Akar Perlawanan di Surabaya (Bagian 3): Ketika Klandestin Lama Pulang

Akar Perlawanan di Surabaya (Bagian 3): Ketika Klandestin Lama Pulang
begandring.com -

Oleh: Kuncarsono Prasetyo

Bagaimana sejarah gerakan bawah tanah di Surabaya bermula? Kita mundur ke belakang, 10 tahun sebelum revolusi Surabaya pecah. Inilah kisah gerakan bawa tanah fase pertama, sebelum Djohan Sjahroezah tiba.

Sebuah kapal uap berbendera Belanda merapat di Pelabuhan Tanjung Perak pada suatu siang pada 6 Juni 1935. Ratusan penumpang kulit putih mulai turun berderet melalui tangga kapal, mengalir dari geladak menuju dermaga. Di antara mereka tampak seorang lelaki Asia berusia sekitar 35 tahun. Tubuhnya gempal, wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat, dengan raut yang dingin. Ia mengikuti barisan penumpang sampai anak tangga terakhir, menjejak dermaga, lalu terus berjalan menjauhi kapal.

Djoko Soedjono yang sudah menunggu di dermaga segera menghampirinya. Keduanya saling melempar senyum lalu bersalaman. Lelaki yang baru datang itu tidak menyebut nama yang dikenal aparat kolonial. Kepada Djoko, ia memperkenalkan diri sebagai Po Ngah Sam.

Setelah pertemuan singkat itu, keduanya meninggalkan kerumunan di sekitar tangga kapal dan berjalan menuju sebuah sedan hitam yang menunggu di luar pelabuhan. Mereka masuk, pintu mobil ditutup, lalu sedan melaju ke selatan meninggalkan Tanjung Perak menuju pusat Surabaya.

Hampir tidak terdengar percakapan selama perjalanan. Djoko dan tamunya duduk dalam suasana kaku sementara sedan terus melaju di ruas jalan kembar yang lebar. Dari kawasan pelabuhan, mobil bergerak terus ke selatan. Kurang lebih 20 menit kemudian, mereka memasuki Jalan Tunjungan. Sedan tetap melaju sampai ke ujung jalan, ketika ruasnya mulai menyerong ke kiri. Lajunya diperlambat, mengikuti belokan, lalu menuju Simpang Hotel, voorheen Broekman, di Simpangstraat nomor 1.

Hotel Simpang. Sumber: KITLV

Djoko masuk ke lobi hotel bersama Po Ngah Sam. Pamoedji sudah menunggu di sana. Pertemuan berlangsung hangat. Ketiganya segera saling bersalaman. Sesaat kemudian Pamoedji meraih koper sang tamu. Mereka lalu meninggalkan ruang depan hotel dan berjalan bersama menuju sebuah kamar.

Pintu kamar kemudian dikunci dari dalam. Baru setelah mereka berada di balik pintu itulah lelaki yang sejak turun dari kapal menyembunyikan namanya membuka identitas sebenarnya. Namanya Moenawar Moesodo. Orang-orang yang mengenalnya lebih sering memanggilnya singkat: Moesso.

Potret Musso. Sumber: Dokumentasi Revolusi Indonesia

Hampir sembilan tahun lelaki itu meninggalkan Jawa. Sejak 1926, aparat kolonial memburunya. Tahun-tahun pelarian membuatnya berpindah dari satu negeri ke negeri lain: Singapura, Guangzhou di Tiongkok, Moskow, Vladivostok di Uni Soviet, Belgia, Prancis, hingga Belanda. Dari Belanda, jalan untuk kembali ke Hindia disiapkan melalui jaringan Agen Komunis Internasional, Komintern, yang ditangani oleh Danil Goulooze.

Menjelang petang, Pamoedji keluar dari hotel untuk menjemput seorang perempuan di rumahnya di Kampung Tembok Dukuh, sekitar 1,8 kilometer dari Hotel Simpang. Namanya Raden Ayu Siti Larang Djojopanatas. Tidak lama setelah tiba di hotel, Moesso memang sengaja meminta Pamoedji memanggil perempuan berusia 34 tahun itu.

Siti Larang segera bergegas setelah diberi tahu bahwa seseorang ingin menemuinya. Pamoedji tidak menerangkan siapa orang itu. Ia hanya bilang, kenalan lama yang baru tiba dari luar negeri. Keduanya lantas berangkat ke Hotel Simpang. Siti Larang tampak mengenakan setelan rok, bukan kebaya dan kain seperti yang lazim dipakai kebanyakan perempuan Jawa saat itu.

Perempuan yang sedang dijemput itu adalah putri Raden Mas Wiro Djojopanatas, seorang priyayi radikal dari Pura Mangkunegaran Surakarta. Pada 1918, Djojopanatas memimpin Toenggal Boedi dan Djowo Dipo, dua kelompok radikal anti-feodal di lingkaran Sarekat Islam (SI).

Sejak remaja, ayahnya sudah meminta Siti Larang memakai rok menggantikan kain dan memperbolehkannya bersepeda. Sikap egaliter itu sejalan dengan kegiatan politik Djojopanatas. Siti Larang kemudian mengikuti jalan yang sama. Ia menjadi anggota SI Solo, lalu menikah dengan Sosrokardono, yang pada 1919 menjabat Sekretaris Centrale Sarekat Islam (CSI), pimpinan pusat SI. Pada tahun yang sama, Siti Larang diboyong suaminya ke Surabaya. Keduanya menyewa rumah di Plampitan. Kampung yang juga ditinggali dua pendiri SI, Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto dan Raden Tjokrosoedarmo.

***

Sepanjang perjalanan menuju hotel, Siti Larang masih berpikir keras tentang siapa orang yang ingin menemuinya. Namun, begitu memasuki kamar, ia seketika tertegun. Seorang lelaki duduk di hadapannya sambil membaca koran. Melihat Siti Larang datang, lelaki itu segera melipat koran di tangannya.

Moesso.

Wajah itu sudah lama membekas dalam ingatannya. Siti Larang bahkan sempat mengira lelaki itu telah meninggal dunia atau dipenjara di luar negeri, karena bertahun-tahun tidak lagi mendengar kabarnya. Ia mengenal Moesso jauh sebelum Pamoedji mengenalnya, sejak mereka sama-sama berada di lingkungan CSI antara 1919 dan 1925.

Suaminya, Sosrokardono, mengenal Moesso jauh lebih dekat. Putra Bupati Sidoarjo itu bahkan pernah ditahan bersama Moesso pada 10 September 1920 setelah terseret dalam perkara pemberontakan petani SI di Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut. Sosrokardono pernah menjabat komisaris CSI ketika Oemar Said menjadi presiden CSI sejak 1915. Pada masa yang sama, Moesso dan Semaoen juga aktif di organisasi tersebut.

Sejak 1917, Sosrokardono menjadi Sekretaris CSI. Orang nomor dia di bawah Oemar Said. Dia bertugas mengorganisir kelompok buruh pribumi. Peran puncaknya memimpin konfederasi serikat butuh pertama di Hindia Belanda.

Setelah keluar dari penjara pada 1923, Sosrokardono sempat diperebutkan antara orang-orang SI dan komunis. Namun  dia tidak memilih keduanya. Setelah pemerintah kolonial membubarkan PKI pada 1927, Sosrokardono dan Siti Larang memilih jalan politik lain. Pada 1929, keduanya aktif di Indonesische Studieclub, perkumpulan kaum pergerakan yang dipimpin dr. Soetomo bersama sejumlah aktivis Surabaya, termasuk salah seorang pendiri SI, R. Tjokrosoedarmo.

Pertama Kali Misi Antifasis Dikenalkan

Kepada Moesso, Siti Larang banyak bercerita tentang kegiatan politiknya bersama sang suami setelah pembubaran PKI. Ia juga mengaku masih sering bertemu dengan para simpatisan PKI, meski mereka kini tidak lagi mempunyai kegiatan organisasi.

Moesso kemudian mengatakan ingin bertemu dengan Sosrokardono. Ia berharap sahabat lamanya itu dapat membantunya menghidupkan kembali PKI yang telah dibubarkan. Itulah satu-satunya misi yang membawanya kembali ke Surabaya. Moesso lalu menjelaskan arah gerakan yang hendak dibangunnya. Ia datang membawa garis baru Komintern, yaitu membangun kembali inti komunis, tetapi sekaligus tidak memutus hubungan dengan kaum nasionalis dan organisasi legal.

Ia ingin memulainya dari orang-orang lama PKI di Surabaya, menghimpun mereka kembali, lalu mulai menjalin kerja sama dengan orang-orang dari organisasi lain, lantas menyatukannya dalam bentuk front demokrasi antifasis.

Menurut Moesso, kaum komunis di berbagai negeri mulai mendorong persatuan yang lebih luas untuk menghadapi bangkitnya Nazi Jerman, fasis Italia, serta ekspansi militer Jepang. Front antifasis semacam itu hendak menghimpun komunis, sosialis, nasionalis, kaum demokrat, bahkan kelompok-kelompok yang sebelumnya saling berseberangan ke dalam satu barisan.

Moesso juga memperkirakan bahwa Jepang suatu hari akan menyerbu Hindia Belanda. Dalam situasi seperti itu, katanya, Belanda untuk sementara dapat diperlakukan sebagai sekutu dalam menghadapi Jepang. Bagi Siti Larang, jalan pikiran itu terdengar masuk akal.

Sayangnya, Sosrokardono sudah meninggal dunia pada 31 Mei 1935, atau 15 hari sebelum kedatangan Moesso. Ia meninggal pada usia 44 tahun dan kemudian dimakamkan di Sidoarjo. Moesso baru mendengar kabar sahabatnya itu justru dari mulut Siti Larang. Rencana yang semula hendak dibicarakan dan dibangun bersama Sosokardono akhirnya harus dirancang ulang melalui sebuah lingkaran rahasia. [bersambung]

*) Penulis : Kuncarsono Prasetyo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: