Aktivitas Begandring Soerabaia dalam menelusuri, mendokumentasikan, dan memopulerkan sejarah lokal mendapat pengakuan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi Jawa Timur.
Komunitas sejarah asal Surabaya tersebut menerima penghargaan sebagai Komunitas Pelestari Memori Lokal dalam rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan Tahun 2026.
Penghargaan itu diserahkan pada Rabu, 30 September 2026, di Ruang Graha Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Jalan Menur Pumpungan Nomor 32, Surabaya. Kegiatan tersebut mengusung tema “Ayo Kembali ke Perpustakaan!”.
Dalam sertifikat bernomor 000.5/1.1069/119.5/2026, Begandring Soerabaia mendapat pengakuan atas peran aktif dan dedikasinya dalam menjaga kelestarian memori lokal serta mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya merawat nilai-nilai sejarah bangsa.
Bagi Begandring Soerabaia, penghargaan tersebut menjadi pengingat atas tanggung jawab komunitas dalam menjaga sejarah lokal. Aktivitas mereka tidak hanya mencakup pencarian dan pengumpulan data, tetapi juga verifikasi, penafsiran, dokumentasi, publikasi, serta penyampaian pengetahuan sejarah kepada masyarakat.
Ketua Begandring Soerabaia, Ahmad Zaki Yamani, menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan komunitas yang telah berkontribusi dalam pencapaian tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa penghargaan itu membawa tanggung jawab untuk menghadapi tantangan ke depan.
“Apresiasi tertinggi atas kerja cerdas dan dedikasi rekan-rekan Begandring Soerabaia dalam pencapaian ini, namun penghargaan ini adalah sebuah amanah agar tetap tegak dan kuat dalam menghadapi tantangan ke depan.”
Berbagai kegiatan Begandring Soerabaia mempertemukan arsip, sejarah, dan masyarakat melalui edukasi, diskusi, publikasi, serta kegiatan sejarah populer. Pendekatan berbasis data menjadi bagian penting dalam menghadirkan kembali memori lokal agar dapat dipelajari dan dirawat lintas generasi.

Kontribusi Begandring Soerabaia antara lain terlihat dalam keterlibatannya sebagai tim penyusun untuk sejumlah kegiatan pengusulan Memori Kolektif Bangsa (MKB), termasuk Tugu Pahlawan dan Makam Eropa Peneleh.
Bersama tim Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, kedua objek tersebut berhasil memperoleh pengakuan sebagai Memori Kolektif Bangsa dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 2023 dan 2024.
Kiprah komunitas ini juga mencakup keterlibatan dalam kegiatan Hari Juang Polri dan pementasan teatrikal Kereta Api Terakhir bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Di bidang produksi audiovisual, Begandring Soerabaia turut terlibat dalam pembuatan film Koesno: Jati Diri Soekarno dan Soera Ing Baja, serta sejumlah dokudrama yang diproduksi bersama TVRI Jawa Timur.
Selain itu, komunitas tersebut menjadi bagian dari tim penulis buku Bung Karno Arek Suroboyo, yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya pada Juni 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan beragam cara yang ditempuh untuk menyampaikan sejarah kepada masyarakat, mulai dari pengarsipan dan penulisan buku hingga film, pertunjukan, dan kegiatan edukasi publik.
Penghargaan yang diterima Begandring Soerabaia juga mendapat tanggapan dari kalangan akademisi. Dr. Samidi, dosen Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, menilai penghargaan itu layak diberikan kepada komunitas yang konsisten memperhatikan peninggalan sejarah.
Menurutnya, kinerja Begandring Soerabaia dapat menjadi teladan bagi komunitas lain, baik di Surabaya maupun di luar kota. Ia juga berharap jangkauan kerja komunitas tersebut semakin luas melalui hubungan dengan kelompok-kelompok pelestari sejarah di daerah lain.
“Penghargaan itu sudah selayaknya diterima oleh komunitas yang secara konsisten memperhatikan peninggalan sejarah. Komunitas-komunitas lain baik di dalam maupun di luar Surabaya dapat meneladani kinerja Begandring Soerabaia yang berkontribusi pada memori lokal. Harapannya, Begandring tidak hanya fokus di Kota Surabaya, tetapi juga membangun relasi dengan komunitas-komunitas di luar Kota Surabaya.”
Penghargaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur tersebut menambah pengakuan terhadap upaya pelestarian memori lokal.
Bagi komunitas sejarah, pekerjaan itu tidak berhenti pada upaya menyimpan catatan masa lalu, tetapi juga memastikan pengetahuan sejarah tetap dapat diakses, dipahami, dan diwariskan kepada masyarakat.