Menelisik Gresik: Diskusi Jurnalistik Asyik di UISI

Kukuh Yudha Karnanta, dosen sekaligus Koordinator Pencapaian Sustainable Development Goals Fakultas (SDGs) Ilmu Budaya Unair dan Ketua Begandring Soerabaia Nanang Purwono berbagi pengalaman jurnalistik dan produksi vlog kepada mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Sabtu (26/3/2022).

Kegiatan itu digelar tepat di jantung kompleks pabrik Semen Gresik. Pelatihan diikuti tim mahasiswa Office International Affairs (OIA). Materinya adalah produksi video yang bertemakan UISI dan lingkungannya.

“Awalnya ini katakanlah semacam reuni. Dulu, saya mengajar lama juga di UISI. Nah, sekarang diajak kolaborasi lagi di pelatihan jurnalistik. Terus saya terpikir, kenapa tidak untuk melibatkan komunitas yang memang punya orang profesional dan berpengalaman di bidangnya. Saya terpikir ngajak Pak Nanang sebagai tandem, yang sudah berpengalaman puluhan tahun di industri media televisi nasional dan punya dedikasi di aktivisme sejarah,” ujar Kukuh.

Pria yang juga dikenal sebagai penulis dan kritikus film itu mengatakan, potensi keunikan budaya dan sejarah menjadi daya tarik komunitas akademik global.

foto: begandring

 

“Sudah banyak studi mengatakan, keputusan seseorang memilih kampus tidak semata-mata karena keunggulan akademik. Reputasi akademik tentu mutlak penting. Tapi ada pertimbangan-pertimbangan lain yang sama penting, seperti apakah kampus tersebut punya kekhasan sejarah dan budaya, jejaring dengan komunitas dan warga, eco-friendly, dan lainnya,” jelas Kukuh.

Gresik dikenal sebagai kota industri sekaligus Kota Santri. Banyak peninggalan peradaban Islam di sana. Hal tersebut tentu dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk segmen mancanegara.

Nanang mengatakan, lingkungan kampus UISI sangat unik, baik secara arsitektural maupun aspek historisnya. Silo-silo ini bangunan cagar budaya, punya sejarah panjang sebagai salah satu industri semen terbesar dan terpenting di Indonesia.

Baca Juga  Nilai Pembauran Budaya Pada Arsitektur Bangunan di Surabaya

“Saya lihat gaya Art Deco, jengki, berpadu dengan interior industrial. Sangat menarik untuk tidak hanya dijadikan setting tapi juga konten untuk promosi kampus,” ujar Nanang.

Sesi pelatihan berjalan dengan gayeng dan seru. Dengan metode project based learning dan mentoring per kelompok, mahasiswa menyusun perencanaan produksi sesuai ide konten masing-masing. Selanjutnya, mereka mempraktikkan apa yang dipersiapkannya.

“Secara spontanitas saya memberikan contoh berbicara di depan kamera atau piece to camera sebagai seorang host atau vlogger. Pak Kukuh sebagai kamerawan,” ujar Nanang.

foto: begandring

 

Apabila dalam sesi teori peserta sudah medapatkan tips dan cara cara bicara di depan kamera, di sesi praktik Nanang dan Kukuh memberi contoh praktis. Mulai penajaman ide, cara berbicara, hingga angle dan komposisi.

“Saya kasih contoh nge-host dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Improve tanpa teks. Yang kami sampaikan dalam teori dapat dibuktikan dalam karya nyata. Alhamdulillah, peserta mengapresiasi,” lanjut Nanang.

Mahasiswa pun sangat antusias mengikuti acara selama hampir 4 jam itu. “Wah, seru Pak. Sering-sering Pak model pelatihan seperti ini,” ujar seorang peserta.

Sebagai komunitas sejarah dan budaya, Begandring memang berupaya untuk terus inklusif dan adaptif pada perkembangan zaman. Kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk kampus dilakukan demi kebaikan bersama. (*)

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x