FFI, Piala Citra, dan Pelajaran dari Batavia

Penelusuran sejarah Surabaya di Museum Nasional Jakarta. foto:: begandring

  • Tanggal Terbit : 23/11/2022
  • Kategori : Aktivitas

Malam Penganugerahan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2022 telah usai. Penghargaan diserahkan di Plenary Hall, Jakarta Convenrion Centre (JCC), Jakarta, Selasa malam (22/11/2022).

Secara umum, Komite FFI mencatat ada 20 film dokumenter, termasuk film dokumenter panjang dan pendek, 30 film cerita pendek dan 20 film cerita panjang serta 15 karya kritik film tahun ini (2022). 

Mereka telah melalui tahap nominasi. Untuk 21 kategori ditentukan oleh 109 anggota Akademi Citra FFI 2022. Salah satunya karya film dokumenter pendek yang berjudul Koesno, Jati Diri Soekarno yang diproduksi secara kolaroratif oleh TVRI Jatim, Begandring Soerabaia, serta FIB Unair yang didukung Pemerintah Kota Surabaya.  Film Koesno masiuh 7 nominator dari 80 karya yang diseleksi dewan juri FFI 2022.

"Terpilihnya film Koesno menjadi salah satu nominasi FFI 2022 adalah bonus dan saya tidak menduga hal ini. Tujuan saya melalui film Koesno adalah upaya pelurusan sejarah bahwa Soekarno lahir di Surabaya" kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat dialog Ruang Publik di TVRI Jatim, beberapa hari lalu.

Film Koesno adalah satu dari 7 nominator Film Pendek Terbaik FFI 2022. Malam penganugerahan ini dihadiri oleh 20 orang pemain dan pendukung film Koesno yang berasal dari gabungan komunitas sejarah Begandring Soerabaia, Mojokerto Reenactor, Bangiler serta mahasiswa FIB Unair. 

Meski belum berhasil membawa pulang Piala Citra 2022, namun kehadiran karya bersama "Koesno" dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2022 bisa memberi pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga untuk bekal berkarya di masa depan. 

Hendra Agung, dari Reenactor Modjokerto, mengatakan, bisa menembus FFI dan masuk nominasi Piala Citra 2022 adalah pencapaian yang luar biasa. Kalau toh belum berhasil memenangkan Piala Citra bukanlah kegagalan dan kekalahan. 

"Tapi ini semua menjadi motivasi bagi kami untuk berbenah dan terus berkarya. Bagi kami kolaborasi bersama ini harus terus terjalin agar dapat menghasilkan karya bersama yang akan menjadi torehan sejarah yang bisa dibanggakan bersama," kata Hendra yang dalam keseharian adalah punggawa Carik (Sekretaris Desa) Gemekan, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. 

Budiono alias Reang Kajeng Jati dari Begandring, menaruh perhatian pada peradaban klasik Jawa mendapati sebuah Jamban besar terbuat dari batu andesit, yang benda itu mirip dengan perlengkapan peradaban moderen yang bernama bathtup (bak mandi).

Cak Karjo, Kurcarsono Prasetyo, dan Nanang Purwono. foto: begandring

 

"Sungguh sebuah karya peradaban masa lalu yang ternyata tercipta di era moderen," kagum Budiono. 

Sementara Andre Arisotya, kru kameraman TVRI berpendapat bahwa FFI adalah ajang yang benar benar baru. 

"Melalui FFI 2022 kami memetik pembelajaran dan pengalaman dalam hal produksi film, khususnya dokumenter. Meski belum berhasil memboyong piala, setidaknya saat ini kami lebih mengenal standart atau kualitas produksi yang ideal. Kedepan kami bertekad untuk berkarya lebih optimal," tegasnya. 

Sedangkan peoduser Koesno, Faisal Anwar, mengaku isecara teknis Koesno sudah cukup layak diadu dengan para nominator piala citra kategori dokumenter pendek. 

"Menurut saya, untuk mendapatkan penghargaan tertinggi perfilman Indonesia, tidak cukup hanya menyajikan informasi yang menghibur dan inspiratif. Tapi juga harus membawa dampak kepada penontonya. Dampak positif yang efektif, inspiratif, bahkan sampai menggerakkan penontonnya." aku Faisal. 

Ia menambahkan, film Koesno belum cukup kuat untuk itu, tapi masuk sebagai nominasi FFI saja adalah hal yang sangat luar biasa yang patut dijadikan pelajaran berharga. 

Khusnul Avifah, mahasiswi FIB Unair yang juga menjadi bagian dalam kolaborasi karya ini mengaku ada yang bisa dipetik dari pengalaman di Jakarta. 

"Di Jakarta saya belajar bahwa untuk menjadi yang terbaik tentunya membutuhkan proses yang panjang, belajar dari kegagalan untuk menjadi yang terbaik. Kegagalan tidak bisa menjadi faktor penghambat untuk terus belajar dan berkarya," katanya tentang nilai dari kepersertaan dalam kolaborasi pentahelix ini. 

Kukuh Yudha Karnanta, dosen FIB Unair yang juga peraih Piala Citra kategori Karya Kritik Film 2021, berkomentar, pengalaman bagi kelompok kolaboratif dari Surabaya dengan karya Koesno ini adalah pelajaran  tentang how to struggle (bagaimana harus berjuang). 

"Tahun ini kita memang belum mendapatkan apa yang kita idamkan bersama. Tapi kita tidak boleh menyesal untuk sesuatu yang telah benar benar kita perjuangkan. Penyesalan adalah mengidam-idamkan sesuatu, tapi takut memperjuangkannya habis-habisan", pesan Kukuh kepada tim Surabaya. 

Kukuh menambahkan bahwa pengalaman menghadiri event penghargaan tertinggi ajang perfilman nasional, berjumpa para seniman, sineas, dan bahkan menteri, akan mempertebal rasa percaya diri semua kru dalam menghadapi dan mengerjakan karya kreatif yang lebih besar ke depannya.

Rombongan Begandring Soerabaia sengaja menghadiri Anugerah Piala Citra 2022 dengan mengenakan busana pergerakan: berkain barik, berkas, berdasi dengan blangkon sebagai mahkota sebagai upaya memperkenalkan nilai nilai pergerakan dari kota Pahlawan Surabaya. 

"Busana ini sebagai simbol kesetaraan antara Bumiputera dan Eropa," jelas Kurcarsono Prasetua, ketua rombongan. 

Museum Nasional Jakarta yang bergaya klasikal dan kolonial. foto: begandring

 

Mencari Prasasti

Masih dalam rangka menggali sejarah kota Surabaya, Tim Begandring menyempatkan menjelajah Museum Nasional (Museum Gajah), Rabo pagi (23/11/2022). Secara khusus adalah mencari keberadaan Prasasti Canggu yang berupa lempeng tembaga bertulis dalam bahasa Jawa Kuna yang dibuat tahun 1358 M.

Prasasti ini dituliskan nama Surabaya untuk kali pertama, yang tertranskrip "Curabhaya". Dikabarkan bahwa Curabhaya adalah nama sebuah desa kecil di tepian sungai (naditira pradeca) yang dicatat oleh Raja Hayam Wuruk karena adanya jasa penambangan (anambangi). 

Dari fakta pertulisan itu menunjukkan bahwa di desa Curabaya sudah ada peradaban berupa permukiman dengan segala aktivtas masyarakatnya. Salah satu aktivitas itu adalah jasa penyeberangan yang menjadi sarana penting untuk menunjang kegiatan masyarakat, mulai dari kegiatan sosial, ekonomi, perhubungan, kebudayaan hingga ritual keagamaan. 

Prasasti Canggu (Trowulan I) adalah sumber perkabaran Surabaya kuno dan wujud bukti sejarah Surabaya. Karenanya prasasti ini penting. 

Dalam pelacakan di Museum Nasional, tepatnya pada ruang koleksi prasasti, baik yang koleksinya terbuat dari logam tembaga maupun dari batu andesit, tidak diketemukan Prasasti Canggu. Setalah bertanya dari satu petugas ke petugas Museum yang berdinas, akhirnya Begandring.com diarahkan menemui kurator atau humas Museum. 

Bertempat di lantai 7 gedung baru Museum, media ini bertemu pejabat humas, Yeni, yang menyarankan untuk bersurat kepada kepala Museum agar dengan landasan surat itu, akan dicarikan data dan sumber sebagaimana dicari. 

Berdasarkan sumber museumnasional.or.id bahwa hingga saat ini jumlah koleksi yang dikelola museum tidak kurang dari 140.000 artefak. Museum Nasional dalam kaitannya dengan warisan budaya adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa Indonesia, 

Pelacakan sumber sejarah berupa Prasasti Canggu (Trowulan I) hingga ke Museum Nasional ini dimaksudkan untuk mengudate informasi tentang keberadaan prasasti yang selama ini dikabarkan berada di Museum Nasional Jakarta. 

"Setidaknya, kami bisa menemukan nomor registrasi akan keberadaannya di Museum Nasional Jakarta dan bisa memotret bendanya bahwa prasasti ini masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta", pungkas Nanang Purwono yang membersamai rombongan Begandring Soerabaia ke Jakarta mulai 21-23 November 2022. (*)

Ditulis Oleh : Nanang Purwono

Terkait Aktivitas