Walikota Radjamin Nasution: Galak ke Asing, Lembut ke Rakyat

Walikota Radjamin Nasution: Galak ke Asing, Lembut ke Rakyat
begandring.com -

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya terlalu besar jika hanya dilekatkan pada satu-dua nama orang saja. Faktanya, ada begitu banyak nama dari berbagai macam latar belakang etnis, gender, dan profesi yang turut terlibat di dalamnya. Beberapa sudah banyak dikenal publik, tetapi sebagian besar lainnya masih luput dari catatan sejarah utama.

Salah satunya adalah Radjamin Nasution, atau yang lebih dikenal sebagai Walikota Radjamin.

Lahir di Mandailing Natal pada 15 Agustus 1892, Radjamin Nasution tumbuh sebagai salah satu figur pribumi terpelajar yang memiliki kesadaran politik tajam. Perjalanan karier politiknya ditempa di parlemen Kota Surabaya (Dewan Kota) hingga terpilih mewakili Jawa Timur di parlemen pusat (Volksraad) dari Partai Parindra pada tahun 1938.

Posisi strategis ini menjadikannya memiliki peran double gardan—di satu sisi sebagai anggota senior (wethouder) dewan kota, dan di sisi lain sebagai wakil rakyat di Volksraad.

Karakter Radjamin dikenal sangat unik: berpendirian galak dan tegas terhadap kaum kolonial Belanda, namun sangat santun dan mengayomi rakyatnya.

Potret Radjamin Nasution. Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan RI

Karakter tegas dan integritasnya tersebut membuat militer Jepang mengangkatnya sebagai Walikota Surabaya (Shucho) pribumi pertama pada masa pendudukan. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno secara resmi menetapkan kembali Radjamin Nasution sebagai walikota incumbent. Pertimbangan utama Bung Karno adalah ketegasan tanpa kompromi yang dimiliki Radjamin kepada siapa pun dalam membela kedaulatan negara. Menjelang ketegangan dengan Sekutu, ia menegaskan loyalitas seluruh pegawai pemerintah kota kepada Republik Indonesia dan mengeluarkan berbagai kebijakan administratif penataan kota.

Ketika pertempuran dahsyat meletus pasca-pendaratan Sekutu pada awal November 1945, Walikota Radjamin memikul tanggung jawab ganda yang amat berat. Di satu sisi, ia memimpin jalannya pemerintahan kota di tempat pengungsian dan mengurus ribuan warga sipil yang menyingkir ke luar Surabaya. Markas pemerintahan kota terpaksa berpindah-pindah antara Mojokerto hingga Tulungagung. Namun di sisi lain, Radjamin tidak pernah benar-benar meninggalkan kota yang dipimpinnya.

Ia secara berkala mondar-mandir menembus garis depan pertempuran di Kota Surabaya demi menyalurkan bantuan logistik. Tak hanya itu, keahliannya sebagai seorang dokter ia sumbangsihkan secara langsung di medan perang. Radjamin merawat dan mengobati sendiri para pejuang yang terluka akibat tembakan dan pemboman Sekutu, sembari mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk perlengkapan pejuang di garis depan.

Ahmad Zaki Yamani, Ketua Begandring Soerabaia, menilai bahwa Walikota Radjamin adalah cermin sempurna dari kepemimpinan sipil yang totalitas di masa Revolusi.

“Peran Walikota Radjamin sangat luar biasa karena beliau melayani dua medan sekaligus: menjaga keberlangsungan pemerintahan sipil di pengungsian dan turun langsung sebagai dokter kemanusiaan di garis depan pertempuran,” ujarnya.

Walikota Radjamin mengembuskan napas terakhirnya di Surabaya pada 10 Februari 1957 dalam usia 64 tahun. Jasad pahlawan pamong dan dokter perang ini dimakamkan di TPU Rangkah, Surabaya.

Simak siapa saja sosok-sosok pejuang lainnya dalam artikel selanjutnya.

Biodata Singkat

  • Nama Lengkap: Radjamin Nasution (Walikota Radjamin)
  • Lahir: 15 Agustus 1892, Mandailing Natal
  • Wafat: 10 Februari 1957, Surabaya (Usia 64 tahun)
  • Peran 10 November 1945: Walikota Surabaya pada masa pertempuran; memimpin pemerintahan kota di pengungsian (Mojokerto–Tulungagung); dokter lapangan yang merawat pejuang terluka di garis depan; pengumpul logistik pakaian bekas dan karung goni bagi prajurit.
  • Makam: TPU Rangkah, Surabaya

 

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: