Viaduk Kertajaya: Sepure Liwat Ndukur, Lur..

Viaduk Kertajaya: Sepure Liwat Ndukur, Lur..
begandring.com -

Ngene Rek Ceritane

Nek sampean liwat Jalan Sulawesi di kawasan Gubeng–Kertajaya, onok viaduk kereta api sing wis dadi menjadi tetenger ket zaman kolonial.

Dulu namanya Viaduct Celebes, mengikuti nama Jalan Celebes atau sekarang Jalan Sulawesi. Pembangunannya merupakan bagian dari upaya mengembangkan jaringan kereta api sekaligus membuka kawasan baru di Surabaya.

Ceritanya bermula ketika jalur kereta api Staatsspoorwegen (S.S.) melintas di kawasan tersebut. Jalur rel ini dianggap menjadi penghalang untuk menghubungkan kota lama dengan kawasan permukiman baru yang direncanakan di sebelah timurnya, Bagong-Oost atau Bagong Timur.

Lha terus yok opo solusine? Gudhuk Suroboyo nek gak duwe solusi.

Solusine tha? Sepur nang ndukur, montor nang ngisor. Rel keretanya dibuat di atas, sementara di bawah, kendaraan tetap bisa jalan lewat di bawahnya.

Mbois kan?

Pembangunan viaduk dikerjakan oleh Hollandsche Beton Maatschappij (H.B.M.). Berdasarkan pemberitaan Soerabaiasch Handelsblad, pekerjaan konstruksi berlangsung sejak 1940.

Pada 4 September 1940, pemancangan tiang pertama dilakukan. Sebanyak 78 tiang pancang, masing-masing sepanjang 18 meter, ditanam ke dalam tanah untuk menopang struktur viaduk. Viaduk ini sebenarnya terdiri atas dua struktur yang berdampingan, masing-masing menopang satu jalur rel.

 

Viaduk baru di ujung Jalan Celebes mendekati penyelesaian. Sumber: Soerabaiasch Handelsblad

Rel dirancang berada sekitar 6 meter di atas permukaan jalan, sementara ruang bebas di bawah viaduct mencapai sekitar 3,80 meter. Di antara struktur viaduk juga disiapkan ruang jalan yang cukup lebar, lengkap dengan trotoar.

Pekerjaan sempat mengalami hambatan teknis, tetapi pemancangan selesai pada 11 Oktober 1940. Setelah itu pembangunan berjalan relatif lancar hingga viaduk selesai.

Pada awal Maret 1941, lalu lintas kereta api mulai dialihkan melalui jalur baru tersebut.

Viaduct Celebes kemudian diserahterimakan pada 5 Maret 1941. Acara tersebut dihadiri berbagai pihak, mulai dari perwakilan pemerintah kota, S.S., arsitek, perusahaan konstruksi, hingga pengawas proyek.

Kereta api pertama melintasi bangunan tersebut. Sumber: Soerabaiasch Handelsblad

Dalam sambutan saat serah terima, viaduk dipandang sebagai bagian penting dari upaya membuka hubungan antara kawasan kota lama dan wilayah pengembangan baru.

Yang menarik, pembangunan ini juga memperlihatkan bahwa perkembangan kota tidak dikerjakan sendirian. Ada pemerintah, perusahaan kereta api, kontraktor, arsitek, insinyur, dan pihak pengembang yang bekerja bersama.

Bahkan dalam prosesnya terdapat kisah duka. Tuan De Jong, salah satu arsitek yang terlibat, meninggal sebelum rancangan proyeknya disetujui.

Ibrahim Baswedan, pengusaha Surabaya nan kaya raya berdarah Arab pemilik tanah di daerah yang dilewati viaduk itu, wafat sebelum sempat menyaksikan pemancangan tiang pertama.

Nek saiki yo opo kondisine?
Saat ini dalam kondisi baik namun Sebagian besar sisi tampaknya tertutup oleh iklan besar.

Penempatan tiang-tiang iklan ini tidak menyentuh pada struktur asli bangunan Viaduk, melainkan disembunyikan pada bentuk lengkung  ruang di depan kolom utama viaduk.

Posisi penempatan tiang reklame pada depan Viaduk Jalan Sulawesi/Kertajaya
Sumber: Googgle Street 2026

Viaduk Kertajaya ancen legendaris. Sing awale struktur beton untuk mengangkat jalur kereta, ia berubah menjadi tetenger kota, penanda bahwa Surabaya pernah berkembang dengan cara menaikkan rel agar dua bagian kota bisa tersambung dan transportasi publik terus berkembang.

Ngono lho Rek ceritane.

Sumber :
Soerabaiasch Handelsblad 26 september 1940
Soerabaiasch Handelblad 3 Maret 1941
De Indische Courant 4 Maret 1941
Soerabaisch Handelsblad 5 Maret 1941
Google StreetviewWoro-woro

Monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen. 😄

*) Penulis : Yayan Indrayana

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: