pemerintahan dan perdagangan, menunjukkan pengaruh penting di wilayah Jawa Timur dan makam dari Han Tjien Kong yang beragama Islam di Pasar Bong diduga kuat adalah makam yang sekarang dikeramatkan menjadi Buyut Tonggo alias Syech SIN Abdurrahman.

Dari dulu, sejak era Majapahit, Surabaya senantiasa menjadi persebaran hal-hal penting. Misalnya, Sunan Ampel (abad 15) menjadi awal penyebaran agama Islam di Jawa.

Kiai Brondong atau Sunan Boto Putih (abad 17) menjadi sumber persebaran para bupati di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang. Kemudian dari keluarga Han (abad 18) menjadi mula persebaran para priyayi dan pejabat penting di wilayah pantai utara Jawa bagian timur.

Karenanya, jika Pemerintah Kota Surabaya jeli, sepatutnya Pasar Bong tidak sekadar pasar untuk komersial, tapi juga untuk tujuan wisata sejarah. (nanang purwono)

 

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Han Ay Lie
1 year ago

Sangat menarik. Apa saya bisa minta artikel dan data ini? Nama saya Han Ay Lie dan saya generasi ke 14 Han Siong Kong.
Di web saya, ada beberapa foto dan link keluarga
https://hanaylie.id/about/

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x