DIPLOMASI ALA SURABAYA #3

DIPLOMASI ALA SURABAYA #3
Oleh : Achmad Zaki Yamani ( Ketua Begandring Soerabaia )
begandring.com -

Menjelang pendaratan Sekutu di Surabaya, Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin atas nama Pemerintah Pusat Republik Indonesia memberikan instruksi untuk tidak menghalang-halangi kedatangan Sekutu yang akan menjalankan tugas sebagai berikut :

  1. Melindungi dan mengungsikan para tawanan perang dan kaum Interniran.
  2. Melucuti dan memulangkan tentara Jepang.
  3. Memelihara ketertiban dan keamanan umum.
Menteri Penerangan Mr. Amir Sjarifoeddin

Instruksi ini dapat dipahami oleh Pemerintah Jawa Timur dan Surabaya terutama para pejuang, akan tetapi adanya bukti kedatangan Mastiff Carbolic, peristiwa di Hotel Yamato dan kedatangan Captain Huiyer, membuat semua pihak harus waspada. Jika Sekutu datang dengan damai mengapa harus datang dengan kapal-kapal perang lengkap dengan persenjataan dan perlengkapan perangnya ?.

Menteri Luar Negeri Mr. Ahmad Soebardjo.NA.

Ada perbedan sikap antara pimpinan pusat dengan para pejuang yang berhadapan langsung dllapangan, Mr. Ahmad Subarjo Menteri Luar Negeri menyampaikan “Rakyat Indonesia harus insyaf, bahwa perjuangan kita  dalam fase sekarang ini ialah perjuangan diplomatik”, perjuangan diplomasi yang bersifat nasional lebih diprioritaskan dari pada jalan kekerasan.

Rakyat Surabaya mempertahankan setiap jengkal tanah dengan tekad “Lebih baik hancur dari pada dijajah kembali”, sedangkan pimpinan pusat dalam rangka strategi nasionalnya bersedia mengorbankan daerah untuk menukarnya dengan suatu keuntungan politik strategis, ini dilakukan seperti dengan Bandung dalam rangka peristiwa lautan apinya, Bandung dikosongkan atas intruksi Jakarta untuk kepentingan Sekutu, karena kurang lihai maka yang diuntungkan adalah Belanda. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada “How to win the Strunggle” di atas “How to win the Battle”.

Ilustrasi T.K.R laut.NA.

Namun apa yang disampaikan oleh Pemerintah Pusat berbanding terbalik dengan keadaan di Surabaya, seperti yang terjadi pada hari Rabu 24 Oktober 1945 dimaka utusan Sekutu dari seberang Modderlust mau berunding dengan mereka yang menempati Pangkalan Ujung. Utusan Sekutu yang dipimpin Kolonel Carwood disertai beberapa perwira dan tamtama, mereka ditemui oleh perwira T.K.R laut antara lain Oemar Said, J. Soelamet, Hermawan dan Nizam Zoekhman, dalam perundingan itu perwira-perwira T.K.R laut kita sudah mencurigai maksud Sekutu yang sebenarnya, karena mereka meminta beberapa hal yang tidak dapat diterima, antara lain :

  1. Bendera Merah-Putih yang ada di Modderlust diganti dengan bendera Inggris.
  2. Daerah sepanjang pantai selesar 200 meter harus dikosongkan guna pendaratan pasukan Sekutu.

Permintaan itu langsung mendapat jawaban sebagai berikut :

  1. Sang Merah-Putih hanya dapat diturunkan atas perintah Pemerintah Republik Indonesia.
  2. Tidak dapat mengosongkan daerah pantai, karena diperlukan sendiri.

Penolakan tadi menimbulkan amarah utusan Sekutu, mereka mengancam, bila dalam waktu lima menit bendera tidak diturunkan, maka akan dikeluarkan perintah penembakan meriam dari kapal perang.

Modderlust 1947.MLD.KITLV.152_003

Maka “Diplomasi ala Surabaya” ditegaskan oleh seorang pemuda bernama Kholil, segera ia membuka pakaian dan hanya menggunakan celana dalam serta sebilah pedang samurai ditangannya, Kholil langsung meloncat ke samping tiang bendera, ia berteriak “Jangan coba menjamah Sang Dwi Warna, selama hayatku dikandung badan”. Beberapa buah kapal perang di seberang Modderlust setelah tenggat waktu lima menit habis tampak jelas mengarahkan moncong meriamnya ke Modderlust, mereka siap menembak sesuai dengan perintah dan ancaman, melihat moncong-moncong meriam itu diarahkan ke Modderlust Oemar Said memerintahkan semua anggota T.K.R Laut untuk membuka seragam putihnya dan menirukan sikap Kholil berdiri memagari tiang bendera dengan membawa senjata apa saja, termasuk besi tua yang diperoleh ditempat itu. Melihat sikap tegas itu, utusan Sekutu mengundurkan diri dan meninggalkan Modderlust.

Dr. Soegiri.Album Perjuangan Kemerdekaan.

Pejabat Indonesia pertama yang dihubungi oleh Brigadier A.W.S Mallaby Komandan Brigade 49 Div Inf India ke 23 adalah Dokter Soegiri, beliau dikenal sebagai dokter Angkatan Laut, sikapnya menghormat masih seperti orang Jepang yaitu membungkukkan badan sambil sedikit berdesis “sstt”, oleh Sekutu beliau dianggap wakil B.K.R. Oleh Dokter Soegiri, Brigadier Mallaby diantar melalui jalan-jalan kota menuju ke Gubernuran, disana Brigadier Mallaby bertemu dengan Drg. Moestopo, Moeh Jasin, Bung Tomo.

Brigadier Mallaby dan Dr. Soegiri duduk di kap mobil

Brigadier Mallaby bertanya, “From whome we have to get permisssion to land?”

Drg. Moestopo menjawab, “From the Minister of Defence”

“Where can I meet yours Minister of Defence?” tanya Mallaby kemudian.

“Well, he sits before you”, jawab Drg. Moestopo.

Mendengar jawaban itu, Brigadier Mallaby langsung merubah ‘Mr” untuk Drg, Moestopo menjadi “Your Excellency”.

Beginilah revolusi dan “Diplomasi” cepat ala Surabaya itu.

Sesuai dengan janjinya, Drg. Moestopo selaku pimpinan T.K.R Jawa Timur merangkap “Menteri Pertahanan” akan berpidato di corong Radio Surabaya, maka tepat jam 20.00 24 Oktober 1945 apa yang ditunggu-tunggu rakyat Surabaya muncul, suaranya terdengar keras dan jelas :

Drg. Moestopo T.K.R Jawa Timur

“NICA!!,, NICA!!,, NICA!!,, saya minta jangan mendarat!!.

NICA!!,, NICA!!,, NICA!!,, disini Jenderal Moestopo!, jangan mendarat!, jangan mendarat!.

NICA!!,, NICA!!,, NICA!!,, kamu tahu aturan, jangan mendarat!.

Inggris!!, kamu orang pintar, sudah sekolah tinggi!, jangan mendarat!, Inggris!!, Inggris !!.

NICA!!,, NICA!!,, NICA!!”

Demikian seterusnya tanpa habis-habisnya mengudara sepanjang senja. Pidato ini didengar oleh rakyat yang menggerombol di tempat-tempat “Radio Bekupon” dengan perasaan tegang. Semua jadi tahu bahwa Inggris sudah berada di Tanjung Perak dan mau mendarat. Pendaratan itu tidak dikehendaki oleh semua pihak.

Radio Bekupon

Namun tidak dengan Inggris yang menanggapi pidato itu dengan serius, sebuah pemancar dari kapal perang mengirimkan balasan yang agak lucu, meskipun ini terdengar tidak lucu bagi orang Surabaya :

“We don’t take any order from anybody; we don’t have the command of a dental surgeon!” (“Kami tidak menerima perintah dari siappun; kami tidak dibawah komando seorang dokter gigi!”).

Bersambung -> #4

*) Penulis : Achmad Zaki Yamani

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: