MEREKA YANG BERTEMPUR
Di Surabaya ada jalan bernama Jalan Residen Sudirman. Siapakah dia sehingga namanya diabadikan sebagai nama jalan?
Ketika api revolusi mulai membakar Kota Surabaya pada caturwulan terakhir 1945, Residen Soedirman berdiri di garis depan sebagai pamong praja dan pimpinan tertinggi di Karesidenan Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku-Shuchokan). Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, ia memikul tanggung jawab besar memimpin penataan pemerintahan sipil Republik yang baru lahir di tengah ancaman militer sekutu.

Residen Soedirman di saat Pertempuran 10 November 1945. Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950
Peran bersejarahnya dimulai pada 3 September 1945. Sekembalinya menghadiri Sidang Pertama KNIP di Jakarta, Residen Soedirman langsung menandatangani naskah Proklamasi Pemerintah Republik Indonesia Daerah Surabaya yang diantarkan oleh para perwira muda bekas PETA.
Antara lain, Isa Edris, Kholil Thohir, Usman Aji, Yahya Hasyim, dan Abdul Wahab. Surat tersebut diserahkan kepada Residen Soedirman tanpa dibaca terlebih dahulu, surat itu langsung ditandatangani. Surat tersebut kemudian diserahkan lagi kepada Dul Arnowo. Ternyata surat tersebut berisi Proklamasi Pemerintah Republik Indonesia Surabaya.
Pada sore harinya surat tersebut langsung disebarluaskan ke Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, Jombang dan Lamongan dan Proklamasi Daerah Surabaya terjadi pada tanggal 3 September 1945.
Ahmad Zaki Yamani, Ketua Begandring Soerabaia mengatakan, “Pengumuman ini menegaskan bahwa seluruh urusan pemerintahan di Surabaya resmi berada di bawah wewenang Republik Indonesia dan lepas dari kekuasaan Jepang.”
Zaki yang menekuni sejarah revolusi kemerdekaan lantas menjelaskan, nama Residen Soedirman lekat dalam salah satu momentum paling krusial sebelum meletusnya pertempuran besar, yakni Insiden Bendera di Hotel Yamato pada 19 September 1945.
“Ketika bendera Merah-Putih-Biru dikibarkan oleh sekelompok orang Belanda di puncak Hotel Yamato (Hotel Oranje), suasana kota seketika memanas,” tutur Zaki.
Dari berbagai literatur diketahui, Residen Soedirman datang dan melangkah menuju ke hotel didampingi pengawalnya, Sidik (Cak Sidik), untuk berunding dengan Mr. Ploegman.
Ia menuntut agar bendera Belanda tersebut segera diturunkan karena menghina kedaulatan Indonesia. Tuntutan diplomatis itu dijawab Ploegman dengan todongan pistol.
Ketegangan memuncak saat Cak Sidik menendang tangan Ploegman hingga pistol meletus di udara—sebuah pemicu yang menyulut amuk pemuda Surabaya untuk menyerbu menara hotel dan merobek warna biru bendera Belanda.

Reka Ulang dalam film Soera Ing Baja. Sumber: Begandring
Reka ulang peran Residen Sudirman dalam insiden Perobekan Bendera telah diabadikan dalam film Soera Ing Baja (2023) produksi Pemkot Surabaya bekerjasama dengan TVRI Jatim dan Begandring Soerabaia.
Peran Residen Soedirman tak hanya di situ saja. Pada 28 September 1945, ia ditetapkan sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua KNI Jawa Timur untuk menegakkan roda pemerintahan sebelum Gubernur RMTA Soerjo berkantor secara resmi.
Di awal Oktober 1945, Residen Soedirman memberikan persetujuan resmi kepada BKR dan PRI untuk melucuti persenjataan Jepang dan merebut Markas Kempetai.

Catatan Peran Residen Soedirman dalam 10 November 1945. Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950
Dalam pusaran konflik bersenjata dengan tentara Inggris (AFNEI), Residen Soedirman menjadi pilar utama Kontak Biro. Rumah dinasnya di van Sandictstraat (kini Jalan Residen Sudirman) menjadi tempat berteduh dan markas koordinasi saat Presiden Soekarno tiba di Surabaya di tengah hujan peluru pada 29 Oktober 1945.
Ia memberikan laporan situasi riil kota sebelum perundingan gencatan senjata dengan Brigadier A.W.S. Mallaby digelar. Bahkan pada 9 November 1945 pukul 11.00 siang, Residen Soedirman bersama Roeslan Abdulgani dan T.D. Kundan secara langsung mengantarkan surat jawaban Gubernur Soerjo ke markas Mayor Jenderal Mansergh—menerima langsung naskah ultimatum Inggris yang kejam sebelum Surabaya digempur dari darat, laut, dan udara.
Residen Soedirman adalah simbol kepemimpinan sipil yang teguh dan berani mengambil risiko.
“Residen Soedirman merupakan salah satu kunci pertempuran 10 November 1945. Sebagai Residen Surabaya, beliau menjadi jembatan diplomasi yang menghubungkan ketegasan pemerintah Republik dengan gelora keberanian pemuda di pertempuran,” ungkapnya.
Meski Surabaya semakin terdesak oleh Sekutu, Residen Soedirman tidak menyerah. Ia terus melanjutkan tugas-tugas pemerintahan sipil Republik dalam perang gerilya di pedalaman Jawa Timur.
Dalam kondisi fisik yang terus menurun akibat kelelahan dan sakit, ia memimpin dari pengungsian hingga mengembuskan napas terakhirnya pada 9 April 1949 di Desa Jogos, Kediri.
Sang pejuang itu kini beristirahat di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Surabaya.
Simak siapa saja sosok-sosok pejuang lainnya dalam artikel selanjutnya.
Biodata Singkat
- Nama Lengkap: Raden Soedirman (Residen Soedirman)
- Lahir: (tidak/belum teridentifikasi)
- Wafat: 9 April 1949, Desa Jogos, Kecamatan Plemahan, Kediri, Jawa Timur
- Peran dalam 10 November 1945: Residen Surabaya pertama setelah kemerdekaan RI & Wakil Gubernur Jawa Timur; Tokoh negosiator utama Insiden Bendera Hotel Yamato (19 September 1945); Anggota Kontak Biro diplomasi Indonesia–Inggris; Penandatangan Proklamasi Pemerintah RI Daerah Surabaya (3 September 1945).
- Makam: Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Surabaya