Gedung Pers Tunjungan: Dari Rumah Tinggal sampai Monumen

Gedung Pers Tunjungan: Dari Rumah Tinggal sampai Monumen
Oleh : Yayan Indrayana
begandring.com -

Ngene Rek Ceritane

Nek sampean liwat puter enggok-enggokan di pojok Jalan Tunjungan ngarepe Hotel Majapahit ke arah Jalan Embong Malang, ada sebuah gedung yang menyimpan cerita panjang tentang perubahan wajah Surabaya. Saiki jenenge Gedung Monumen Pers. Bangunan ini ternyata sudah berkali-kali berganti fungsi dan rupa. Dari rumah tinggal, toko serba ada, toko mobil, toko kelontong, klub, sampai kantor berita. Wes, lengkap rek!

Pada 1800-an, bangunan ini masih berupa rumah tinggal biasa. Menjelang akhir abad ke-19, fungsinya berubah menjadi toko serba ada bernama Simpangsche Bazaar. Nama toko tersebut tampak jelas pada bagian gevel atau muka bangunan yang menghadap ke pojok pertemuan jalan. Foto-foto lama juga memperlihatkan bangunan di sebelahnya yang bernama Bierhal.

Gedung Monumen Pers pada tahun 1900 yang masih berupa toko serba ada bernama
Simpangsche Bazaar. Sumber: KITLV

Memasuki 1904, Simpangsche Bazaar direnovasi. Bentuk bangunan dibuat lebih mengikuti langgam arsitektur yang sedang berkembang pada masa itu. Beberapa tahun kemudian, sekitar dekade 1920-an, bangunan tersebut berganti fungsi menjadi kantor sekaligus toko mobil bernama De Fikkert Colonial Motor Car Co.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek Cor de Graaff, dengan ciri yang menonjol pada bentuk atap dan ornamen di bagian depan.

Berubah jadi toko mobil “De Fikkert Colonial Motor Car.Co”. Sumber: Tropen Museum

Belum selesai sampai di situ.

Pada 1925, bekas toko mobil tersebut kembali berganti fungsi menjadi Toko NAM.

Toko ini mengalami masa kejayaan antara 1925–1935 dan berkembang cukup pesat. Karena bangunan lama sudah tidak memadai, Toko NAM akhirnya pindah ke seberang jalan, di pojok Jalan Embong Malang. Pada 28 Oktober 1935, toko tersebut menempati lokasi baru dengan nama NV Handels Maatschappij Toko Nam, yang bergerak dalam perdagangan barang-barang kelontong.

 

Foto taun 1930, berubah jadi Toko Nam yang legendaris. Sumber: Tropen Museum

Bangunan lama kemudian mengalami perubahan besar. Pada 1938, gedung eks Toko NAM dirombak total dan tampil dengan langgam Art Deco. Setelah renovasi, bangunan ini digunakan sebagai Piccolo Club, sebelum kemudian ditempati Toko Kwang pada sekitar 1945.

Toko Kwang, tahun 1950. Sumber: Harrison Forman

Nah iki bagian paling pentinge, Rek.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, tepatnya 1 September 1945, gedung tersebut digunakan sebagai kantor Kantor Berita Antara.

Dari tempat inilah berita tentang kemerdekaan Indonesia dan kedadean-kedadean sakwise di Surabaya turut disebarluaskan ke berbagai penjuru.

Di tengah situasi revolusi kemerdekaan, siji gedung nang jantunge kota Suroboyo berubah menjadi salah satu titik penting penyebaran informasi.

Jejak itulah yang kemudian membuat bangunan ini memiliki nilai sejarah khusus. Pemerintah Kota Surabaya menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan narasi Gedung Monumen Pers Perjuangan Surabaya.

Prejengan saat ini, jadi Monumen Pers. Sumber: Istimewa

Jadi, kalau sampean lewat Tunjungan, ojo cuma dipenthelengi tok gedung-gedung kawake. Ngertio, ngono iku onok cerita dowo bab perdagangan, otomotif, hiburan, dan pers—semuanya pernah numpang sejarah di satu tempat iku.

Ngono lho rek, ceritane..

Woro-woro: monggo tulisan ini dikutip, dibagikan, dan digunakan gawe opo ae, dengan tetap mencantumkan sumber. Nek sampean ngeblat tulisane gak atek nyebut sumber lan penulise, ati-ati… udunen.😄

*) Penulis : Yayan Indrayana

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Spam check: